TEORI – TEORI KLASIK PSIKOLOGI MENGENAI EMOSI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 08 Agustus 2014

TEORI – TEORI KLASIK PSIKOLOGI MENGENAI EMOSI

Kumpulan MateriKetika kita berpikir tentang emosi, satu dua pemikiran biasanya muncul dalam pemikiran kita. Pertama mengenai pengalaman emosi yang merupakan perasaan subyektif, inner feeling, dalam waktu cukup lama (state). Pemikiran kedua yang muncul umumnya mengenai bagaimana emosi diekspresikan. Dan dalam kenyataan, dua aspek emosi inilah yang diperkenalkan kepada mahasiswa psikologi dalam kajian mengenai emosi. Pertama, fokus pada pengalaman (Experience) atau perasaan (feeling) dari emosi – bagaimana suatu emosi muncul. Kedua, focus pada ekspresi (Expression) atau penampilan (display) dari emosi bagaimana pengalaman ini ditampilkan.

Ada beberapa teori besar mengenai pengalaman emosi. Pertama kali adalah James/Lange Theory. Teori ini menyatakan bahwa emosi merupakan hasil dari sebuah persepsi physiologis yang terbangkitkan otomatis (physiological autonomic arousal) dan perilaku tampak. Ketika kita melihat beruang lalu lari; interprestasi kita terhadap perilaku lari kita (nafas yang cepat, degup jantung, dan sebagainya) menghasilkan pengalaman takut.

Sangat berlawanan, Cannon/Bard Theory berpendapat bahwa autonomic arousal terlalu lambat untuk menghitung dan menjelaskan perubahan – perubahan dalam pengalaman emosi. Pengalaman kesadaran emosi adalah hasil dari stimulasi langsung pusat otak di korteks.

Scahter/Singer Theory lebih focus pada peran interpretasi kognitif. Teori ini berpendapat bahwa pengalaman emosi bergabung pada interpretasi seseorang mengenai lingkungan dimana emosi itu dibangkitkan. Merujuk pada teori ini, emosi tidak dibedakan secara physiologis. Sebaliknya, apa yang penting dalam proses yang menghasilkan pengalaman emosi adalah bagaimana seseorang menginterprestasikan peristiwa – peristiwa disekitar mereka. Emosi adalah label dari perilaku atau peristiwa internal individu yang terbangkitkan pada situasi tersebut (Masumoto, 1993).

Selanjutnya teori – teori mengenai penampilan emosi diantaranya adalah dari Ekman, Izzard, Tomkins, dan Plutchik. Teori dari Tomkins misalnya, menyakini bahwa emosi adalah bentuk adaptasi dari evolusi manusia, dan karenanya ekspresi emosi adalah merupakan bawaan biologis serta universal bagi seluruh manusai dari manapun budaya dan etnisnya. Sedangkan penelitian yang dilakukan Izzard (1971) dan Ekman (1972) telah menunjukkan enam ekspresi emosi pada muka yang universal, yaitu marah, jijik, takut, bahadia, sedih, dan gembira.

Sedangkan perbedaan – perbedaan dari teori – teori ini, ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai kesamaan diantara mereka dalam melihat emosi. Semua melihat peran penting dari pengalaman subyektif emosi – One’s Inner Fellings. Teori dari James/Lange, Cannon /Bard, maupun scachter/Singer, ketiganya mencoba menjelaskan pengalaman subyektif ini – kondisi internal (Inner state) yang disebut emosi. Begitupun dengan teori evolusi yang mendasarkan pada peran penting dari inner feelings, ekspresi emosi adalah penampakan luar dari pengalaman internal (inner experience) tersebut.

Semua teori klasik psikologi di atas dibangun dalam budaya Amerika. Sebuah budaya yang bila melihat penelitian Hofstede (lihat bab 1) memiliki tingkat individualitas yang paling tinggi, sehingga sangat mungkin interpretasi emosi sebagai suatu pengalaman yang sifatnya subyektif ansich dapat terjadi. Menarik disimak adalah bagaimana konsep emosi dari budaya – budaya yang cenderung berkarakter kolektif.




Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 49 – 50)

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer