GOFFMAN DAN PRINSIP DRAMATURGI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 29 Februari 2012

GOFFMAN DAN PRINSIP DRAMATURGI

all the world's stage and the men and women merely players” Shakespeare (Karp dan Yoeis, 1979:76)

salah seorangahli sosiologi masa kini yang memberikan sumbangan penting terhadap kajian ialah Goffman. Ia menggunakan prinsip yang dinamakan dramaturgi (dramaturgy), yang oleh Margaret Poloma didefinisikan sebagai “pendekatan yang menggunakan bahasa dan khayalan teater untuk menggambarkan fakta subjektif dan objektif dari interaksi sosial” (1979:271), diterjemahkan penulis). Usaha Goffaman untuk mempelajari interaksi dengan memakai bahasa san khayalan teater ini agaknya diilhami oleh pendapat Sheakespeare bahwa dunia merupakan suatu pentas dan semua laki-laki dan perempuan merupakan pemain.

Penggunaan sudut pandangan teater dan prinsip dramaturgi kita jumpai dalam buku Goffman: The Presentation of Self in Everyday Life (1959). Goffman memulai uraiannya dengan menyatakan bahwa individu yang berjumpa orang lain akan mencari informasi mengenai orang yang dijumpainya atau menggunakan informasi yang telah dimilikinya, antara lain dengan tujuan memanfaatkan informasi tersebut untuk mendefinisikan situasi (1959:1).
 
menurut Goffman dalam suatu perjuangan masing-masing pihak secara sengaja maupun tidak sengaja membuat pernyataan (espression) pihak lain memperoleh kesan (impression). Goffman membedakan dua macam pernyataan, pernyataan yang diberikan (expression given), dan pernyataan yang dimaksudkan untuk memberikan informasi sesuai dengan apa yang lazimnya berlaku. Pernyataan yang terlepas atau dilepaskan, dipihak lain, mengandung informasi yang menurut orang lain memperlihatkan ciri si pembuat pernyataan.

Kita tentu melihat orang yang mengucapkan terima kasih dengan wajah masam. Ucapan terima kasih merupakan pernyataan yang diberikan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku; namun wajah masam merupakan pernyataan yang diberikan informasi mengenai perasaan sebenarnya si pembuat pernyataan. Pernyataan yang diberikan dan yang dilepaskan dengan sendirinya dapat saling mendukung, misalnya bila seorang menyatakan belasungkawa sambil berwajah atau menitik beratkan air mata.

Telah kita lihat dalam suatu perjumpaan masing-masing pihak berusaha mendefinisikan situasi. Menurut Goffman dalam proses ini masing-masing pihak akan berusaha mengenai perilaku orang lain dengan jalan memberikan pernyataan yang dapat menghasilkan kesan yang diinginkan. Usaha mempengaruhi kesan orang ini dinamakannya pengaturan kesan (impression management). Dalam proses ini si pembuat pernyataan dapat memanipulasi pernyataan yang diberikan maupun mernyataan yang terlepas. Dalam kasus pernyataan belasungkawa tersebut di atas, misalnya, mungkin saja pernyataan belasungkawa maupun air mata bukan merupakan ikhlas melainkan dibuat-buat untuk menghasilkan kesan yang dikehendaki.

Penggunaan bahasa dab akhayalan teater untuk menggambarkan kenyataan sosial terlihat dari konsep yang dipakai Goffman untuk menggambarkan situasi perjumpaan. Kegiatan seorang untuk mempengaruhi peserta lain dalam suatu interaksi atau perjumpaan (encounter), misalnya, disebutnya “penampilan” (performance). Tempat suatu kegiatan berlangsung secara teratur yang dikelilingi hambatan terhadap persepsi dinamakan social establishment. Tempat penyajian penampilan disebut “kawasan depan “ (front region); disampingitu terdapat pula suatu “kawasan balakang” (back region) atau “panggung belakang” (backstage), tempat pe-nampilan di kawasan depan dipersiapkan dan kesan yang disajikan melalui penampilan dibantah secara sadar melalui tindakan yang tidak sepadan penampilan di kawasan depan.

Penampilan untuk situasi dapat disajikan oleh seorang individu, tetapi dapat pula disajikan oleh beberapa orang selaku “tim” (team of performance). Penampilan individu atau tim disaksikan oleh suatu “khalayak” (audience); orang yang berada diluar ruang sidang merupakan “orang luar” (audience). Dikala menyajikan penampilan dikawasan depan, tim berusaha menjaga solidaritas dan menutupi kesalahan anggota tim. Dalam interaksi para pelaku berusaha menonjolkan kesepakatan dan membatasi pertentangan.

Kerangka pemikiran Goffman terlalu canggih daan rinci untuk dapat disajikan dalam suatu ringkasan pendek sehingga tujuan pernyataan penyajianini semata-mata hanyalah untuk memberikan gambaran sangat umum. Namun diharapkan bahwa dari pembahasan ini anda mulai dapat memperoleh suatu gambaran, meskipun sangat terbatas mengenai pendekatan dramaturgi.

Social establishment yang disajikan disini diangkat dari dunia kampus dan terdisi atas ruangan sidang ujian skripsi. Peserta dalam perjuangan ini adalah mehasiswa yang diuji, dan tim terdiri atas panitia ujian skripsi-pimpinan fakultas, ketua jurusan, para pembimbing skripsi, dan penguji. Khalayak terdiri atas sesama mahasiswa yang memperoleh izin untuk menghadiri sidang ujian. Masing-masing pihak peserta menyajikan penampilan untuk menanamkan kesan yang mereka kehendaki pada peserta lain dan khalayak. Mahasiswa berusaha menyajikan kesan bahwa ia siap diuji dan menguasai bidangnya. Masing-masing anggota tim penguji berusaha menyajikan kesan bahwa meraka ahli dalam bidang mereka, mampu memberikan bimbingan dengan baik, dan mampu menilai mahasiswa secara kritis.

Dalam penampilan tim, anggota panitia ujian berusaha membatasi perbedaan di antara mereka dan berusaha menjaga solidaritas tim—kesetiaan pada tim (dramaturgical loyality). Dalam sidang ujian terbuka yang merupakan kawasan depan ini, perbedaan pendapat di antara anggota tim (misalnya perbedaan pendapat mengenai teori atau kualitas data) atau kelemahan salah seorang anggota tim (misalnya ada anggota panitia penguji yang samasekali tidak melakukan bimbingan atau belum membaca skripsi yang diuji) diusahakan untuk ditutup-tutupi.

Demi kelancaran pengaturan kesan solidaritas tim diusahakan untuk dijaga, tetapi kadang-kadang terjadi “insiden” yang mengganggu penampilan tim. Perbedaan pandapat di antara para penguji dapat dipermukaan dalam sidang ujian; bimbingan yang isinya saling bertentangan dapat terungkap dan diperdebatkan para pemimbing dalam sidang. Dalam kasus ekstrem mungkin saja anggota panitia penguji ada yang memoikot sidang. Dalam kasus ekstrem mungkin saja anggota panitia ada memboikot sidang ujian atau peningkatan sidang karena perbedaan penafsiran terhadap teraturan atau prosedur.

Setelah sidang ujian terbuka selesai, khalayak serta mahasiswa yang diuji diminta meninggalkan ruangan karena panitia ujian akan bersidang untuk menilai isi skripsi dan kemampuan mahasiswa menjawab pertanyaan penguji. Dengan demikian kepergian khalayak, maka ruang sidang ujian berubah menjadi panggung belakang. Dalam perjumpaan yang terjadi dalam ruangan dikurangi dan perbedaan dapat dikemukakan secara lebih bebas dan terbuka. Perilaku mahasiswa yang diuji, baik selama sidang ujian berlangsung maupun selama masa bimbingan mungkin menjadi bahan pembericaraan, pengunjingan, atau bahwa mungkin bahan tertawaan, hal yang pasti tidak akan ditampilkan dalam sidang terbuka. Proses penentuan nilai akhir yang mungkin saja berlangsung secara musyawarah, atau kompromi pun tidak diketahui oleh mahasiswa uang diuji maupun dan khalayak yang menghadiri sidang ujian tersebut.

Pada saat sidang ujian dinyatakan terbuka lagi untuk mengumunkan hasil ujian dan kehidupan khalayak yang hadir, unsur-unsur kesulitan disiplin dan tenggang rasa hasil ujian, nasihat apa yang akan diberikan tim dan sebagainya.

Dengan sendirinya pendekatan Goffan ini mendapat kritik berbagai pihak. Goffaman menyajikan para pelaku dalam interaksi sebagai penipu (con artist), sebagai manipulator yang berusaha menipu atau memanipulasikan peserta lain (lihat antara lain Polma, 1979).

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer