UNIVERSALITAS PSIKOLOGI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 30 Juli 2012

UNIVERSALITAS PSIKOLOGI


Kata “universal” (umum) menunjukkan pada pemberlakuan untuk semua orang atau melingkupi seluruh dunia.

Ilmu pengetahuan mengenal apa yang disebut ilmiah universal, yaitu dalil pengertian, ataupun aksioma yang berlaku umum. Sebagai ilmu, psikologi juga harus mempunyai sifat – sifat ini dan berarti bahwa psikologi harus mempelajari manusia dalam pengertian – pengertian yang berlaku umum di samping mempelajarinya sebagai totalitas kepribadian yang unik. Sifat umum yang terdapat pada setiap manusia, misalnya, adalah manusia dalam berpikir harus menggunakan simbol dan tiap – tiap tingkah laku manusia selalu didorong oleh kebutuhan.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dapat kita saksikan terjadinya suatu proses universalisasi yaitu semakin banyak realistis terjangkau oleh metode ilmiah. Proses universalisasi ini akhirnya berujung pada situasi yang serbabiasa bagi kita sekarang, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu bisa menjadi objek penelitian ilmiah.

Suatu tuntutan yang sepintas lalu tampaknya sedikit aneh adalah universalitas ilmu pengetahuan. Apakah universalitas bagi ilmu alam, umpamanya, dapat berlaku juga bagi ilmu pengetahuan psikologi yang justru terarah pada yang unik? Jawabnya harus bernuansa. Dengan caranya sendiri psikologi pun akan mencari yang universal atau umum. Akan tetapi, “umum” di sini tidak berarti “dapat diulangi”. Disini, “umum” menunjukkan bahwa hal – hal yang secara “genetis” mempunyai arti umum karena menjalankan suatu pengertian umum atas tingkah laku atau proses mental.

Yang dikatakan tentang universalitas tersebut dapat dikatakan juga tentang tuntutan objektivitas. Setiap ilmu seharusnya objektif, artinya terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka – prasangka subjektif.

Agar objektivitas terjamin sebaik mungkin, ilmu pengetahuan harus memenuhi juga tuntutan intersubjektivitas. Ilmu pengetahuan seperti psikologi harus dapat disertivikasi oleh semua penelitian ilmiah yang bersangkutan, biarpun verifikasi akan bersifat lain sejauh tipenya akan berbeda. Karena itu, psikologi harus dapat dikomunikasi. Bisa saja psikologi menggunakan suatu bahasa teknis yang hanya dimengerti para ahli, namun mestinya bahasa itu pada prinsipnya terbuka bagi siapa saja yang mempunyai bakat dan ingin berusaha menguasainya.

Dari beberapa definisi psikologi yang diberikan oleh para ahli, seperti yang telah kita bicarakan, pada prinsipnya sudah bahwa psikologi mempelajari tingkah laku dan proses mental manusia. Jadi, pada prinsipnya para hali sudah sepakat, walaupun beberapa masih terdapat perbedaan karena adanya sudut pandang yang berbeda pula, keadaan demikian adalah lumrah bagi suatu ilmu yang relatif muda seperti psikologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri, terlepas ikatannya dengan ilmu – ilmu lain, seperti filsafat, ilmu faal, ilmu kedokteran, dan sebagainya.

Universalitas psikologi ini, akhirnya, mencirikan sekaligus memenuhi syarat keempat bahwa psikologi sudah layak untuk disebut sebagai ilmu.

Masalah nilai universal dari konsep – konsep psikologi, menurut pengamatan Koentjaraningrat (1980 : 31 – 32), juga mendapat perhatian para ahli antropologi. Dengan pengalaman mereka dalam hal mempelajari bangsa – bangsa di luar Eropa, memperdalam ilmu psikologi, mereka mulai meragukan nilai universal dari beberapa konsep dan teori psikologi. Mereka meragukan apakah konsep – konsep dan teori – teori ini juga berlaku untuk individu – individu yang hidup di luar lingkungan masyarakat. Eropa – Amerika. Konsep “kegoncangan batin masa remaja”, milsanya, yang dianggap oleh para ahli psikologi sebagai gejala penting dalam pertumbuhan remaja dalam masyarakat kota di negara – negara Barat, menurut beberapa ahli antropologi, tidak dialami  oleh para remaja dalam masyarakat di luar Eropa, seperti masyarakat Samoa di Polinesia. Dengan demikian, konsep psikologikal tersebut hanya berlaku untuk masyarakat Ero – Amerika dan tidak mempunyai nilai universal. Tidak mengherankan apabila ilmu psikologi mempunyai beberapa konsep dan teori seperti itu, karena ilmu tersebut memang tumbuh di dalam masyarakat Ero – Amerika. Akan tetapi, dengan ikut campurnya para ahli antropologi dalam hal penggunaan konsep dan teori psikologi, timbulah isu ilmiah yang baru tadi, yang sebaliknya juga menguntungkan ilmu psikologi, karena dengan kritik para ahli  antropologi itu, para ahli psikologi dapat berusaha untuk lebih mempertajam konsep dan teori – teori yang mereka gunakan.




Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm. 59 – 60).

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer