Breaking News
Loading...
Selasa, 03 April 2012

PERUBAHAN SOSIAL DI ASIA TENGGARA

Konta antara masyarakat Barat dengan masyarakat pribumi yang telah mengakibatkan perubahan sosial pada masyarakat Asia Tenggara pun telah menarik pertahatian pada ilmuwan sosial. Kemajemukan masyarakat-masyarakat di Asia Tenggara telah memungkinkan munculnya berbagai konsep dan teori yang dilandaskan pada pengalaman khas berbagai masyarakat Asia Tenggara. Dalam bukunya Sosiology of South Change and Development, Hans-Dieter Event menynting sejumlah tulisan ilmuwan sosial yang mencakup beberapa konsep dan teori diangkat dan pengalaman masyarakat Indonesia seperti konsep dual societies, plurral societies, dan involution (lihat Evenrs, 1980).
Dual societies. Pada  awal abad ini J. H. Broeke, seorang ahli ekonomi Belanda yang pernah bekerja di Indonesia mempertanyakan mengapa dalam masyarakat Barat kekuatan kapitalisme telah membawa peningkatan taraf hidup dan persatuan masyarakat, sedangkan dalam masyarakat Timur kapitalisme justru bersifat merusak. Dengan datangnya kapitalisme di masyarakat Timur ikatan-ikatan komunitas melemah, dan taraf hidup masyarakat menurun. Di Asia Tenggara sendiri lapisan atas masyarakat mengalami  Westernisasi dan urbanisasi sedangkan sedangkan lapisan bwah menjadi semakin miskin (lihat Boeke, dalam Evers, 1980:26-37 dan Event, 1980:2:3).

Menurut Boeke, gejala ini disebabkan karena kapitalisme telah mengekibatkan terjadinya apa yang dinamakannya ekonomi dualistis (dua economy). Dalam suatu masyarakat dualistis, menurut Boeke, kita menjumpai sejumlah antitesis, yaitu pertentangan antara (1) faktor produksi pada masyarakat Barat yang bersifat dinamis dan pada masyarakat pribumi di pedesaan yang bersifat statis, (2) masyarakat perkotaan (yang terdiri atas masyarakat Barat) dengan masyarakat pedesaan (orang Timur), (3) ekonomi mesin (pada masyarakat Barat) dan didominasi kekuatan alam (pada masyarakat Timor), dan perekonomian produsen dan perekonomian konsumen.

Menurut Evenrs ciri dualistis pada perekonomian masyarakat kolonial maupun pasca-kolonial yang disebutkan Boeke, yaitu adanya masyarakat yang terbelakang yang hidup berdampingan dengan masyarakat yang maju memperoleh berbagai tanggapan. Sejumlah ilmuwan sosial mencoba mengembangkan pemikiran Boeke ini, sedangkan ilmuwan lain menolaknya. Evens sendiri mengecam Boeke karena cenderung mempersilahkan pribumi sendiri atas keterbelakangan mereka.

Plural societies. Konsep masyarakat majemuk (plural societies) dipopulerkan oleh J. S Furnivall. Menurut Furnival (dalam Event, 1980,:86-96) Indonesia (Hindia-Belanda) merupakan contoh suatu masyarakat majemuk , yaitu “......a society, that is, comprising two or more elements  or social orders which live side by side, yeet without mingling, in one political unit.”











Dalam gambarannya masyarakat Indoensia terdiri atas sejumlah tatanan sosial yang hidup berdampingan tetapi tidak berbaur; namun menurutnya kelompko Eropa, Cina dan pribumi saling melekat laksana kembar siam dan akan hancur bilamana dipisahkan, sebagaimana nampak dari kutipan berikut:
      …...in Netherlands India, the European, Chinese and native are linked as vitally as Siamese twins and, if rent asuder, every element must dissolve in anarchy.

Menurut Evers konsep ini pun telah mendorong sejumlah ilmuwan sosial untuk menggunakannya, mengembangkannya, dan mengujinya pada masyarakat lain. Evers sendiri menilai bahwa baik Boeke maupun Furnivell menganut gambaran yang terlalu sederhana mengenai masyarakat Asia Tenggara.

Involution. Dampak kapitalisme terhadap masyarakat pribumi dibahas Clifford Geertz dalam bukunya Agrcultural Involution (Involusi Pertanian; lihat Geertz, 1966). menurut Geertz kontak dengan kapitalisme Barat tidak menghasilkan perubahan secara evolusioner pada masyarakat pedesaan di Jawa, melainkan suatu proses yang dinamakannya involusi. Menurut Geertz penetrasi kapitalisme Barat terhadap sistem sawah di Jawa membawa kemakmuran di Barat tetapi mengakibatkan Barat terhadap sistem sawah di Jawa membawa kemakmuran di Barat pedesaan. Ternyata kelebihan penduduk ini dapat diserap sawah melalui proses inolusi, yaitu suatu kerumitan berlebihan yang semakin rinci yang memungkinkan tiap orang tetap menerima bagian dari panen meskipun bagiannya memang menjadi semakin mengecil.

Konsep Geertz ini pun digunakan sejumlah ilmuwan sosial lain—antara lain di bidang perkotaan sehingga kita mengenal pula konsep urban involution yang dipopulerkan oleh W. R. Amstrong dan Terry McGee (lihat Armmstrong dan McGee dalam Evers, 1980:220-234). Armstrong dan McGee mengaitkan konsep involusi dengan sistem pasar di daerah perkotaan Dunia ketiga, yang senantiasa mampu menyerap tenaga kerja. Evers (1974) lebih mengaitkan konsep involusi dengan perubahan struktural di daerah perkotaan; meskipun penduduk bertambah, namun kurang terjadi diferensiasi sosial.

Sumber: Buku Pengantar Sosiologi, edisi revisi. Kamanto Sunarto.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer