PERBEDAAN SKALA DAN ANGKET - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Kamis, 05 September 2013

PERBEDAAN SKALA DAN ANGKET

Meskipun dalam penggunaan sehari – hari banyak praktisi pengukuran maupun peneliti yang menyamakan saja istilah Angket dengan istilah Skala namun perlu dijelaskan bahwa seabgai sesame alat pengumpulan data kedua instrument pengukuran tersebut sebenarnya memiliki fungsi berbeda. Perbedaan tersebut antara lain adalah: 


  1. Data yang diungkap oleh angket berupa data factual atau yang dianggap fakta dan kebenarannya yang diketahui oleh subyek, sedangkan data yang diungkap oleh skala psikologi adalah deskripsi mengenai aspek kepribadian individu. Data mengenai Riwayat Pendidikan, Jumlah Anggota Keluarga, Pilihan Metode KB, Penghasilan Rata – rata Perbulan, Jenis Film yang Disukai, Opini atau Pendapat suatu isyu, dan semacamnya merupakan data yang dapat diungkap oleh angket. Data mengenai Tendensi Agresivitas, Sikap terhadap sesuatu, Self estreem, Motivasi, Strategi Menghadapi Masalah, dan semacamnya adalah contoh data yang harus diungkap oleh skala psikologi.
  2. Pertanyaan dalam angket berupa pertanyaan langsung terarah kepada informasi mengenai data yang hendaknya diungkap. Data termaksud berupa fakta atau opini yang menyangkut diri responden. Asumsi dasar penggunaan angket yaitu bahwa responden merupakan orang yang paling mengetahui tentang dirinya sendiri. “Sejak kapankah anda berhenti merokok?” merupakan contoh pertanyaan dalam angket. Aitem pada skala psikologi berupa penerjemahan dari indikator keperilakuan guna memancing jawaban yang tidak secara langsung menggambarkan keadaan diri subjek, yang biasanya tidak disadari oleh responden yang bersangkutan. Pertanyaan yang diajukan memang dirancang untuk mengumpulkan sebanyak mungkin indikasi dari aspek keperilakuan yang akan diungkap. Pertanyaan seperti “Apakah yang akan anda lakukan bila tiba – tiba disapa oleh seseorang yang tidak anda kenal?” menjadi contoh aitem pada skala psikologi.
  3. Responden terhadap angket tahu persis mengenai apa yang ditanyakan dalam angket dan informasi apa yang dicari oleh pertanyaan yang bersangkutan. Responden terhadap skala psikologi, sekalipun sangat memahami isi pertanyaannya, namun tidak menyadari arah jawaban yang dikehendaki dan kesimpulan apa yang sesungguhnya diungkap oleh pertanyaan tersebut.
  4. Respon yang diberikan subjek terhadap angket tidak dapat diberi skor (dalam arti harga atau nilai jawaban) melainkah diberi angka coding sebagai indikasi atau klasifikasi jawaban. Respon terhadap skala psikologi diberi skor melalui proses penskalaan (scaling).
  5. Satu perangkat angket dirancang untuk mengungkap data dan informasi mengenai banyak hal, sedangkan satu perangkat skala psikologi dirancang hanya untuk mengungkap satu tujuan ukuran saja (unidimensional).
  6. Karakteristik yang disebutkan pada poin 2 dan poin 4 menyebabkan data hasil angket tidak perlu diuji lagi reliabilitasnya secara psikometrik. Relibilitas hasil angket tergantung pada terpenuhinya asumsi bahwa responden akan menjawab dengan jujur seperti apa adanya. Pada sisi lain, hasil ukur skala psikologi harus tinggi reliabilitasnya secara psikometrik dikarenakan relevansi isi dan konteks kalimat yang digunakan sebagai stimulus pada skala psikologi lebih terbuka terhadap berbagai sumber error.
  7. Validitas angket lebih ditentukan oleh kejelasan tujuan dan kelengkapan informasi yang hendak diungkapnya sedangkan validitas skala psikologi ditentukan oleh ketepatan operasionalisasi konstrak psikologi yang hendak diukur menjadi indicator keperilakuan dan aitem – aitemnya.
  8. Jelaslah bahwa beberapa perbedaan pokok antara skala psikologi dan angket ini menyebabkan pula perbedaan dalam cara penyusunan, cara pengujian kualitas, cara pengujian kualitas, cara penggunaan, dan cara interprestasi hasilnya.




Sumber: PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI. Edisi 2. Saifuddin Azwar. (Hal 7 – 10) 

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer