INTERAKSIONISME SIMBOLIK - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 27 Februari 2012

INTERAKSIONISME SIMBOLIK


Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang dikenal dengan nama interactionist perspective (Douglas, 1973). Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama interaksi aksionisme simbolik (symbolic interactionism). Pendekatan in bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme sudah nampak bahwa sasaran pendekatan ini ialah interaksi sosial; kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi.

Apakah yang dimaksudkan disini dengan simbol? Leslie White mendefinisikan simbol sebagai “a thing the value or meaning of which is bestowed upon by those who use it” (White, 1968). Jadi simbol merupakan sesuatu yang nilai atau maknnya diberikan kepadanya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut While makna atau nilai tersebut tidak berasal dari atau ditentukan  oleh sifat-sifat yang secara terdapat dalam bentuk fisiknya. Makna suatu simbol, menurut While, hanya dapat ditangkap melalui cara nonsesoris; malaui cara simbolik. Sebagai contoh; makna suatu warna tergantung pada mereka yang menggunakannya. Warna merah, misalnya, dapat berarti berani (“merah berarti berani, dan putih suci “), dapat berarti komunis (“kaum merah”), dapat pula tempat pelacuran (“daerah lampu merah”). Warna putih dapat berarti suci, dapat berarti berkabung (pada orang Thionghoa), dapat pula berarti menyerah. Makna-makna tersebut tidak ada kaitannya dengan sifat-sifat yang secara interistik terdapat pada warna, makna suatu simbol, menurut White, hanya dapat ditangkap melalui cara nonsensoris; melalui cara simbolik. Sebagai contoh; makna suatu warna tergantung pada mereka yang menggunakannya. Warna merah, misalnya dapat berarti berani (“merah berarti berani, dan putih suci”), dapat berarti komunis (“kaum merah”) dapat pula berarti suci, dapat berarti berkabung (pada orang Tionghoa). Dapat pula berarti menyerah. Makna-makan tersebut tidak ada kaitannya dengan sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat pada warna. Halnya sma dengan sesuatu yang lain, misalnya air atau benda lain yang dianggap suci. Kesucian hewan tertentu (misalnya sapi di india), orang tertentu (seperti air, patung) tergantung pada makna yang diberikan oleh pihak yang menggunakannya; kesucian suatu benda tidak dapat diamati dengan pancaindra. Sebagaimana telah dikemukakan White, kesucian suatu benda, makhluk atau seseuatu yang lain tidak ada hubungannya dengan sifat-sifat yang secara intrinsik melekat pada benda, makhluk atau sesuatu yang lain itu.

Herbert Blumer, salah seorang penganut Mead, berusaha menjabarkan pemikiran Mead mengenai interaksionisme simbolik. Menurut Blumer pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga, yang pertama ialah bahwa manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna (meaning) yang dipunyai sesuatu tersebut baginya. Dengan demikian tindakan (act) seorang penganut agama hindu di india terhadap seekor sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan seorang penganut agama islam di pakistan, karena bagi masing-masing orang tersebut sapi tersebut mempunyai makna (meaning) berbeda.

Blumer selanjutnya mengemukakan bahwa yang dipunyai sesuatu tersebut berasal atau muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan sesamanya. Mengapa dalam masyarakat kita warna merah bermakna berani, dan putih suci? Mengapa orang yang ideologinya radikal sering disebut kiri, sedangkan yang konservatif disebut kanan? Makna yang diberikan orang pada konsep merah, putih, kanan, kiri ini muncul dari interaksi sosial. Keberanian tidak melekat pada warna merah (sebagai telah disebutkan, dalam konteks lain warna merah dapat diartikan sebagai komunisme atau tempat pelacuran) dan pandangan ideologis pun tidak ada kaitannya dengan arah kiri atau kanan (kecuali dalam konteks tertentu di masa lalu, di mana pandangan politik yang dianut seseorang pernah terkait dengan letak tempat duduknya dalam parlemen).

Pokok pikiran ketiga yang dikemukakan Blumer ialah bahwa diperlukan atau diubah melalui  suatu proses pernafsiran (interpretative process), yang digunakan orang dalam menghadapi sesuatu yang dijumpainya. Yang hendak ditekankan Blumer di sini ialah bahwa makna yang muncul dari interaksi tersebut tidak begitu saja diterima oleh seseorang melainkan ditafsirkan terlebih dahulu. Apakah seseorang akan menaggapi dengan baik ucapan “selamat pagi” atau “assalamualaikum,” misalnya, tergantung pada penafsirannya apakah si pemberi salam tersebut beriktikadbaik ataukah buruk. 

Sumber: Buku Pengantar Sosiologi, edisi revisi. Kamanto Sunarto.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer