ETHIC DAN EMIC - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 16 Juli 2013

ETHIC DAN EMIC

Ketika membicarakan atau melakukan studi budaya dan perbandingan budaya, maka konsep Ethic dan Emic akan selalu muncul. Ethic dan Emic sebenarnya merupakan istilah antropologi yang dikembangkan oleh pike (1967), dalam Segall, 1990), istilah – istilah ini berasal dari kajian antropologi bahasa, yaitu Phonemix atau studi yang mempelajari bunyi – bunyian yang digunakan atau ditemukan pada semua bahasa atau universal pada semua budaya. Selanjutnya Pike menggunakan istilah Emic dan Ethic untuk menjelaskan dua sudut pandang (point of view) dalam mempelajari perilaku dalam kajian budaya. Ethic sebagai titik pandang dalam mempelajari budaya dari luar system budaya tersebut, dan merupakan pendekatan awal dalam mempelajari suatu system budaya tersebut, dan merupakan pendekatan awal dalam mempelajari suatu sistem  yang asing. Sedangkan Emic sebagai titik pandang merupakan studi perilaku dan dalam system budaya tersebut (Segall, 1990).

Selanjutnya para psikolog yang berminat pada kajian lintas budaya lebih menggunakan istilah Ethic dan Emic sebagai aspek daripada titik pandang atau cara pendekatan. Ethic adalah aspek kehidupan yang muncul konsisten pada semua budaya. Emic menjelaskan universalitas sebuah konsep kehidupan sedangkan Emic menjelaskan keunikan dari sebuah konsep pada satu budaya (Matsumoto, 19996).

Pemahaman akan kedua konsep ini menjadi dasar dalam melakukan pemahaman budaya dan perbedaan budaya sekaligus dalma melakukan studi dan analisa penelitian psikologi lintas budaya. Sebuah perilaku dari manusia dan kita akui kebenarannya sebagai sebuah Ethic, maka dapat dikatakan bahwa perilaku tersebut adalah universal termasuk dalma kebenarannya. Hasil penelitian yang dilakukan dapat digeneralisasikan dan dijadikan dasar dalam penelitian selanjutnya di manapun seting budaya dan penelitian tersebut dilakukan. Contoh penelitian ini adalah apa yang dilakukan Ekman mengenai ekspresi emosi dasar pada wajah (facial expression of emotion).

Sebaliknya, sebuah perilaku atau nilai yang ada hanya ditemukan pada satu budaya dan benar hanya pada budaya tersebut, dalam studi psikologi lintas budaya tersebut saja. Contohnya adalah ritual suku Indian Amerika untuk mengambil kulit kepala (scalp) dari musuhnya yang telah mati adalah satu perilaku Emic yang khas dan benar hanya pada budaya tersebut saja.

Contoh lain adalah masalah kelahiran, pernikahan, ataupun kematian yang setiap budaya memiliki pandangan dan terlebih penting ritual yang berbeda – beda. Ini adalah contoh Emic bagaimana setiap budaya memiliki kekhasan, sesuatu yang unik yang hanya ada budaya tersebut.

Ketidakpahaman akan konsep universitas vs keunikan inilah yang dalam kehidupan sehari – hari seringkali menjadi sumber kesalah pahaman dan konflik. Konflik karena kesalahpahaman yang kadang sederhana ini dapat saja terjadi di manapun bahkan termasuk dalam kegiatan professional psikologi seperti ketika melakukan proses wawancara seleksi kerja ataupun konseling.
Lalu bagaimana menentukan apakah suatu perilaku itu merupakan Emic (ditemukan unik hanya pada satu budaya tertentu) ataukah Ethic (ditemukan universal pada semua budaya)? Disinilah integrasi terjadi dimana pengertian Ethic dan Emic sebagai cara pandang digunakan.

Berry (1999) menyusun langkah – langkah kajian lintas budaya yang ditunjukkan untuk melihat apakah aspek yang ditemukan nantinya merupakan Emic ataukah Ethic. Langkah – langkahnya dimulai dari: (1) penyusunan instrument atau metode observasi yang berakar dari budaya asli peneliti (budaya A) sehingga merupakan Emic untuk budayanya, (2) selanjutnya instrument diasumsikan sebagai Ethic bagi semua budaya dan dibawa keluar untuk meneliti budaya luar (budaya B) yang asing dan karenanya hendak diteliti. Melalui instrument ini, dilakukan perbandingan budaya. Instrument seperti ini disebut impodes Ethic. (3) Pada saat bersamaan, Berry menyarankan pada peneliti yang meneliti suatu budaya yang asing baginya (melalui observasi partisipatif ataupun metode etnografis lainnya) agar mencari sudut pandang local (Budaya B) sebagai upaya mendapatkan pengetahuan Emic budaya tersebut. (4) sebagai langkah terakhir, mengkombinasikan Emic budaya peneliti itu (budaya A) dengan Emic budaya asing tersebut (budaya B) sehingga mendapatkan hal – hal yang sama di antara keduanya, hal inilah yang disebut derived Ethic.




Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. Edisi Revisi. Tria Dayakisni. Salis Yuniardi (Hal 13 – 14)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer