Breaking News
Loading...
Minggu, 01 April 2012

CIRI-CIRI BUDAYA ORGANISASI

Budaya organisasi yang dapat diamati ialah pola-poola perilaku yang merupakan manifestasi atau ungkapan-ungkapan dari asumsi-asumsi dasar dan nilai-nilai. O'Reilly, Chatman, dan Caldwell menemukan ciri-ciri oranganisasi sebagai berikut:
  1. Inovasi dan pengambilan risiko (innovation and risk taking). Mencari peluang baru, mengambil risiko, bereksperimen, dan tidak merasa terhambat oleh kebijakan dan praktek-praktek formal.
  2. Stabilitas dan keamanan (stability and security). Menghargai hal-hal yang dapat diduga sebelumnya (predictability), keamanan, dan penggunaan dari aturan-aturan yang mengarahkan perilaku.
  3. Penghargaan kepada orang (respect for people). Memperlihatkan toleransi, keadilan dan penghargaan terhadap orang lain.
  4. Orientasi hasil (outcome orientation). Memiliki perhatian dan harapan yang tinggi terhadap hasil, capaian dan tindakan.
  5. Orientasi tim dan kolaborasi (team orientation and collaboration). Bekerja bersama secaraa terkoordinasi dan berkolaborasi.
  6. Keagresifan dan perjuangan (aggressiveness and competition). Mengambil tindakan-tindakan tegas di pasar-pasar menghadapi para pesaing.
Robbins (1998) menyatakan hasil-hasil penelitian yang mutakhir menetapkan bahwa ada tujuh ciri-ciri utama yang, secara keseluruhan, mencakup esensi dari budaya organisasi. Ketujuh ciri-ciri tersebut adalah:
  1. Inovasi dan pengembangan risiko. Sejumlah mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan berani mengambil risiko.
  2.  Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan kacermatan, analisa dan perhatiann terhadap detail.
  3. Orientasi ke keluaran. Sejauh mana manajemen lebih berfokus pada hasil-hasil dan keluaran daripada kepada teknik-teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai keluaran tersebut.
  4. Orientasi ke orang. Sejauh mana keputusan-keputusan yang diambil manajemen ikut memperhitungkan dampak dari keluarannya terhadap para karyawannya.
  5. Orientasi team. Sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja lebih diorganisasi seputar kelompok-kelompok (team) daripada seputar perorangan.
  6. Keagresifan. Sejauh mana orang-orang  lebih agrasif dan kompetitif daripada santai.
  7. Stabilitas. Sejauh mana kegiatan-kegiatan keorganisasian lebih menekankan status quo dibandingkan dengan pertumbuhan.
Kalau diperhatikan kedua daftar ciri-ciri di atas tidak dapat disimpulkan mana yang lebih tepat mencerminkan budaya organisasi perusahaannya. Sehein tidak setuju untuk memakai kuesioner untuk mengetahui budaya organisasi satu perusahaan. Dan yang dapat dikumpulkan melalui kuesioner tidak mungkin lengpat dan dapat menggambarkan kekhasan dari budaya organisasinya. Ia menyarankan untuk menggunakan ancangan diagnosis klinis. Peneliti untuk beberapa lama terjun ke perusahaan dan mengadakan observasi dan wawancara denga pimpinan dan karyawan dan menggunakan daftar asumsi-asumsi dasar keyakinan-keyakinan sebagai kerangka penelitiannya.

Sumber: Psikologi dan  Organisasi. Asher Sunyato Munandar. Penerbit universitas indonesia (UI. Press). 2008

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer