ILMU SEBAGAI ASAS MORAL - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 25 Juni 2012

ILMU SEBAGAI ASAS MORAL


Ilmu merupakan kegiatan berfikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, atau secara lebih sederhana, ilmu bertujuan untuk mendapatkan kebenaran. Criteria kebenaran dalam ilmu adalah jenis sebagaimana yang dicerminkan oleh karakterisitik berfikir. Criteria kebenaran ini pada hakikatnya berfikir otonom dan terbesar dari struktur kekuasaan di luar bidang keilmuan. Artinya dalam menetapkan suatu kenyataan apakan itu benar atau tidak maka seorang ilmuwan akan mendasarkan penarikan kesimpulan kepada argumentasi yang terkandung dalam pertanyaan itu dan bukan kepada argumentasi yang terkandung dalam pertanyaan itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari kelembagaan yang mengeluarkan pertanyaaan itu. Hal ini sering menempatkan kaum ilmuwan dalam posisi yang bertentangan dengan pihak yang berkuasa yang mungkin mempunyai criteria kebenaran yang lain. Criteria ilmuwan dan politikus dalam membuat pertanyaan adalah berbeda seperti yang dinyatakan ahli fisika Szilard: Jika seorang ilmuwan mengatakan sesuatu maka rekan-rekannya pertama sekali akan bertanya apakah yang dinyatakannya itu mengandung kebenaran atau tidak. Sebaliknya jika seorang politikus mengatakan sesuatu maka rekan-rekannya pertama sekali akan  bertanya. “Mereka ia menyatakan hal itu?” dari bau kemudian, atau bahkan mungkin juga tidak, mereka mempertanyakan apakah pertanyaan itu mengandung kebenaran.

Disamping itu kebenaran bagi kaum ilmuwan mempunyai kegunaan khusus yakni kegunaaan yang universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat kemanusiaannya. Secara nasional maka ilmuwan tidak mengabdi golongan, klik politik atau kelompok-kelompok lainnya. Secara internasional kaum ilmuwan tidak mengabdi ras, ideology dan factor-faktor pembatasan lainnya.

Dua karakteristik ini merupakan asas moral bagi kaum ilmuwan yakni meninggalkan kebenaran  dan  pengabdian secara universal. Tentu saja dalam kenyataannya pelaksanaan asas moral ini tidak mudah sebab sejak tahap perkembangan ilmu yang sangat awal kegiatan ilmiah ini dipengaruhi oleh struktur kekuasaan dari luar. Hal ini, menurut Bachtiar Rifai, lebih menonjol lagi di Negara-negara yang sedang berkembang, karena sebagian besar kegiatan keilmuwan merupakan kegiatan aparatur Negara.



Sumber: FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Populer. Jujun S. Suriasumantri. Dengan Kata Pengantar Andi Hakim Nasution. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta 2001.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer