TIGA ALIRAN AWAL DALAM PSIKOLOGI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 02 Maret 2012

TIGA ALIRAN AWAL DALAM PSIKOLOGI

Selama awal dekade sejak berdirinya psikologi sebagai disiplin ilmu yang formal, terdapat tiga aliran psikologi yang cukup populer. Aliran yang pertama tidak bertahan lama dan segera dilupakan. Aliran kedua juga tidak bertahan lama kemudian juga lenyap, namun tetap memiliki pengaruh terhadap psikologi. Aliran ketiga tetap hidup hingga sekarang, terlepas dari perdebatan seru mengenai apakah aliran ini masih dapat digolongakan sebagai ilmiah.

Strukturalisme

Di Amerika, ide-ide Wundt dipopulerkan dengan cara yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh salah satu muridnya, E. B Titchener (1867-1927) yang menyebutkan pendekatan Wunt dengan nama strukturalisme, seperti Wunt, para strukturalis berharap dapat menganallisis berbagai sensasi, gambaran, dan perasaan ke dalam elemen-elemen dasar. Sebagai contoh, ketika seseorang diminta mendengarkan bunyi metronom dan melaporkan secara pola (seperti. KLIK klik klik KLIK klik klik). Meskipun semua bunyi klik dari sebuah metronom tersebut pada kenyataannya sama. Atau seseorang juga bisa diminta menguraikan semua komponen cita rasa yang berbeda-beda ketika menggigit sebuah jeruk (manis, asam, basah, dan sebagainya).

Terlepas dari program penelitian yang intensif, strukturalisme mengalami nasib yang sama seperti kisah dinasaurus. Setelah anda menemukan struktur-struktur pembangunan sensasi atau imaji dan bagaimana mereka saling berkaitan, lalu apa? Bertahun-tahun kemudian, setelah strukturalisme mati. Wolfgang Kohler (1959) teringat kembali tentang bagaimana ia dan para rekan merespons hal itu ketika masih menjadi mahasiswa: “apa yang dalu mengganggu kami adalah....dampaknya, yaitu bahwa kahidupan manusia yang tampaknya begitu berwarna dan sangat dinamis, ternyata sebenarnya hanyalah sesuatu yang membosankan”

kepercayaan strukturalisme pada introspeksi yang dilakukan oleh para partisipasi juga menimbulkan persoalan bagi mereka. Terlepas dari pelatihan yang telah diperoleh, para partisipan yang melakukan instropeksi itu kerap memberikan laporan-leporan yang saling bertentangan antara satu sama lain. Ketika ditanya gambaran apa yang muncul dalam benaknya ketika mendengar kata segitiga, kebanyakan responden menjawab bahwa mereka membayangkan suatu bentuk visual yang mempunyai sudut-sudut sama, sedangkan responden lainnya mengatakan melihat suatu bentuk tanpa warna yang melingkar dengan satu sudut lebih besar daripada sudut yang lainnya. Sejumlah orang bahkan mengaku bahwa mereka bisa memikirkan segitiga mengetahui atribut mental apakah yang mendasar bagi sebuah segitiga.


Fungsionalisme

pendekatan awal yang lain terhadap psikologi ilmiah adalah fungsionalisme yang menekankan fungsi atau tjuan perilaku. Pendekatan ini berawal dengan strukturalime yang senantiasa berusaha menganalisis dan mendeskripsikan perilaku. Salah satu pemimpin fungsionalisme adalah William Jame (1842-1910). seorang filsuf, dokter, sekaligus psikolog Amerika. William James berpendapat bahwa pencarian struktura pembangunan pengalaman, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wundt dan Titchener, adalah usaha yang sia-sia dan membuang waktu. Otak dan pikiran terus-menerus berubah. Menurutnya. Ide-ide yang tetap atau permanen-mengenai segitiga atau apa pun juga. Tidak muncul secara berkala sebelum adanya “cahaya yang menyoroti kesadaran “(“footlight of consciousness”). “upaya untuk menangkap sifat dasar pikiran melalui instrospeksi”. Sebagaimana yang ditulis oleh James (1890/1950), ibarat “menangkap sesuatu yang berputar agar dapat melihat geraknya atau mencoba menyalakan lampu secepat mungkin untuk dapat melihat seperti apakah kegelapan itu”.

Bila para strukturalisme memperlihatkan apa yang terjadi organisme melakukan sesuatu. Para fungsionalime mempermasalahkan bagaimana dan mengapa . Mereka sedikit terinspirasi oleh teori-teori evolusi dari ahli biologi tidak sekedar mendeskripsikan gerakan berpendapat bahwa pekerjaan para ahli biologi tidak sekedar mendeskripsikan gerakan membusungkan bagaimana atribusi-atribusi ini dapat mendukung kelangsungan hidup. Apakah hal-hal tadi membantu hewan untuk menarik pasangan, atau menyembunyikan diri dari musuh? Demikian pula, para fungsionalisme ingin mengetahui bagaimana berbagai perilaku dan proses mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau seekor hewan beradaptasi dan proses mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau seekor hewan berpendapat dan proses mental yang spesifik dapat membantu seseorang atau seeko hewan beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karena itulah para fungsionalis merasa bebas untuk mengambil dan memilih di antara berbagai metode yang ada. Mereka juga memperluas bidang psikologi dengan melakukan penelitian terhadap anak-anak, hewan, pengalaman, religius, dan apa yang disebut oleh James sebagai “The stream of consciousness” - sebuah istilah yang masih digunakan berkat keindahannya dalam mendeskripsikan cara pikiran mengalir, seperti sebuah sungai, yang aliran airnya bergulung-gulung, kadang kala tenang, kadang kala bergolak.

Sebagai sebuah aliran psikologi, fungsionalisme, seperti halnya strukturalisme, tidak berusia panjang. Aliran ini kurang memiliki teori atau program penelitian yang tepat, serta kurang mampu menarik pengikut. Akhirnya penelitian tentang kesadaran dan konsep aliran ini tidak dapat bertahan. Meskipun demikian, penekanan para fungsionalis terhadap penyebab dan dapat bertahan. Meskipun demikian, penekanan para fungsionalis terhadap penyebab dan konsekuensi perilaku telah menentukan perjalanan psikologi sebagai suatu ilmu yang ilmiah.


Psikoanalisis

Abad ke -19 juga diwarnai oleh perekembangan berbagai terapi psikologis. Sebagai contoh, di Amerika Serikat muncul gerakan yang sangat populer dan tersebut luas yang disebut “Ming care” yang berkembang dari tahun 1830 hingga 1900. “Mind cure” merupakan usaha untuk mengoreksi “pikiran-pikiran yang salah” yang membuat seseorang menjadi cemas, depresi, dan tidak bahagia (Caplan, 1998). Gerakan mind cure merupakan cikal bakal dari munculnya terapi kognitif modern (lihat Bab 17 di buku Jilid 2)

Bentuk terapi yang memiliki pengaruh terbesar secara mendunia selama hampir satu abad ini berasal dari Vienna, Austria. Semetara para peneliti di Eropa dan Amerika bekerja di Laboratorium, berjuang menempatkan ilmu psikologi sebagai ilmu ilmiah. Sigmund Freud (1856-1939)., seorang neurolog yang tidak dikenal, mendengarkan laporan pasien-pasiennya mengenai depresi, kecemasan dan sejumlah, dan kebiasaan obesesif di dalam ruangan kerjanya. Freud menjadi yakin bahwa banyak gelaja pasiennya ternyata diakibatkan oleh penyebab mental dan bukan fisik. Freud berkesimpulan bahwa penderitaan (distress) yang mereka alami, terkait dengan konflik serta trauma emosional yang terjadi di masa awal masa kanak-kanak dan hal itu terlalu menakutkan untuk diingat secara sadar, misalnya hasrat seksual yang terlarang terhadap orang tua.

Freud berpendapat bahwa apa yang kita ketahui hanyalah puncak dan gunung es mental. Di balik permukaan yang terlihat, terdapat bagian pikiran yang tidak disadari, yang mengundang berbagai harapan, gairah, dan rahasia yang menimbulkan perasaan bersalah, teriakan yang tidak terucapkan, dan konflik antara hasrat dan kewajiban yang tidak terungkap. Banyak di antara dorongan dan pikiran ini yang bersifat seksual dan agresif. Kita tidak menyadarinya seiring dengan tenggelamnya kita dalam kesibukan sehari-hari, meskipun berbagai dorongan dan pikiran itu dapat muncul dalam mimpi. Kesalahan ucap (slip of the tongue). Ketidaksengajaan yang tampak, bahkan gurauan Freud (1905an) menulis, “tidak ada orang yang dapat menyimpan rahasia. Jika lidahnya tidak berbicara,melalui jari-jarinyalah ia akan berkata-kata, penghianatan akan mengalir melalui setiap pori-porinya.”

ide-ide Freud bukanlah sensasi sesaat. Buku pertamanya yang berjudul The Interpretation of Dreams (1900/1953), hanya terjual sebanyak 600 buah delapan tahun sejak dipublikasikan untuk pertama kali. Namun demikian, ide-idenya akhirnya berkembang menjadi teori kepribadian dan metode psikoterapi yang luas, yang dikenal dengan psikoanalisis. Kebanyakan konsep Freud dulu, hingga sekarang masih ditolak oleh para psikolog yang berorientasi empiris. Meskipun demikian, konsep-konsep ini memiliki pengaruh yang besar terhadap filsafat, dan seni abad ke-20. Kini, nama Freud sudah sangat terkenal menyamai Einstein.

Sejak awal berkembangnya filsafat, ilmu alam, dan kedokteran psikologi telah berkembang menjadi disiplin ilmu yang kompleks yang memiliki banyak spesialisasi, perspektif, serta metode. Dewasa ini, psikologi telah menjadi sebuah keluarga besar. Para anggota keluarga ini sama-sama memiliki nenek moyang yang sama dan ada banyak sepupu yang telah bergabung. Meskipun demikian, ada beberapa “orang” yang bertengkar dan ada enggan berbicara satu sama lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer