EFEK KEBISINGAN PADA ASPEK PSIKOLOGIS DAN INTERAKSI SOSIAL - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 25 November 2014

EFEK KEBISINGAN PADA ASPEK PSIKOLOGIS DAN INTERAKSI SOSIAL

Kumpulan MateriDimensi utama dalam variable kebisingan adalah: 1) Volume suara, 2) Predictability, dan 3) Pengontrol persepsi. Suara dengan volume yang keras akan mengganggu komunikasi verbal, dan akan meningkatkan stress pada diri seseorang. Orang yang sedang melakukan interaksi dengan adanya suara yang hising, akan sangat terganggu. Mereka terpaksa melakukan komunikasi dengan suara yang lebih keras, dan mungkin juga isi pembicaraan tidak tertangkap secara keseluruhan dengan baik.

Suara bising yang muncul secara tidak diduga atau tidak teratur akan lebih mengganggu dibandingkan dengan suara yang teratur akan lebih mengganggu dibandingkan dengan suara yang teratur. Suara bising yang tak diduga pemunculannya menimbulkan keterkejutan bagi orang yang mendengar. Keterkejutan tersebut dapat pula menimbulkan stres, karena suara tersebut akan menyakiti terdengarnya, bila dibandingkan dengan suara yang dapat diduga. Selain itu, suara yang tak dapat diduga kemunculannya akan membuyarkan konsentrasi bagi orang yang mendengar.

Suara yang keras tekanannya dan tidak dapat dikontrol akan lebih mengganggu bila dibandingkan dengan suara yang dapat kita control, misalnya dengan mematikan sumber suara tersebut. Suara yang memberikan tekanan keras apabila dapat diatur, maka tidak akan mengganggu. Dengan demikian, orang – orang mengontrolnya dapat terhindar dari situasi stress, dan konsentrasinya tidak terganggu. Suara yang tak dapat dikendalikannya akan menimbulkan stress dan ia harus meningkatkan konsentrasi dalam berbagai hal.

Kondisi suara yang memberikan tekanan pada orang berinteraksi, sudah barang tentu akan mengganggu interaksi yang sedang berlangsung. Hasil penelitian yang mengaitkan antara suara yang keras pada orang yang sedang berinteraksi menunjukkan hasil sebagai berikut: latar belakang suara yang tingkatannya keras dan merusak sensitivitas pada orang yang sedang berinteraksi tersebut, khususnya pada orang yang akan memberikan bantuan. Riset yang dilakukan oleh Boles dan Hayward (1978): sumber; Dylan, Jones dalam Noise and Society) hanya sedikit orang yang mau mengizinkan intervies dengan suara dengan tekanan di atas 70 dB, bila dibandingkan dengan yang latar belakang suaranya memberikan tekanan suara di bawah 70 dB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang suara di bawah 70 dB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang suara di bawah 70 dB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang suara dibawah 70dB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Page (1977), di mana perilaku menolong akan berkurang sejalan dengan meningkatnya kebisingan. Hal ini dikarenakan suara keras tersebut dapat merusaknya.

Suara yang memberikan tekanan keras tidak secara langsung menyebabkan perilaku agresi. Tetapi kalau seseorang telah memiliki intense untuk agresi, maka suara yang keras akan meningkatkan agresi. Hal ini menyebabkan orang lalu akan berperilaku agresi. Suara yang memberikan tekanan keras (95 dB) dapat menjadi faktor yang menujang apabila seseorang sudah dalam keadaan marah. Dengan keadaan diri yang dalam keadaan marah, mendengar suara yang memberikan tekanan keras dia akan mudah untuk agresi. Namun, apabila suara yang diperdengarkan adalah sebesar 55 dB, tidak berarti akan meredaka intense agresinya. Dengan demikian, meningkatnya perilaku agresi adalah dikarenakan katerkejutan dengan tekanan suara yang tinggi.

Suara yang memiliki tekanan suara yang lebih keras ternyata dapat memengaruhi pada dinamika kelompok. Ward dan Suedfeld (1973, dalam Noise and Society, hal 234), membuat suatu eksperimen pada 18 orang mahasiswa. Mahasiswa tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok, yang mendapatkan perlakuan tekanan suara yang berbeda, yaitu kelompok yang pertama diberikan suara dengan tekanan sebesar 40 – 50 dB, kelompok kedua 63 – 66 dB, dan kelompok tiga diberikan tekanan suara sebesar 67 – 70 dB. Tugasnya adalah diskusi kelompok untuk mencapai kesepakatan. Kelompok yang memperoleh tekanan suara lebih keras ternyata membutuhkan waktu yang lebih lama, dan selama diskusi mereka dibandingkan dengan dua kelompok lainnya. Dengan demikian, ternyata interaksi dalam kelompok dapat pula dipengaruhi oleh gangguan suara. Apabila diberikannya suara pada kelompok yang sedang bekerja atau diskusi, maka sebaiknya suara tersebut tidak mengganggu mereka.







PSIKOLOGI LINGKUNGAN Teori dan Konsep. Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskanda, S. Psi., M. Sc. (Hal 152 - 153)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer