PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK TUNANETRA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 12 September 2014

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK TUNANETRA

Kumpulan Materi - Perkembangan sosial berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kamampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Dibandingkan dengan anak awas, anak tunanetra lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan sosial. Hambatan – hambatan tersebut terutama muncul sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraannya. Kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan social yang lebih luas atau baru, perasaan – perasaan rendah diri, malu, sikap – sikap masyarakat yang seringkali tidak menguntungkan seperti penolakan, penghinaan, sikap tak acuh, ketidakjelasan tuntutan social, serta terbatasnya kesempatan bagi anak untuk belajar tentang pola – pola tingkah laku yang diterima merupakan kecenderungan tunanetra yang dapat mengakibatkan perkembangan sosialnya menjadi terhambat. Kesulitan lain dalam melaksanakan tugas perkembangan sosial ini ialah keterbatasan anak tunanetra untuk dapat belajar sosial melalui proses identifikasi dan imitasi. Ia juga memiliki keterbatasan untuk mengikuti bentuk – bentuk permainan sebagai wahana penyerapan norma – norma atau aturan – aturan dalam bersosialisasi.

Pengalaman sosial anak tunanetra pada usia dini yang tidak menyenangkan seabgai akibat dari sikap dan perlakuan negative orang tua dan keluarganya akan sangat merugikan perkembangan anak tunanetra. Hal ini karena usia tersebut merupakan masa – masa kritis di mana pengalaman – pengalaman dasar sosial yang terbentuk pada masa itu akan sulit untuk diubah dan terbawa sampai ia dewasa. Anak tunanetra yang mengalami pengalaman sosial yang menyakitkan pada usia dini cenderung akan menunjukkan perilaku – perilaku yang menghindar atau menolak partisipasi sosial atau pemilihan sikap sosial yang negative pada tahapan perkembangan berikutnya. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan – penyimpangan dalam perkembangan sosial anak tunanetra, sikap dan perlakuan orang tua dan keluarga tunanetra nampaknya harus menjadi perhatian terutama pada usia dini.

Masa sosialisasi yang sesungguhnya akan terjadi pada saat anak memasuki lingkungan pendidikan kedua, yaitu sekolah. Pada masa ini anak akan dihadapkan pada berbagai aturan dan disiplin serta penghargaan terhadap orang lain. Masa transisi dari orientasi lingkungan keluarga ke sekolah seringkali menimbulkan masalah – masalah pada anak, terutama anak tunanetra. Bagi anak tunanetra, memasuki sekolah atau lingkungan yang baru adalah saat – saat yang kritis, apalagi ia sudah merasakan dirinya berbeda dengan orang lain yang tentunya akan mengundang berbagai reaksi tertentu yang mungkin menyenangkan atau sebaliknya. Ketidaksiapan mental anak tunanetra dalam memasuki sekolah atau lingkungan baru atau kelompok lain yang berbeda atau lebih luas seringkali mengakibatkan anak tunanetra gagal dalam mengembangkan kamampuan sosialnya. Apabila kegagalan tersebut dihadapi sebagai suatu kenyataan dan tantangan, maka biasanya akan menjadi modalitas utama dalam memasuki lingkungan yang baru perilakunya. Namun bila kegagalan dihadapi sebagai suatu ketidakmampuan, maka sikap – sikap ketidakberdayaan yang akan muncul menumpuknya menjadi sebuah rasa putus asa yang mendalam dan akhirnya anak menghindari kontak sosial, menarik diri, dan apatis.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa bagaiamana perkembangan sosial anak tunanetra sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak tunanetra itu sendiri. Akibat ketunanetraan secara langsung atau tidak langsung, akan berpengaruh terhadp perkembangan sosial anak seperti keterbatasan anak untuk belajar sosial melalui identifikasi maupun imitasi, keterbatasan lingkungan yang dapat dimasuki anak untuk memenuhi kebutuhan sosialnya, serta adanya faktor – faktor psikologis yang menghambat keinginan anak untuk memasuki lingkungan sosialnya secara bebas dan aman.




Sumber: Psikologi Anak Luar Biasa. Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, Mpsi., psi. (Hal 83 – 85)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer