PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK TUNADAKSA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 08 September 2014

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK TUNADAKSA

Kumpulan MateriKeanekaragaman pengaruh perkembangan yang bersifat negative menimbulkan resiko bertambah besarnya kemungkinan munculnya kesulitan dalam penyesuaian diri pada anak – anak tunadaksa. Hal ini berkaitan erat dengan perlakuan masyarakat terhadap anak – anak tunadaksa. Hal ini berkaitan erat dengan perlakuan masyarakat terhadap anak – anak tunadaksa. Sebenarnya kondisi sosial yang positif menunjukkan kecenderungan untuk menetralisasi akibat keadaan tunadaksa tersebut. Nampak atau tidak nampaknya keadaan tunadaksa itu merupakan faktor yang penting dalam penyesuaian diri anak tunadaksa itu merupakan faktor yang penting dalam penyesuaian diri anak tunadaksa dengan lingkungannya, karena hal itu sangat berpengaruh terhadap sikap dan perlakuan anak – anak normal terhadap anak – anak tunadaksa. Keadaan tunadaksa yang tidak Nampak, lebih memungkinkan anak untuk menyesuaikan diri dengan wajar dibandingkan apabila ketunadaksaan tersebut Nampak.

Sikap orang tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat pada umumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri anak tunadaksa. Dengan demikian akan mempengaruhi respon sebagai terhadap lingkungannya. Sebagaimana dimaklumi bahwa konsep diri seseorang dipengaruhi oleh lingkungannya. Seseorang akan menghargai dirinya sendiri apabila lingkungan pun menhargainya, misalnya: seorang anak yang dianggap oleh masyarakat tidak berdaya akan merasa bahwa dirinya tidak berguna.

Ejekan dan gangguan anak – anak normal terhadap anak tunadaksa akan menimbulkan kepekaan efektif pada anak tunadaksa yang tidak jarang mengakibatkan timbulnya perasaan negative pada diri mereka terhadap lingkungan sosialnya. Keadaan ini menyebabkan hambatan pergaulan social anak tunadaksa.

Di jaman yang sudah maju seperti sekarang ini, keberhasilan seseorang sering diukur dari prestasinya, dan di dalam masyarakat dikenal norma tertentu bagi prestasi individu. Keterbatasan kemampuan anak tunadaksa seringkali menyebabkan mereka menarik diri dari pergaulan masyarakat yang mempunyai prestasi yang jauh di luar jangkauannya.

Secara umum anak – anak normal menunjukkan sikap yang berbeda terhadap anak – anak tunadaksa bila dibandingkan dengan sikap mereka terhadap anak – anak normal. Demikian pula halnya sikap guru. Perbedaan perlakuan ini nampaknya berkaitan dengan refrence group yang berbeda antara anak normal dan anak tunadaksa.

Selain itu faktor usia juga merupakan hal yang penting bagi perkembangan social anak. Anak – anak tunadaksa dari sekolah dasar merasa tidak begitu ditolak dibandingkan dengan anak – anak tunadaksa pada sekolah yang lebih tinggi. Semakin tinggi usia seseorang, perasaan ditolak akan semakin terasa.

Anak – anak tunadaksa seringkali tidak dapat berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan anak – anak seusianya, terutama dalam kelompok social yang sifatnya lebih resmi. Anak – anak seperti ini khususnya mereka yang karena bergaul dengan teman – teman sebayanya yang tidak tuna. Apabila mereka terlalu lama harus beristirahat di dalam rumah, maka anak ini akan mengalami deprivasi dan isolasi dari teman – teman sekolahnya. Ketika mereka kembali ke sekolah, mereka merasakan kecemasan terhadap cara teman – teman dalam memperlakukan mereka, menerima dan berintegrasi dengan mereka.




Sumber: Psikologi Anak Luar Biasa. Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, Mpsi., psi. (Hal 132 – 133)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer