PENGALAMAN KLIEN DALAM TERAPI RASIONAL EMOTIF - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 14 Juli 2013

PENGALAMAN KLIEN DALAM TERAPI RASIONAL EMOTIF

Umumnya, peran klien dalam TRE mirip seorang siswa atau pelajar. Psikoterapi dipandang sebagai suatu proses reedukatif di mana klien belajar cara menerapkan pikiran logis pada pemecahan masalah.

Proses terapeutik difokuskan pada pengalaman klien pada saat sekarang. Sama halnya dengan terapi – terapi cliend – centered, dan eksistensial. TRE menitikberatkan pengalaman – pengalaman disini dan sekarang dan kemampuan klien untuk mengubah pola – pola berpikir yang diperolehnya pada masa kanak – kanak. Terapis tidak menghabiskan waktu untuk mengeksplorasi sejarah kehidupan dini klien dan membuat kaitan – kaitan antara masa lampau klien dan tingkah lakunya sekarang juga tidak berusaha mengeksplorasi secara mendalam hubungan antara klien dan orang tua atau saudaranya. Alih – alih, proses terapeutik ini menekankan bahwa tanpa mengindahkan, filsafat – filsafat hidup dasar yang irasional dari klien, klien sekarang mengalami gangguan karena tetap mempercayai pandangan yang mengalahkan diri dan dunianya. Pertanyaan – pertanyaan mengenai kapan, mengapa, dan bagaimana klien memperoleh filsafat – filsafat hidup yang irasional adalah sekunder. Pola masalahnya adalah bagaimana agar klien bisa menjadi sadar akan pesan – pesan yang mengalahkan dirinya dan agar klien menantangnya. Ellis (1974) menyatakan bahwa klien acap kali bisa membaik bahkan meskipun dia tidak pernah memahami sumber atau perkembangan masalah – masalahnya.

Pengalaman utama klien dalam TRE adalah mencapai pemahaman TRE berasumsi bahwa pencapaian pemahaman emosioanl (emotional insight) oleh klien atas sumber – sumber gangguan yang dialaminya adalah bagian yang sangat penting dari proses terapeutik. Ellis (1967, hlm. 87) mendefinisikan pemahaman emosional sebagai “mengetahui atau melihat penyebab – penyebab masalah dan bekerja, dengan keyakinan dan bersemangat, untuk menerapkan pengetahuan itu pada penyelesaian masalah – masalah tersebut”. Jadi, TRE menitikberatkan penafsiran sebagai suatu alat terapeutik.
TRE mengungkapkan tiga taraf pemahaman. Untuk melukiskan ketika taraf pemahaman itu marilah kita andaikan seorang klien pria yang berusaha mengatasi rasa takutnya terhadap wanita. Klien merasa terancam oleh wanita yang menarik dan dia merasa takut terhadap bagaimana reaksi yang mungkin diberikanna kepada wanita yang berkuasa dan terhadap apa yang sekiranya akan dilakukannya oleh wanita itu terhadap dirinya. Dengan menggunakan contoh ini, kita bisa membedakan tiga taraf pemahaman. Taraf pertama, klien menjadi sadar bahwa ada antesenden tertentu yang menyebabkan dia takut terhadap wanita. Penyebab itu bukan merupakan fakta bahwa misalnya, ibunya mencoba mendominasi klien, melainkan berupa keyakinan – keyakinan irasional yang telah diterimanya. Klien melihat bahwa dirinya memelihara rasa panic terhadap wanita karena dia terus – menerus mengatakan kepada dirinya “Wanita akan mengebiriku” atau “Mereka mengharapkan aku jadi superman!” atau pikiran irasional lainnya.

Taraf  pemahaman yang ketiga terdiri atas penerimaan klien bahwa dirinya tidak akan membaik, juga tidak akan berubah secara berarti kecuali jika dia berusaha sungguh – sungguh dan berbuat untuk mengubah keyakinan – keyakinan irasionalnya dengan benar – benar, melakukan hal – hal yang bersifat konstropropaganda. Jadi “pekerjaan rumah” klien bisa berupa mendekati wanita yang menarik dan mengajak wanita itu untuk berkencan. Selama berkencan, klien harus menantang gagasan – gagasan irasional serta pengharapan – pengharapan dan keyakinan – keyakinan katastrofikanya tentang apa yang akan terjadi. Dengan hanya membicarakan rasa takutnya, klien tidak akan bisa mengubah tingkah lakunya. Yang penting adalah bahwa klien terlibat dalam kegiatan yang menghancurkan penyangga – penyangga ketakutannya yang irasional.

TRE terutama menakankan pemahaman – pemahaman taraf kedua dan ketiga, yakni pengakuan klien bahwa dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan yang semula mengganggu dan bahwa dia sebaiknya menghadapinya secara rasional – emotif, memikirkannya, dan berusaha menghapuskannya.




Sumber: Teori dan Praktek KONSELING & PSIKOTERAPI. Gerald Corey (Hal 248 - -249)




Kritik dan Saran layangkan ke Facebook dan Email: Hasan.kawaguchi24@gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer