TEORI KEPRIBADIAN DALAM KONSELING RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 01 Juni 2012

TEORI KEPRIBADIAN DALAM KONSELING RASIONAL EMOTIF BEHAVIOR

Untuk memahami dinamika kepribadian dalam pendangan REBT, perlu memahami konsep-konsep dasar yang dikemukakan Ellis. Menurut Ellis (1994) ada tiga hal yang terkait dengan perilaku, yaitu antecedentevent (A), belief (B) dan emotional consequence (C), yang kemudian dikenal dengan konsep A-B-C

Antecendent event (A) merupakan peristiwa pendahuluan yang berupa fakta, peristiwa, perilaku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk begi calin karyawan dapat merupakan antecedent event bagi seseorang. Prinsipnya segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu adalah antecedent event bagi seseorang. Prinsipnya segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu adalah antecedent event.

Belief (B) adalah keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). keyakinan yang rasional merupakan cara berfikir atau system berfikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dank arena itu tidak produktif.

Emotional consequence© merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecedent event(A). konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rasional (rB) atau irrasional (iB).

Menurut Ellis (1994) perilaku seseorang khususnya konsekuensi emosi: senang, sedih, frustasi, bukan disebabkan secara langsung oleh peristiwa yang dialami individu. Perasaan-perasaan itu diakibatkan oleh cara berfikir atau system kepercayaan seseorang. Peristiwa yang terjadi disekitar kita (seperti sikap orang lain) atau yang di alami individu (kegagalan melaksanakan tugas, misalnya) akan direaksi sesuai dengan system keyakinannya. Keadaan neurotic umumnya dipelajari atau dibuat melalui pengajar awal atau keyakinan yang tidak rasional oleh anggota keluarga atau masyarakat. Kalau kita gambarkan hubungan antara peristiwa, sistem keyakinan dan reaksi.

System keyakinan individu berkisar pada dua kemungkinan, yaitu rasional atau tidak rasional. Jika mampu berfikir secara tidak rasional maak tidak akan mengalami hambatan emosional. Menurut Ellis orang yang berkeyakinan rasional akan mereaksi peristiwa-peristiwa yang dihadapi kemungkinan mampu melakukan sesuatu secara realistic (Hansen dkk. 1977). Sebaliknya, jika individu berkeyakinan irrasional, dalam menghadapi berbegai peristiwa, akan mengalami hambatan emosional, seperti perasaan cemas, menganggap ada bahaya sedang mengancam dan pada akhirnya akan melakukan atau mereaksi peristiwa itu secara tidak realistic. Pada seseorang dapat terjadi di suatu saat dia memiliki pandangan yang rasional dan pada saat yang lain irrasional.

System keyakinan ini pada dasarnya diperoleh individu sejak kecil dari orangtua, masyarakat atau lingkungan dimana anak hidup. Mengapa anak tidak mampu berpikir rasional? Ellis mengemukakan sebab-sebab individu tidak mampu bepikir secara rasional karena hal-hal berikut (Nelson-Jones, 1980).
  1. Anak tidak berfikir secara jelas tentang yang ada saat ini dan yang akan dating, antara kenyataan dan imajinasi.
  2. Anak tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain.
  3. Orangtua dan masyarakat mamiliki kecenderungan berpikir irrasional dan diajarkan kepada anaka melalui berbagai media.

Ellis (1984, 1997) beranggapan bahwa berbagai system keyakinan yang ada dimasyarakat termasuk di antarany agama, dan mistik banyak tidak membantu orang menjadi sehat, tetapi sebaliknya seringkali membahayakan dan menghentikan terbentuknya kehidupan yang sehat secara psikologis.


Sumber: PSIKOLOGI KONSELING, Edisi Ketiga. Latipun.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer