FAKTOR-FAKTOR PERSEBARAN ORGANISME - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Kamis, 02 Februari 2012

FAKTOR-FAKTOR PERSEBARAN ORGANISME

19.00

 
Penghalang geografis
Penghalang geografis adalah keadaan fisik lapangan dan faktor geografi lain yang menghalangi aliran gen antarpopulasi. Penghalang geografi merupakan penghalang dalam bentuk kondisi muka bumi, seperti gunung, padang pasir, dan laut. Penghalang jenis ini sangat menetukan persebaran oraganisme di muka bumi. Penghalang geografi merupakan hasil dari aktivitas alam berupa pegunungan atau pemisah permukaan bumi. Hasil proses alami ini berupa benua yang dibatasi oleh lautan, gunung, gurun dan faktor alam lainnnya. Adanya batas-batas tersebut menghalangi interaksi antarorganisme. Pada mulanya kelompok organisme diperkirakan menghuni satu tempat. Akibat sifat organisme yang aktif dan selalu berusaha mencari kondisi lingkungan yang terbaik untuk proses hidupnya, kelompok organisme tersebut menyebar ke berbagai yang memiliki kondisi lingkungan yang berbeda. Persebaran organisme ini akan terhenti begitu berhadapan dengan penghalang geografis. Selain itu, persebaran organisme juga akan terhenti akibat terbatasnya kemampuan struktur ataupun fungsi organisme tersebut, seperti kemampuan terbang, berenang, ataupun berlari. Ditempat baru, organisme melakukan adaptasi dan modifikasi sehingga menjadi orgnisme yang berbeda dengan asalnya. Berdasarkan penjelasan ini, terlihat bahwa penghalang geografi merupakan faktor penting dalampersebaran organisme di muka bumi.

Penghalang reproduksi
Penghalang reproduksi merupakan penghalang dalam bentuk tidak terjadinya interhibridasi (perkawinan) diantara organisme yang dihuni satu daerah biogeografi dengan daerah biogeografi lainnya. Tidak terjadinya interhibridasi ini akibat adanya penghalang geografi. Dengan demikian, penghalang reproduksi ini menyebabkan munculnya penghalang reproduksi yang mengakibatkan semakin berbedanya organisme tersebut dengan organisme asalnya.

Penghalang Endemis
Penghalang endemis merupakan penghalang dalam bentuk kekhasan organisme akibat menghuni daerah khas pula. Kekhasan ini terjadi akibat adanya penghalang reproduksi yang mencagah terjadinya interhibridasi dengan organisme lain di luar wilayah biogeografi tersebut. Penghalang reproduksi sendiri merupakan akibat dari adanya penghalang geografi. Dengan demikian, dapat ditarik hubungan bahwa penghalang geografi menyebabkan penghalang reproduksi dan penghalang reproduksi menyebabkan penghalang endemis. Penghalang endemis ini menyebabkan proses endemis organisme yang mengakibatkan semakin khasnya organisme organisme tersebut dan semakin berbeda jauh dengan organisme asalnya.

Penyusutan jumlah populasi makhluk hidup disebabkan oleh faktor cuaca, iklim, ruang, dan waktu. Populasi makhluk hidup sekarang semakin menyusut dan cenderung mempunyai sifat endemis. Makhluk hidup endemis merupakan makhluk hidup yang terdapat di suatu tempat dalam jumlah terbatas, sedangkan di tempat lain tidak ditemukan. Contohnya, Bekantan di Kalimantan, jalak Bali, babirusa dan anoa di Sulawesi, bayar di Kepulauan Kei, dan siamang di sumatra. Penyusutan jumlah populasi juga disebabkan oleh jarangnya perkembangan biakan dan tingginya persaingan hidup antarindividu. Kelompok makhluk hidup yang menyusun harus dilestarikan dan di jaga. Makhluk hidup yang populasinya rendah disebut makhluk hidup langka. Contoh kelompok makhluk hidup yang sudah sangat terdesak hingga populasinya begitu rendah ialah komodo dan badak Jawa.

Penyusutan jumlah populasi juga dapat terjadi karena ulah manusia. Manusia terkadang memanfaatkan suatu jenis populasi berlebihan sehingga tidak seimbang dengan laju pemulihannya. Manusia juga sering mengubah suatu habitat makhluk hidup menjadi perumahan atau lahan produksi. Kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menjadi menyusutkan jumlah populasi makhluk hidup. Jika penyusutan ini terus berlanjut, kemungkinan kelompok makhluk hidup tersebut akan punah. Untuk menghindari kepunahan makhluk-makhluk hidup tersebut. Perlu dilakukan beberapa usaha, antara lain memberi perlindungan terhadap hewan ataupun tumbuhan yang populasinya rendah.

Sumber:  Buku Mengkaji Ilmu Geografi 2. Sugiyanto. Danang Endarto.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer