KONSEKUENSI MOBILITAS SOSIAL - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 08 Juli 2012

KONSEKUENSI MOBILITAS SOSIAL


Mobilitas sosial merupakan perpindahan seseorang atau kelompok orang dari suatu kedudukan sosial tertentu ke kedudukan sosial yang lain, baik yang sederajat maupun tidak sederajat. Mobilitas sosial mengandung pengertian tentang perubahan atau proses yang terjadi dalam masyarakat . jika perubahan itu diikuti dengan pernyesuaian terhadap kondisi baru, individu yang mengalami perubahan tidak menghadapi masalah. Namun, apabila penyesuaian terhadap kondisi baru tersebut tidak dapat berlangsung, akan timbul persoalan sebagai konsekuensi adanya perubahan. Konsekuensi itu berupa proses sosial yang disosiatif, misalnya konflik. Konflik sebagai konsekuensi dari mobilitas dari monilitas sosial dapat berupa konflik antarkelas, antarkelompok sosial, atau antargenerasi.

Sebagai konsekuensi mobilitas sosial, konflik sebenarnya merupakan sarana untuk mencapai suatu keseimbangan antara berbagai kekuatan  yang ada dalam masyarakat setelah keseimbangan lama terganggu oleh adanya perubahan kedudukan akibat mobilitas sosial. Jadi, walaupun konflik merupakan suatu proses yang diasosiatif, mobilitas tetap saja merupakan satu bentuk proses sosail yang mempunyai fungsi dan akibat positif bagi masyarakat.

Konflik Antar Sosial
Mobilitas sosial berupa masuknya individu ke  dalam kelas sosial baru, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah, kemudian membentuk kolompok sosial bagu oleh individu. Adanya hal tersebut mengganggu keseimbangan dalam masyarakat. gangguan keseimbangan itu berkaitan dengan kepentingan individu atau kelompok, sehubungan dengna adanya orang baru atau kelompok baru dalam suatu kelas sosial. Konflik terjadi karena adanya benturan kepentingan, baik kepentingnan ekonomi, politik, maupun kepentingan sosial lainnya yang berada dalam kelompok sosial tertentu dengan orang lain yang beru masuk ke dalam kelompok tersebut. Misalnya, konflik sosia antara majikan dengan buruh sehubungan dengan keinginan kelompok buruh menaikkan kedudukan sosialnya, misalnya melalui upah.

Konflik AntarKelompok Sosial
Keseimbangan hubungan sosial dalam masyarakat dapat terganggu pula oleh atau turunnya kedudukan kelompok sosial yang ada sehingga menimbulkan konflik antarkelompok. Misalnya, konflik antarparta politik yang terjadi setelah pemilihan kepala daerah. Pendukung parta politik yang kalah terkadang sulit menerima kekalahan kemenangan partai politik lawan.

Konflik Antargenerasi
Perbedaan kedudukan sosial antar satu generasi dengan generasi sebelumnya tidak jarang menimbulkan konflik antargenerasi, yaitu antara golongan tua dan golongan muda. Naiknya golongan muda ke kedudukan sosial yang lebih tinggi sering membuat generasi muda tidak lagi menghormati generasi tua yang dianggap sebagai generasi terbelakang, kuno, kolot, dan seterusnya. Sebaliknya, generasi tua sering beranggapan bahwa pola hidup atau kebudayaan mereka selama ini merupakan yang paling mulia dan utama. Pola hidup atau kebudayaan yang hidup dan berkembang pada kelompok mereka dianggap telah melenceng atau menyimpan dari adat. Hal itu memungkinkan timbulnya konflik antargenerasi. Padahal, apabila setipa pihak dapat saling menyesuaikan diri dengan keadaan baru, konflik antargenerasi tidak perlu terjadi. Persoalan utama dari setiap perubahan adalah sulitnya menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

Konflik Status dan Konflik Peranan
Dalam diri individu yang mengalami mobilitas sosial, jika tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan baru akan mengalami konflik yang bersifat individu. Misalnya, dalam bentuk konflik peranan, yaitu pertentangan antara satu status dan status yang lain dalam diri seseorang individu yang disebabkan oleh adanya kepentingan dari tiap status yang saling bertentangan.

Konflik status terjadi karena setiap individu pada umumnya menyandang berbagai status sekaligus. Konflik status itu akan muncul apabila dua status atau lebih muncul secara berbarengan. Misalnya, seseorang hakim memimpin persidangan yang mengadili seorang terdakwa. Ternyata, terdakwa itu dulu pernah menolongnya. Dalam kasus ini terdapat dua status yang aktif dalam diri si hakim dan masing-masing memiliki kepentingan yang saling berbeda. Status sebagai hakim bertugas mengadili orang yang melanggar hokum dan status sebagia orang yang pernah ditolong serta memiliki kepentingan untuk membalas budi. Di sini terjadi konflik status yang akan diikuti dengan timbulnya konflik peranan.

Di samping konsekuensi berbentuk konflik, mobilitas sosial dalam masyarakat juga mempunyai keuntungan. Keuntungan itu dapat dirasakan oleh para warga masyarakat apabila dapat menyesuaikan diri dengan keadaan baru yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial. Beberapa keuntungan tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Individu atau kelompok yang mempunyai kecakapan atau kemampuan tertentu dapat mewujudkan harapannya. 
  2. Individu atau kelompok dapat merasakan kepuasan apabila dengan mencapai kedudukan yang diinginkannya atau dapat meningkatkan kedudukan sosialnya dalam masyarakat. 
  3. Tidak tertutup kemungkinan bagi para warga kelas sosial tertentu untuk lebih maju dari warga kelas sosial di atasnya. 
  4. Mobilitas sosial memberikan dorongan kepada warga masyarakat, individu, ataupun kelompok untuk bekerja lebih baik dan lebih sempurna karena adanya harapan untuk meraih prestasi yang lebih. Dalam banyak hal, system lapisan tertutup mengakibatkan timbulnya frustasi bagi kelompok atau kelas sosial tertentu karena tidak adanya harapan untuk melakukan mobilitas vertical ke kedudukan atau kelas yang lebih tinggi.




Sumber: Ilmu Pengetahuan Sosial, Sosiologi. Pabundu Tika. Amin. Andi Sopandi. Mita Widyastuti. (Hal. 62 – 65)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer