FUNGSI DAN PERAN TERAPIS DALAM TERAPI TINGKAH LAKU - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 14 Juli 2012

FUNGSI DAN PERAN TERAPIS DALAM TERAPI TINGKAH LAKU


Terapi tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai gutu, pengaruh, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptive dan dalam menentukan prosedur – prosedur penyembuhan diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.

Sebagai hasil tinjauannya yang seksama atau kepustakaan psikoterapi Krasner (1967) mengajukan argumen bahwa peran seorang terap, terlepas dari aliansi teorinya, sesungguhnya adalah “mesin perkuatan.” Apapun yang dilakukannya, terapi pada dasarnya terlibat dalam pemberian perkuatan – perkuatan sosial, baik yang positif maupun yang negative. Bahkan meskipun mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang netral sehubungan dengan pertimbangan – pertimbangan nilai, terapis membentuk tingkah laku klien, baik melalui cara – cara langsung maupun melalui cara  - cara tidak langsung. Krasner (1967, hlm, 202) menandakan bahwa “terapis atau pemberi pengaruh adalah suatu mesin perkuatan, yang dengan kehadirannya memasok perkuatan yang digeneralisasikan pada setiap kesempatan dalam situasi terapi, terlepas dari teknik atau kepribadian yang terlibat ia menyatakan bahwa tingkah laku klien tunduk pada manipulasi yang halus oleh tingkah laku terapis yang memperkuat. Hal itu acap kali terjadi tanpa disadari, baik oleh klien maupun oleh terapis. Krasner (1967), dengan mengutip kepustakaan, menunjukkan bahwa peran terapis adalah memanipulasi dan mengendalikan psikoterapis dengan pengetahuan dan kecakapannya menggunakan teknik – teknik belajar dalam suatu situasi perkuatan sosial. Krasner lebih lanjut menyatakan bahwa, meskipun sebagaian besar terapis tidak senang dengan peran “pengendali” atau “manipulator” tingkah laku, istilah – istilah tersebut menerangkan secara cermat apa sesungguhnya peran terapis itu, ia mengutipbukti untuk menunjukkan bahwa atau dasar perannya, terapi memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan mengendalikan tingkah laku dan nilai – nilai manusia lain. Ketidaksediaan terapis untuk menerima situasi ini dan terus – menerus tidak menyadari efek – efek tingkah lakunya atas para pasiennya itu pun “ tidak etis” (Krasner, 1967, hlm. 204)

Goodstein (1972) juga menyebut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Menurut Goodstein (hlm. 274), “peran konselor adalah menunjang perkembangan tingkah laku yang secara sosial layak dengan secara sisternatis memperkuat jenis tingkah laku klien semacam itu”. Minat perhatian, dan persetujuan (ataupun ketidakberminatan dan ketidaksetujuan) terapis adalah penguat – penguat yang hebat bagi tingkah laku klien. Penguat – penguat tersebut bersifat interpersonal dan melibatkan bahasa, baik verbal maupun nonverbal, serta acap kali tanpa peran mengendalikan tingkah laku klien yang dimainkan oleh terapis  melalui perkuatan menjangkau situasi di luar konseling serta dimasukkan ke dalam tingkah laku klien dalam dunia nyata: “Konselor mengganjar respons – respons tertentu yang dilaporkan telah ditampilkan oleh klien dalam situasi – situasi kehidupan nyatan dan menghukum respons – respons yang lainnya. Ganjaran – ganjaran itu adalah persetujuan, minat, dan kepribadian. Perkuatan semacam itu penting terutama pada periode ketika klien mencoba respons – respons atau tingkah laku baru yang belum secara tetap diberi perkuatan oleh orang lain dalam kehidupan klien” (Goodstein, hlm. 275). Salah satu penyebab munculnya hasil yang tidak memuaskan adalah bahwa terapis tidak cukup memperkuat tingkah laku baru dikembangkan oleh klien satu fungsi penting lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Bandura (19(9) menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu prose fundamental yang memungkinkan klien bisa mempelajari tingkah laku, baru adalah imitasi atau percontohan sosial yang disajikan oleh terapis. Terapis sebagai pribadi menjadi model yang penting bagi klien. Karena klien sering memandang terapis sebagai orang yang patut diteladani, klien acap kali meniru sikap – sikap, nilai – nilai, kepercayaan – kepercayaan, dan tingkah laku terapis. Jadi, terapis harus menyadari peranan penting yang dimainkan dalam proses identifikasi. Bagi terapi, tidak menyadari kekuatan yang dimilikinya dalam memperkuat dan membentuk cara berfikir dan bertindak kliennya, berarti mengabaikan arti penting kepribadiannya sendiri dalam proses terapi.




Sumber: Teori dan Praktek KONSELING & PSIKOTERAPI. Gerald Corey (Hlm. 202 – 204)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer