Breaking News
Loading...
Sabtu, 24 Maret 2012

ANAK-ANAK BERBAKAT

Tipe terakhir anak yang tidak biasa yang akan kita diskusikan di bawah adalah tipe yang bertolak belakang dengan anak-anak penderita ketidakmampuan. Anak berbakat (gifted) punya kecerdasan di atas rata-rata (biasanya punya IQ di atas 130) dan / atau punya bakat unggul di beberapa bidang, seperti seni, musik, atau matematika. Program untuk anak berbakat di sekolah biasanya didasarkan pada kecerdasan dan prestasi akademik. Namun, belakang ini kriteria ini diperluas dengan memasukkan faktor-faktor seperti kreativitas dan komitmen (Renzulli & Reis, 1997). Beberapa kritikus mengatakan bahwa terlalu banyak anak dalam program anak berbakat sebenarnya kurang berbakat dalam area tertentu tetapi hanya agak cemerlang, biasanya kooperatif, dan biasanya anak Kulit Putih non-Latino (Castellano & Diaz, 2002). mereka percaya bahwa sebutan brilian diselamatkan pada anak yang hanya punya “kecerdasan normal”. Walaupun inteligensi umum sebagaimana didefinisikan dalam skor IQ masih tetap menjadi kriteria utama dalam menentukan apakah seorang anak harus ditempatkan di program anak berbakat atau tidak, kini mulai banyak pendukung pendapat bahwa kriteria itu harus juga memasukkan Multiple inteligence dari Garner, dan di masa depan kemungkinan kriterianya tidak lagi mencakup IQ (Davidson, 2000).

Katakteristik
Ellen Warnner (1996), seorang ahli bidang kreativitas dan anak berbakat, mendeskripsikan tiga kriteria yang menjadi ciri anak berbakat:
  1. Dewasa lebih dini (procecity). Anak berbakat adalah anak yang dewasa sebelum waktunya apabila diberi kesempatan untuk menggunakan bakat atau talenta mereka. Mereka mulai menguasai suatu bidang lebih awal ketimbang teman-temannya yang tidak berbakat. Dalam banyak kasus, anak berbakat dewasa lebih dini kaarena dilahirkan dengan membawa kamampuan di dominan tertentu, walaupun bakat sejak lahir ini tetap harus dipelliharan dan dipupuk.
  2. Belajar menuruti kamampuan mereka sendiri. Anak berbakat belajar secara berbeda dengan anak lain yang tak berbakat. Mereka tidak membutuhkan banyak dukungan, atau scanffolding (lihat Bab 2), dari orang dewasa. Sering kali mereka tak mau menerima instruksi yang jelas. Mereka juga kerap membuat penemuan dan memcahkan masalah sendiri dengan cara yang unik di bidang yang memang menjadi bakat mereka. Tapi, kemampuan mereka di bidang lain boleh jadi norma atau bisa juga di atas normal.
  3. Semangat untuk menguasai. Anak yang berbakat tertarik untuk memahami bidang yang menjadi bakat mereka. Mereka memperlihatkan minat besar dan obsesif dan kemampuan kuat fokus. Mereka tidak perlu didorong oleh orang tuanya. Mereka punya motivasi interaksi yang kuat.

Selain ketiga karakteristik anak berbakat di atas (dewasa lebih dini, belajar menuruti kemampuan mereka sendiri, semangat untuk menguasai), area keempat di mana mereka unggul adalah keahlian dalam memproses informasi. Para peneliti telah menemukan bahwa anak berbakat belajar lebih cepat, memproses informasi lebih cepat, menggunakan penalaran dengan baik baik, menggunakan strategi yang lebih baik, dan memantau pemahaman mereka dengan baik ketimbang anak yang tidak berbakat (Stern & Clickenbeard,1995).
 
Studi Terman Klasik
Lewis Terman (1925) mengamati sekitar 1.500 anak yang dinilai IQ Stanford-Binetnya di atas 150, dan meneliti mereka sampai mereka dewasa. Hasil perkembangan mereka sangat mengesankan. Dari 800 pria, 78 dapat doktor (termasuk dua presiden American Psychological Association di masa lalu), 48 meraih M.D.s, dan 85 mendapat gelar hukum. Angkat ini 10 sampai 30 kali lebih banyak ketimbang prestasi akademik dari 800 pria yang IQ-nya normal (rata-rata).

Dari 672 wanita, dua pertiganya lulus sarjana pada 1930-an dan seperempatnya masuk ke pascasarjana (Terman & Oden, 1959). walaupun prestasi pendidikan mereka mengesankan pada masa itu, ketika diminta mengurutkan prioritas hidupnya, mereka sering  mendahulukan keluarga, lalu persahabatan dan berikutnya karier, meskipun 25 sampai 30 sari wanita yang sukses itu tidak punya anak. Wanita berbakat dalam studi Terman merepresentasikan kelompok yang melewati kanak-kanak, dan sebagaian dari mereka dewasa mereka, pada era sebelum muncul gerakan wanita dan pasangan yang sama-sama berkarier dan sebelum muncul gerakan wanita dan pasangan yang sama-sama berkarier dan Single-parent (Tomlinson-Keasey, 1993). studi wanita berbakat pada masa sekarang menunjukkan bahwa mereka lebih percaya diri dalam kemampuan kognitifnya ketimbang mereka yang termasuk dalam studi Terman (Tomlinson-Kasey, 1997).

Sebagai suatu kelompok, orang-orang berbakat dalam studi Terman telah matang secara intelektual sebelum waktunya, tetapi mereka tidak mengalami gangguan emosional atau penyesuian diri. Temuan ini juga muncul dalam sejumlah studi anak berbakat yakni mareka yang bisa menyesuaikan diri, atau lebih baik dalam menyesuaikan diri, atau lebih baik dalam menyesuaikan diri ketimbang anak-anak yang tidak berbakat (Winner, 1996). namun anak yang sangat cerdas (dengan IQ 180 atau lebih) sering mengalami masalah dalam menyesuaikan diri ketimbang anak yang tidak berbakat (Keogh & MacMillan, 1996).



Steven Ceci (1990) mengatakan bahwa analisa terhadap perkembangan kelompok dalam studi Terman menunjukkan sesuatu yang penting. Bukang IQ saja yang membuat mereka suskes. Banyak anak berbakat dalam studi Terman berasal dari keluarga menengah ke atas, orang tuanya punya ekspektasi tinggi atas anak mereka dan mau membimbing anak mereka menuju kesuksesan. Akan tetapi, segelitir dari anak berbakat paling suskses dalam studi Terman ternyata berasal dari keluarga menengah ke bawah. Jadi, kesuksesan dalam hidup bagi individu berbakat tidak harus selalu diiringi dengan kekayaan keluarganya.

Mendidik Anak Berbakat
Anak berbakat yang tidak merasa tertantang dapat mengganggu, tidak naik kelas, dan kehilangan semangat untuk berprestasi. Terkadang anak-anak ini suka membolos, pasif, dan apatis terhadap sekolah (Roselli, 1996).
  1. Kelas khusus. Secara historis, ini adalah cara lazim untuk mendidik anak berbakat. Kelas khusus selama masa sekolah reguler dinamakan program “pull-out”. Beberapa kelas khusus diselenggarakan setelah sekolah reguler, atau di masa liburan.
  2. Akselerasi dan pengayaan di kelas reguler.
  3. Program mentor dan pelatihan. Beberapa pakar percaya ini adalah cara penting yang jarang dipakai untuk memotivasi, menantang, dan mendidik anak berbakat secara efektif (Pleiss & Feidhusen, 1995).
  4. Kerja studi dan/atau program pelayanan masyarakat.
Reformasi pendidikan telah melahirkan banyak strategi di kelas umum, strategi yang dahulu merupakan program untuk kelas khusus. Strategi ini antara lain penekanan pada pembelajaran berbasisi problem, menyuruh anak melakukan proyek, menciptakan portofolio, dan pemikiran kritis. Dikombinasikan dengan penekanan pada pendidikan semua anak dikelas umum, banyak sekolah sekarang berusaha menentang dan memotivasi anak yang berbakat dikelas reguler (Hertzog, 1998). beberapa sekolah juga menyelenggarakan belajar pulang sekolah pada hari sabtu atau memberi pelatihan, kerja/studi, atau program pelayanan masyarakat. Jadi, disediakan serangkaian kesempatan di dalam di luar sekolah.

Muncul debat yang fokus pada apakah anak berbakat harus ditempatkan di program akselerasi atau pengayaan/pedalaman (Feldhusen, 1997). program akselerasi adalah memindahkan murid secara cepat mungkin sesuai dengan kemajuan mereka. Program akselerasi mencakup masuk sekolah awal (ke TK, SD, SMP, SMA, atau universitas), loncat kelas, mengikuti pelajaran tambahan atau kursus lainnya, dan mengikuti penempatan kelas. Guru mengabaikan beberapa materi yang dianggap tidak penting lagi oleh anak berbakat.
Program pengayaan adalah memberikan murid kesempatan untuk mendapatkan pembelajaran yang tidak didapatkan di kurikulum umum. Kesempatan pengayaan dapat disediakan di kelas reguler, melalui jam tambahan khusus, melalui guru khusus pendidikan anak berbakat, melalui studi independen, sepulang sekolah, pada hari sabtu atau musim panas, dan melalui pelatihan/magang, atau melalui program kerja/studi lainnya. Salahsatu tipe program pengayaan adalah mengembangkan keterampilan berfikir kritis dan kreatif, dan memberi mereka kesempatan untuk memilih sendiri bidang studinya (Renzulli & Reiss, 1997). anak banyak kriteria, termasuk kriteria kretivitas dan komitmen.

Evaluasi riset terhadap program akselerasi dan pengayaan belum mengungkapkan pendekatan mana yang terbaik (Winner, 1997). beberapa penelitian telah pengkritik anak lain yang secara fisik lebih besar dan berbeda secara sosioemosional. Peneliti lain menemukan bukti yang mendukung program pengayaan (Renzulli & Reiz, 1997).

Ela Winner (1997) mengatakan bahwa sering kali anak-anak berbakat akan termasuk isolasi secara sosial dan tidak mendapat tantangan yang berarti di kelas. Mereka kerap diejej dan dijuluki “kutu buku” atau “orang aneh” (Silverman, 1993). jika seorang murid adalah satu-satunya anak berbakat di kelasnya, maka dia tak punya kesempatan untuk belajar dengan murid yang setara kemampuannya. Banyak orang dewasa yang terkenal dan dahulu adalah anak berbakat melaporkan bahwa sekolah mereka merupakan pengalaman buruk. Mereka bosan dan terkadang lebih tahu daripada guru mereka (Blomm, 1985). Winner percaya bahwa pendidikan Amerika akan lebih baik jika standarnya dinaikkan untuk semua murid. Jika masih ada anak yang merasa tidak tertantang, dia merekomendasikan agar anak  itu diizinkan untuk lompat kelas atau masuk ke kelas khusus. Misalnya, beberapa yang sesuai dengan bidang bidang kemampuannya.


Sumber: Buku Psikologi Pendidikan , edisi kedua. John W. Santrock, Universty of Texas-Dallas

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer