TEORI ABRAHAM H. MASLOW - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 12 Desember 2012

TEORI ABRAHAM H. MASLOW

Salah satu seorang ilmuwan yang dipandang sebagai pelopor teori motivasi adalah Abraham M. Maslow. Hasil – hasil pemikirannya tertuang dalam bukunya yang berjudul “Motivasion and Personality.” Toeri motivasi yang dikembangkan pada tahun 40-an itu pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai llima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu: 

  1. Kebutuhan fisiologikal, sandang, pangan dan papan. 
  2. Kebutuhan keamanan, tidak hanya dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual. 
  3. Kebutuhan sosial. 
  4. Kebutuhan prestise yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol – simbol status. 
  5. Aktualisasi diri dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata. 

Kebutuhan – kebutuhan yang disebut pertama dan kedua kadang – kadang di klasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya, sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya di kenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia berbeda dari satu orang ke orang lain karena manusia merupakan makhluk individu yang khas. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi juga bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual. 


Menarik pula untuk mencatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang pentingnya unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin disempurnakan. Bahakan dapat dikatakan mengalami “koreksi”. 


Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut diarahkan terutama pada konsep “hierarki kebutuhan” yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti “anak tangga.” Logikanya ialah menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua dalam hal ini keamanan sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan dan papan terpenuhi. Yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasnya sebelum seseorang merasa aman. Demikian seterusnya. 


Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia semakin mendalam, penyempurnaan dan “koreksi” tersebut dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang. 


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini perlu ditekankan bahwa: 

  1. Kebutuhan yang satu sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang. 
  2. Pemuasan berbagai kebutuhan tertentu, terutama, kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kualitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya. 
  3. Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu. 

Ketiga hal di atas di dukung oleh berbagai teori motivasi lainnya yang dikembangkan kemudian oleh para pakar lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer