PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK TUNANETRA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 05 September 2014

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK TUNANETRA

Kumpulan MateriBagaimana perkembangan kepribadian anak tunanetra masih sering diperdebatkan. Namun sebagian besar peneliti sepakat bahwa akibat dari ketunanetraan mempunyai pengaruh yang cukup berarti bagi perkembangan kepribadian anak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan sifat kepribadian antara anak tunanetra dengan anak awas. Ada kecenderungan anak tunanetra relative lebih banyak yang mengalami gangguan kepribadian dicirikan dengan introversi, neurotic, frustrasi, dan rigiditas (kekakuan) mental. Namun, demikian, di sisi lain terdapat pula hasil – hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam hal penyesuaian diri antara anak yang tunanetra dengan anak awas. Dalam hal tes kepribadian ditemukan pula bahwa tes – tes kepribadian yang sudah standar pun tidak secara khusus diperuntukkan bagi tunanetra. Situasi kehidupan yang berbeda antara anak tunanetra dengan anak awas seringkali menimbulkan tafsiran yang berbeda pula terhadap sesuatu hal yang diajukan.

Mengenai peran konsep diri dalam penyesuaian terdapat lingkungannya, Davis (Kirtley, 1975) menyatakan bahwa dalam proses perkembangan awal, diferensiasi konsep diri merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai. Untuk memasuki lingkungan baru, seorang anak tunanetra harus dibantu oleh ibu untuk orang tuanya proses komunikasi verbal, memberikan semangat, dan memberikan gambaran lingkungan tersebut sejelas – jelasnya seperti anak tunanetra mengenai tubuhnya sendiri.

Hasil penelitian lain juga menunjukkan anak – anak tunanetra yang tergolong setengah melihat memiliki kesulitan yang lebih besar dalam menemukan konsep diri disbanding anak yang buta total. Kesulitan tersebut terjadi karena mereka sering mengalami konflik identitas di mana suatu saat ia oleh lingkungannya disebut anak awas tetapi pada saat yang lain disebut sebagai anak buta atau tunanetra. Bahkan seringkali ditemukan anak – anak tunanetra golongan ini mengalami krisis identitas yang berkepanjangan. Konsep diri adalah salah satu determinan dari perilaku pribadi, dengan demikian ketidakpastian konsep diri anak tunanetra akan memunculkan masalah – masalah penyesuaian seperti dalam masalah seksual, hubungan pribadi, mobilitas, dan kebebasan. Ada kecenderungan pula bahwa anak – anak tunanetra setelah lahir akan lebih sulit menyesuaikan diri dibandingkan dengan tunanetra sejak lahir.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Blank (1957) tentang pengaruh factor ketidaksadaran terhadap perilaku anak tunanetra pada akhirnya berkesimpulan bahwa dalam pandangan psikoanalisis, keberadaan mata memiliki signifikansi dengan organ seksual dan kebutaan dengan pengkebirian (castration). Selanjutnya dijelaskan pula bahwa masalah – masalah emosional dan tingkah laku yang dihadapi anak tunanetra terjadi karena sebab – sebab yang sama dengan yang terjadi pada anak normal seperti gangguan relasi antara orang tua dengan anak pada masa kanak – kanak, gangguan organis dalam system syaraf pusat, factor konstitusi tubuh, serta faktor – faktor ekonomis, pendidikan, medis, dan tenaga professional lain yang diperlukan untuk tunanetra dan keluarganya.

Bagi anak tunanetra, reaksi terhadap kebutaan juga diperlukan dalam pembentukan pola – pola tingkah laku selanjutnya. Bila kebutaan terhadap terjadi pada saat ego mulai berkembang, maka pengalaman traumatic tidak akan dapat dihindarinya. Anak akan mengalami shock dan kemudian depresi karena pada saat itu dalam diri anak mulai muncul kesadaran akan dirinya secara luas.

Berdasarkan pengamatan sehari – hari diketahui bahwa anak tunanetra juga sering menunjukkan karakteristik perilaku tersendiri yang berbeda dengan orang normal. Perilaku khusus tersebut muncul sebagai kompensasi dan ketunanetraannya. Mernutu Adler, seseorang berkembang karena perasan rendah diri (inferior) dan perasaan inilah yang mendorong seseorang bertingkah laku mencapai rasa superior, sehingga perkembangan itu terjadi. Kompensasi adalah salah satu cara untuk mencapai rasa superior tersebut. Perilaku – perilaku khas dan sifatnya kompensatoris pada nak tunanetra yang sering dijumpai terutama pada usia dewasa diantaranya ialah pertahanan dirinya yang kuat. Anak tunanetra cenderung bertahan dengan idea tau pendapatnya yang belum tentu benar menurut penilaian umum.

Disamping itu, Sukini Pradopo (1976) mengemukakan gambaran sifat anak tunanetra diantaranya adalah ragu – ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan Sommer menyatakan bahwa anak tunanetra cenderung memiliki sifat – sifat yang berlebihan, menghindari kontak social. Mempertahankan diri dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya.



Sumber: Psikologi Anak Luar Biasa. Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, Mpsi., psi. (Hal 83 – 85)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer