TEORI KEPRIBADIAN BEHAVIORISME - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 03 Januari 2015

TEORI KEPRIBADIAN BEHAVIORISME

Kumpulan MateriMenurut skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi berbagai kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian (personality) atau diri (self) yang membimbing atau mengarahkan perilaku. Baginya, pendekatan seperti ini adalah sisa Animisme, suatu ajaran yang mengendalikan keberadaan jiwa dalam tubuh yang menggerakkan tubuh itu. Ia juga tidak puas dengan penjelasan perilaku yang buntu seperti jawaban “Mengapa para perampik membunuh orang – orang yang tidak berdaya? Apakah karena meraka gila?

Dalam pandangannya, penyelidikan tentang kepribadian melibatkan pengamatan yang sistematis dan sejarah belajar yang khas, serta latar belakang genetis yang unik dari individu. Menurut Skinner, individu adalah organism yang memperoleh perbendaraan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu point yang faktor – faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama – sama menghasilkan akibat (Tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut.

Bagi Skinner studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah laku organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.

Selanjutnya, Skinner telah menguraikan sejumlah teknik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak di antaranya dipelajari oleh social – learning theoritists yang tertaik dalam modeling dan modifikasi perilaku. Teknik tersebut adalah sebagai berikut (Wulansari & Sujatno, 1977).

1. Pengekangan fisik (physical restraints)

Menurut Skinner, kita mengontrol perilaku melalui pengekangan fisik. Misalnya, beberapa dari kita menutup mulut untuk menghindari diri dari menertawakan kesalahan orang lain. Orang kadang – kadang melakukannya dengan bentuk lain, seperti berjalan menjauhi seseorang yang telah menghina kita agar tidak kehilangan control dan menyerang orang tersebut secara fisik.

2. Bantuan fisik (physical aids)

Dalam pandangan Skinner, bantuan fisik dapat digunakan untuk mengontrol perilaku. Kadang – kadang orang menggunakan obat – obatan untuk mengontrol perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya, pengendara truk meminum obat perangsang agar tidak mengantruk saat menempuh perjalanan jauh. Bantuan fisik bisa juga digunakan untuk memudahkan perilaku tertentu, yang bisa dilihat pada orang memiliki masalah penglihatan dengan cara memakai kacamata.

3. Mengubah kondisi stimulus (chaging the stimulus conditions)

Suatu teknik lain adalah mengubah stimulus yang bertanggung jawab. Misalnya, orang yang berkelebihan berat badan menyisihkan sekotak permen dari hadapanna sehingga dapat mengekang diri sendiri. Dalam contoh tersebut, orang menyingkir discrimmative stimuli yang menyebabkan perilaku yang tidak dinginkan. Akan tetapi, menurut Skinner, kita tidak hanya menyingkirkan stimulus tertentu pada situasi tertentu. Kita tidak juga menghadirkan stimulus untuk melakukan suatu perilaku tertentu. Misalnya, kita menggunakan kaca cermin untuk berlatih menguasai tarian yang sulit.

4. memanipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)

Skinner menyatakan bahwa terkadang kita mengadakan perubahan emosional dalam diri kita untuk mengontrol diri. Misalnya, beberapa orang menggunakan teknik meditasi untuk mengatasi stress. Serupa dengan itu, kita mungkin membuat diri sendiri memiliki suasana hati yang baik sebelum menghadiri pertemuan yang membuat stress agar kita dapat menunjukkan perilaku yang tepat.

5. melakukan respons – respons lain (performing alternative responses)

Menurut Skinner, kita juga sering menahan diri dari melakukan perilaku yang membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk membawa hukuman dengan melakukan hal lain. Misalnya, untuk menahan diri agar tidak menyerang orang yang sangat tidak kita sukai, kita mungkin melakukan tindakan yang tidak berhubungan dengan pendapat kita tentang mereka.

6. menguatkan diri secara positif (positif self – reinforcement)

Salah satu teknik yang kita gunakan untuk mengendalikan perilaku, menurut Skinner, adalah positive self reinforcement. Kita menghadiahi diri sendiri atas perilaku yang patut dihargai. Misalnya, seorang pelajar menghadiahi diri sendiri karena telah belajar keras dan dapat mengerjakan ujian dengan baik, dengan menonton film yang bagus.

7. Menghukum diri sendiri (self – punishment)

Akhirnya, seseorang mungkin menghukum diri sendiri karena gagal mencapai tujuan diri sendiri. Misalnya, seorang mahasiswa menghukum diri sendiri karena gagal melakukan ujian dengan baik dengan cara menyendiri dan belajar kembali dengan giat.





Sumber: PSIKOLOGI UMUM. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hal. 309

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer