PERBEDAAN BUDAYA DALAM MEMPELAJARI MATEMATIKA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Kamis, 07 Agustus 2014

PERBEDAAN BUDAYA DALAM MEMPELAJARI MATEMATIKA

Kumpulan MateriPenelitian lintas budaya antar bangsa pada pembelajaran matematika di sekolah adalah melalui studi komparatif. Studi paling awal misalnya yang dilakukan oleh International Association fot the Evaluation of Education Achievement (IEA) (Husen, 1967) mengukur skor prestasi matematika di 12 negara pada tingkat 8 dan 12 tahun. Studi berikutnya membandingkan 17 negara. Penemuan yang cukup mengejutkan adalah prestasi yang kurang baik dari pelajar Amerika dibandingkan dengan Negara – Negara lain terutama jepang.

Sejak studi – studi ini banyak usaha dipusatkan pada pencarian akar perbedaan dalam kemampuan matematika ini melalui program – program penelitian dari Harold Stevenson dan James Stigler. Beberapa studi mereka menfokuskan perbandingan antara pelajar – pelajar sekolah dasar Amerika, Jepang dan Cina (Taiwan) dan memusatkan perhatian pada penyelidikan tentang bagaimana matematika diajarkan di dalam kelas dan system sekolah yang mungkin mendasari perbedaan – perbedaan ini.

Temuan – temuan pada tiga topic menyatakan hubungan yang luas dan kompleks antara budaya dan pendidikan. Bahkan pada murid – murid kelas satu, keunggunlan Jepang dan Cina dalam prestasi matematika sudah sangat menonjol dan mencapai puncaknya pada murid kelas lima (Stevenson, Lee & Stigler, 1986; Stigler dan & Baraness, 1986). Prestasi yang buruk pada pelajar Amerika juga ditemukan dalam perbandingan dengan anak – anak Korea (Song & Ginzburg, 1987). Apalagi, perbedaan itu tidak hanya dalam tes berhitung tetapi juga dalam semua tes matematika yang disusun dan diselenggarakan oleh para peneliti.

Stigler, dkk. Kemudian menyelidiki di ruang – ruang kelas untuk menemukan kemungkinan – kemungkinan penyebab dari perbedaan itu. Beberapa perbedaan utama dalam menggunakan waktu di ruang kelas. Pejalar Cina dan Jepang mnghabiskan lebih banyak hari – harinya tiap tahun di sekolah, lebih banyak jam tiap harinya di sekolah, dan proporsi waktu yang lebih besar di sekolah dicurahkan untuk matematika. Guru – guru Jepang dan Cina menghabiskan proporsi waktu bekerja yang lebih besar dengan keseluruhan kelas daripada yang dilakukan guru – guru Amerika. Perbedaan ini bahkan lebih dramatis ketika kita membandingkan rata – rata ukuran kelas yang lebih kecil daripada di Cina dan Jepang. Sehingga murid – murid Amerika menghabiskan sedikit waktu belajar di bawah bimbingan dan supervise dari seorang guru.

Selama di kelas, juga dapat diamati bahwa guru – guru di Amerika cenderung menggunakan pujian untuk member penghargaan pada jawaban – jawaban yang benar. Guru – guru di Jepang cenderung lebih memusatkan perhatian pada jawaban – jawaban yang salah, menggunakan hal ini sebagai contoh untuk mengarahkan ke dalam diskusi tentang proses penghitungan dan konsep – konsep matematika. Guru – guru Taiwan cenderung menggunakan proses yang sama dengan pendekatan guru – guru Jepang. Perbedaan proses pengajaran ini mencerminkan titik berat pada budaya di Amerika menyangkut penghargaan pada keunikan dan individualism dan titik berat di Jepang dan Cina pada penemuan cara – cara untuk mengelola proses kelompok dan membagi tanggung jawab atas kesalahan dengan anggota – anggota dari kelompok itu. Pujian meskipun baik tetapi bagi mereka hal ini akan menghambat diskusi.

Akhirnya sejumlah perbedaan penting dalam nilai – nilai budaya dan system keyakinan diantara orang – orang Amerika, Jepang dan Cina ditemukan memiliki akibat pada pendidikan. Misalnya para orang tua dan guru di Jepang dan Cina lebih mungkin untuk mempertimbangkan bahwa semua anak adalah sama, dengan tidak ada perbedaan diantara mereka. Para orangtua dan guru di Amerika lebih mungkin untuk mengakui adanya perbedaan – perbedaan dan menemukan alasan untuk memperlakukan anak – anak mereka secara khusus. Perbedaan ini sangat jelas berakar dalam ketegangan budaya antara individualism dan kolektivisme di antara ketiga budaya ini.

Para orang tua dan guru Amerika lebih mungkin untuk mempertimbangkan kemampuan dalam diri individu (Innate ability) lebih penting daripada usaha, bagi orang Jepang dan Cina, usaha jauh lebih penting daripada kemampuan. Perbedaan juga besar bagi pendidikan. Para orang tua Amerika cenderung lebih mudah puas pada tingkat kompetensi yang lebih rendah daripada Jepang dan Cina. Juga, ketika muncul masalah orang – orang Amerika lebih mungkin mengatribusikan penyebab masalah itu pada sesuatu secara langsung berkaitan dengan perbedaan budaya dalam pembentukan self sebagaimana telah dibahas dalam bab terdahulu.

Adanya keyakinan bahwa abilitas (kemampuan) lebih penting daripada usaha (rffort)berarti menganggap bahwa masing – masing anak dibatasi oleh lingkup kemampuannya. Keyakinan ini menjadi budaya institusi yang memerintah bagaimana system pendidikan seharusnya menanggapi hal ini. Akibatnya system pendidikan di Amerika menekankan pencarian keunikan, perbedaan bawaan diantara murid – muridnya dan memisahkan mereka ke dalam kelas – kelas yang khusus bagi kelompok murid yang memiliki keunikan tersendiri serta pada umumnya mengindividualisasikan proses pendidikan. Sehingga lebih banyak waktu yang dicurahkan pada instruksi atau pengajaran secara individual dan sedikit waktu pada instruksi atau pengajaran secara keseluruhan kelompok.

Sebaliknya Jepang lebih berhasil meningatkan kualitas pendidikan warganya secara missal. Hal ini bisa dijelaskan berdasar tiga dimensi yang berakar pada budaya Jepang, yaitu (1) struktur ganjaran, (2) penilaian terhadap penampilan atau unjuk kerja, dan (3) strategi pengendalian dalam hubungan antar pribadi (Halloway, 1988). Pendidikan Jepang – baik pendidikan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah – lebih menekankan kerjasama daripada persaingan. Karena itu, tidak banyak kesempatan untuk mengatribusikan sebab – sebab keberhasilan maupun kegagalan pada factor kemampan,karenaatribusi pada kemampuan biasanya berkembang dalam situasi yangkompetitif. Penilaian terhadap unjukkerja dan ganjaran yangmenjadi ikutannya jarang bersifat umum dan terbuka, karena pross pendidikan (khususnya tingkat Sekolah Dasar) dilaksanakan dalam kelompok – kelompok belajar kecil. Guru – guru Jepang berusaha keras untuk membawa keseluruhan kelas maju secara bersama – sama melalui bahan yang diajarkan dan menghindari terjadinya kelompok – kelompok hierarki berdasarkan kemamuan. Ada bukti – bukti yang menunjukkan bahwa guru – guru di Jepang enggan untuk emnilai siswanya sebagai pribadi. Dengan perkataan lain, guru – guru Jepang berusaha untuk mengalihkan fokus stribusi kegagalan atau keberhasilan dari kemampuan kepada usaha. Dalam usaha untuk menanamkan keatuhan, ibu – ibu Jepang sedapat – dapatnya menghindari strategi pengendalian yang bersifat otoriter dengan maksud untuk mempertahankan hubungan yang erat dengan anak – anaknya. Mreka percaya bahwa ketidakpatuhan anak bersumber pada kurangnya pengertian pada pihak anak, dan bukan karena penyimpangan. Sebaliknya ibu – ibu Amerika lebih besar kemungkinannya menggunakan otoritas dan kekuasaan dalam usahanya untk menanamkan disiplin keada anak – anaknya.

Orientasi dan atribusi pada factor usaha dalam penyelesaian tugas mendorong anak – anak Jepang belajar untuk mencapai penguasaan, bukan untuk mendapatkan kesan penampilan yang baik. Pendekatan ini ternyata telah meningkatkan prestasi belajar seperti terlihat dari hasil – hasil studi banding tersebut di atas.



Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 91- 93).

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer