CIKAL BAKAL PERKEMBANGAN KONSELING - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 07 Juli 2012

CIKAL BAKAL PERKEMBANGAN KONSELING


Latar belakang perkembangan profesi konseling tidak dapat dipisahkan dari dua jalur penanganan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Barat, yaitu tradisi penyembuhan gangguan mental dan penanganan masalah – masalah pendidikan dan pekerjaan di sekolah.

Moursund (1990) mengungkapkan bahwa tradisi penyembuhan terhadap berbagai penyakit di kalangan masyarakat Eropa terhadap berbagai jenis penyakit dikalangan masyarakat Eropa, khususnya masyarakat Yunani, baik penyakit fisik maupun mental pada beberapa abad yang lampau pada umumnya dilakukan secara tradisional yaitu dengan jalan menghubungkan – hubungankan suatu gangguan mental dengan kepercayaan terhadap tahayul dan kekuatan magis. Metode penyembuhan yang ada di Eropa ini sebenarnya jauh ketinggian jika dibandingkan dengan kemajuan metode penyembuhan yang ada di Asia dekat yang telah menggunakan pendekatan ilmiah.

Pada abad ke delapan, menurut Moursund, rumah sakit-rumah sakit besar di Bagdad dan Dasmaskus telah memiliki psikiater untuk menangani pasien yang mengalami kelainan mental psikiater untuk menangani pasien yang mengalami kelainan mental, yang tidak dijumpai diberbagai rumah sakit di Eropa. Baru pada abad ke 13, beberapa rumah sakit besar di Eropa seperti di Prancis, Jerman, dan Inggris memiliki tenaga psikiater untuk menangai pasien yang menderita kelainan mental.

Moursund mengungkapkan lebih lanjut bahwa baru pada abad ke-17 studi tentang kelainan mental kian banyak memperoleh perhatian dari kalangan ahli kesehatan Eropa. Thomas Sydenham misalnya pada 1689 menulis sebuah artikel tentang hysteria sebagai penyakit khusus, bidang kesehatan mental ini, misalnya neurosis, hipnotis dan sebagainya.

Studi tentang kelainan mental dan proses penyembuhan itulah yang secara historis telah mendorong berkembangan metodologi bantuan terhadap orang-orang yang mengalami masalah-masalah mental. Metodologi penyembuhan atau penanganan terhadap problem-problem mental ini yang kita sebut sebagai psikoterapi. Sigmund Freud merupakan tokoh utama dalam mengenalkan istilah psikoterapi ini pada awal abad ke 20. Sejak masa inilah, psikoterapi di kembangkan secara meluas di klinik-klinik rumah sakit untuk mengatasi berbagai gangguan mental.
Kesadaran terhadap upaya mengatasi masalah psikologis terus berkembang. Upaya mengatasi masalah kejiwaan ini tidak hanya dilakukan terhadap orang-orang yang menderita gangguan mental. Orang yang mengalami hambatan, kegagalan, atau ketidak puasan terhadap apa yang diharapkan juga merasa membutuhkan bantuan dari pihak lain. Mereka yang bermasalah ini sekalipun tidak mengalami gangguan jiwa juga beranggapan membutuhkan bantuan untuk dapat menyesuaikan diri secara tepat, termasuk di dalamnya dalam penyesuaian di sekolah, tempat kerja, keluarga, dan sebagainya. Kemajuan penanganan terhadap penderita gangguan jiwa tersebut turut memajukan bagi perkembangan teori dan praktik konseling.

Sedangkan cikal bakal profesi konseling dari segi penanganan terhadap masalah-masalah pendidikan dan vokasional diungkap dalam berbagai literature, bahwa secara kelembagaan konseling mulai ada pada 1896, yaitu sejak Lightner Witner membentuk sebuah klinik yang disebutnya sebagai Psychological Counseling Clinic di University of Pennasyvania. Dua tahun berikutnya Jesse B. Davis mulai bekerja sebagai konselor pada Central High School di Detroit. Davis bertindak sebagai konselor di lembaga pendidikan itu bertujuan membantu siswa yang mengalami masalah-masalah pendidikan itu bertujuan membantu siswa yang mengalami masalah-masalah pendidikan dan vokasional (Nugent, 1981). Maka sejak itulah konseling lebih dikenal di Masyarakat Amerika.

Perkembangan konseling (dan psikoterapi) kian maju setelah banyak ahli mengembangkan teori-teori psikologi dan konseling. Diantara pada ahli yang turut membantu mengembangkan konseling adalah Eli Weaver yang pada 1906 mempublikasikan sebuah pamphlet yang bertujuan Choosing a Career, dan pada 1908 Frank Parson mendirikan Vocational Bureau di Boston untuk membantu pemuda dalam memilih, mempersiapkan dan memasuki dunia kerja. Bersama dengan usahanya pada biro ini Person sekaligus mengembangkan konsep bimbingan dan konseling vokasional. Berkat kerja kersanya ini, Parson oleh sebagian kalangan disebut sebagai innovator konsep dan teknik konseling vokasional.

Perkembangan konseling terus berlanjut. Pada 1913 di Amerika didirikan National Vocational Guidance Association (NVGA), setelah itu berdiri American Psychologist Association (APA), American School Counselor Association (ASCA), dan Association for Counselor Education and Counselor Trainer (ACECT).
Secara teoritik perkembangan konseling sejalan dengan perkembangan psikologi dan psikiatri secara umum. Teori-teori psikologi dan psikiatri member sumbangan yang sangat berarti bagi perkembangan konseling. Sigmund Freud (1856 – 1939) peletak dasar psikoanalisis dan memberikan sumbangan bagi pemikiran psikologi konseling bawah sadar.

E. Williamson mengembangkan konseling sifat dan factor (trait and factor counseling), yang menuliskan gagasannya melalui buku  How to Counseling Strudent pada 1939 dan Counseling Adolescent pada 1950. Sementara itu, Carl Rogers psikolog yang memilih jalan humanistic sangat berjasa dalam menemukan inovasi-inovasi di bidang konseling dan psikoterapi. Rogers telah memperkenalkan konseling berpusat pada person (person centered counseling), dan sejumlah buku telah ditulisnya di antaranya adalah Counseling and Psychotherapy pada 1942, dan On Becoming a Person pada 1961. Berkat karya-karyanya yang progresif, Williamson dan Rogers ini dianggap sebagai dasar gerakan konseling modern Pietrofesa (1979).

Saat ini secara riil konselingtelah berkembang dengan sangat pesat. Perkembangannya tidak saja ditunjukkan oleh terbitannya sejumlah buku, jurnal dan berbagai penelitian konseling, tetapi juga ditunjukkan dengan tumbuhannya lembaga-lembaga konsultasi yang diantaranya memberi layanan konseling kepada masyarakat.



Sumber: THEORIES OF LEARNING (Teori Belajar). Edisi Ketujuh. B. Rhergenhahn Matthew H. Olson. (Hal. 16 – 18)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer