TEKNOLOGI REPRODUKSI CARA PENGKLONAAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 07 Februari 2012

TEKNOLOGI REPRODUKSI CARA PENGKLONAAN

07.00

Pengklonaan atau cloning adalah proses untuk menghasilkan keturunan yang identik dengan induknya secara aseksual. Proses ini sebenarnya sudah lazim dilakukan dimasyarakat. Contoh paling sederhanadari pengklonaan adalah setek yang sering dilakukan untuk perbanyakan tanaman singkong kultur jaringan yang telah kita bicarakan sebenarnya juga merupakan salah satu bentuk pengkonaan. Kultur jaringan mengambil begian dari induk yang kemudian akan ditumbuhkan menjadi individu baru yang sama persis dengan individunya. Jadi, sesungguhnya pengklonaan sudah lama dikenal untuk perbanyakan tanaman.

Pengkonaan untuk perbanyakan
Setelah berhasil menumbuhkan individu baru tanaman dari jaringan, dilakukan percobaan untuk menghasilkan individu baru tanaman dari satu sel. Percobaan ini berhasil dilakukan pada tahun 1950 –an dengan menghasilkan satu tanaman wortel dari satu sel akar wortel yang merupakan sel somatik. Keberhasilan pada tumbuhan ini mendorong para ilmuan untuk melakukan percobaan yang sama pada sel hewan. Hal ini tidak mudah karena kemampuan totipotensi sel hewan jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan sel tanaman. Ian Wilmut dan Keith Cambell, dua peneliti dari institut Roslin Skotlandia, berhasil melakukan klona pada domba. Pada tanggal 5 Juli 1996 lahir seekor domba betina hasil pengklonaan yang diberi nama dolly.
Pengklonaan dilakukan dengan menyiapkan sel telur yang sudah diambil intinya lalu disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh, hasilnya ditanam di dalam rahim seperti halnya embrio bayi tabung. Pada percobaan yang mereka lakukan, Wilmut dan Campbell dapat meningkatkan totipotensi sel – sel kelenjar mamae domba dengan menggunakan sitoplasma sel telur. Hasilnya adalah sel yang mampu membentuk satu individu lengkap yang identik dengan induknya.
Setelah Dolly, kemudian menyusul berbagai hewan menjadi bahan percobaan dalam proses pengklonaan. Kucing pertama diberi nama CC. Baru – baru ini para ilmuwan telah melakukan berbagai percobaan untuk mengklona kera.
Sampai saat ini pengklonaan baru efektif diterapkan pada perbanyakan tanaman. Di masa depan, mengklonaan sangat mungkin dilakukan pada hewan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Pengklonaan untuk terapi
Selain untuk perbanyakan, pengklonaan juga telah diujicobakan untuk terapi atau pengobatan. Misalnya, pada penderita diabetes karena kekurangan insulin akibatnya rusaknya rusak sel – sel pankreas. Sel – sel yang baru yang akan menggantikan sel rusak dapat diperoleh dari pengklonaan. Pengklonaan ini dapat dilakukan dengan cara yang mirip dengan pengklonaan Dolly.
Dolly bukanlah domba klona yang pertama. Megan dan Morag adalah domba klona pertama yang berasal dari embrio yang sama. Artinya yang satu adalah klona dari yang lain. Dolly berbeda dari Megan dan Morag karena Dolly merupakan klona domba yang sudah dewasa. Meskipun kelahiran Dolly dianggap sebagai kesuksesanbesar dibidang bioteknologi dan teknologi reproduksi, Dolly ternyata mengidap berbagai penyakit seperti layaknya domba lanjut usia ketika baru beranjak dewasa. Dolly terpaksa disuntik mati karena beratnya penyakit yang dideritanya ketika baru berusia 6 tahun, setelah dari usia domba biasa.
Pada pengklonaan ini, sel telur diambil dari orang donor wanita sedangkan sel somatiknya berasal dari resipien. Tujuan penggunaan sel somatik dari resipien adalah untuk menghindari terjadinya penolakan oleh tubuh bila kelak sel – sel tersebut dipindahkan (ditransplantasikan) ke dalam tubuh resipien.
Sel telur yang sudah digabungkan (difusikan) dengan sel somatik itu kemudian dibiarkan berkembang hingga mencapai tahap blastosis. Pada tahap inilah kemudian sel – sel induk atau stem cells akan diambil dan disuntikkan ke dalam jaringan pankreas yang rusak. Sel – sel baru ini kemudian akan berdiferensiasi menjadi sel pankreas baru.
Penelitian ini masih menjadi perdebatan karena setelah pengambilan sel – sel tersebut, blastosis yang seharusnya dapat mendukung penelitian ini karena menjanjikan pengobatan bagi banyak penyakit akibat kerusakan jaringan, seperti leukemia dan kelumpuhan saraf.


Sumber: Buku Biologi. Sumarwan. Sumartini, Kusmayadi.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer