PEMBAGIAN NILAI UANG - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Kamis, 19 April 2012

PEMBAGIAN NILAI UANG

Nilai Nominal dan Nilai Intrinsik
Kita dapat membedakan nilai uang menjadi nilai nominal dan nilai intrinsik.
Nilai Nominal
Kalau kita memiliki uang saku sebesar Rp. 5.000,00 yang berwujud selembar uang lima ribuan, cobalah kiata amati yang tersebut. Bacalah semua tulisan yang ada dalam uang tersebut. Tentu saja kalian menemukan tulisan “LIMA RIBU RUPIAH” dan angka “5.000”, Karena uang tersebut bertuliskan lima ribu maka pemerintah dan seluruh anggota masyarakat menerima uang tersebut dengan nilai lima ribu rupiah. Berarti lima ribu itu merupakan nilai nominalnya.

Nilai Intrinsik
Apakah kalian mempunyai selembar poster yang bergambar artis-artis film atau pemain sepak bola? Berapa harga bergambar (poster) tersebut? Harga kertas bergambar dengan harga keseluruhan sepuluh lembar poster bergambar dengan harga keseluruhan sepuluh lembar poster dengan harga keseluruhan sepuluh lembar poster bergambar dengan harga keseluruhan sepuluh ribu rupiah. Berarti, harga per lembar adalah seribu rupiah. Seribu rupiah tersebut merupakan nilai intrinsik.

Mungkin saja kita mempunyai lembaran kertas mainan yang bergambar uang (bukan uang sungguhan). Per lembar harganya Rp 500,00 Lima ratus rupiah tersebut merupakan nilai intrinsik. Sekalipun kertas tersebut bergambar uang puluhan ribu, namun nilai intrinsiknya tetap hanya lima ratus rupiah.

Kembali kepada uang saku kita yang bernilai nominal lima ribu rupiah (uang sungguhan). Biaya yang diperlukan untuk mencetak selembar uang lima ribuan tersebut mungkin tidak lebih dari lima ratus rupiah. Nah, biaya untuk membuat uang tersebut yang disebut nilai intrinsik. Biasanya nilai nominal uang kertas lebih besar daripada nilai intrinsiknya, sedangkan untuk uang logam, nilai nominalnya nyaris sama dengan nilai intrinsiknya.

Nilai Internal dan Nilai Eksternal
Nilai Internal Uang

Nilai uang dikatakan turun apabila dengan jumlah uang yang sama, jumlah barang yang dapat dibeli dengan uang tersebut menjadi lebih sedikit dari sebelumnya. Misalnya, dengan uang seribu rupiah kita dapat membeli beras Cianjur sebanyak satu kilogram. Padahal kita dapat membeli jenis beras yang sama dengan jumlah uang yang sama sebanyak satu setengah kilogram setahun yang lalu. Dengan contoh ini, dapat dikatakan bahwa nilai uang turun. Nilai uang yang dimaksud adalah nilai internal.

Dalam ilmu ekonomi, peningkatan tingkat harga umum yang berlangsung secara terus-menerus dalam suatu kurun waktu disebut inflasi. Akibatnya nilai rill uang pun turun secara umum. Sebaliknya, penurunan tingkat harga umum secara terus-menerus dalam satu kurun waktu disebut deflasi. Penurunan ini mengakibatkan nilai riil uang naik secara umum.

Banyak jumlah yang yang beredar akan berpengaruh terhadap nilai riil uang. Kalau jumlah uang yang beredar terlampau banyak, maka harga-harga barang akan tinggi. Artinya, nilai uang turun. Sebaliknya, kalau jumlah uang yang beredar terlampau sedikit maka harga-harga barang akan murah. Hal ini bararti nilai uang naik. Pada umumnya, masyarakat lebih menyukai nilai uang yang stabil agar tidak terjadi gejolak ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah melaksanakan kebijakan untuk mengatur banyak uang yang beredar agar nilai uang tetap stabil.

Nilai Eksternal Uang (Kurs Mata Uang)
Karena tiap-tiap negara mempunyai mata uang, maka adanya hubungan ekonomi antarnegara menimbulkan kurs (nilai) mata uang untuk berbagai mata uang asing. Apabila orang Indonesia mengimpor barang dari Jepang, maka eksprotir Jepang menghendaki pembayaran dalam mata uang Yen. Oleh karena itu, orang Indonesia tersebut harus menukarkan uang Rupiahnya ke dalam mata uang Yen. Dasar pertukaran tersebut adalah kurs Rupiah terhadap Yen. Demikian pula kalau para tenaga kerja Indonesia, mereka harus menukarkan uang tersebut menjadi Rupiah. Dasar untuk menilai pertukaran Ringgit dengan Rupiah adalah kurs Ringgit terhadap Rupiah.

Penukaran suatu mata uang dengan mata uang lain dilakukan di bank-bank devisa melayani penukaran mata uang asing (money charnger).

Sumber: Buku Ekonomi. Suyanto. Nurhadi

1 komentar:

Popular Posts

 
Toggle Footer