JENIS – JENIS DAN GANGGUAN PARAFILIA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 10 Januari 2015

JENIS – JENIS DAN GANGGUAN PARAFILIA

Pedofilia

Kumpulan MateriAdalah kelainan seks dengan melakukan seksual untuk memenuhi hasratnya dengan cara menyetubuhi (pencabulan) anak – anak di bawah umur. Hal ini dilakukan oleh orang dewasa (16 tahun ke atas) terhadap anak – anak secara seksual belum matang (biasanya di bawah 13 tahun). Hamper semua yang mengalami gangguan ini adalah pria. Untuk menarik perhatian anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat demawan ada juga yang berperilaku kasar dan mengancam.

Umumnya penderita pedopilia adalah orang yang takut gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya ia mengalihkan pada anak – anak karena kepolosan anak tidak mengancam harga dirinya.

Exibionisme

Adalah dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan kepuasan seksual untuk membangkitkan fantasi – fantasi dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tidak dikenal. Gangguan ini tidak berbahaya bagi si korban. Penderita gangguan ini adalah pria dan korbannya adalah wanita (Anak – anak maupun dewasa).

Para ahli mengatakan penderita gangguan ini biasanya mengalami gangguan buruk pada pasangan seksnya. Mereka tak percaya diri dalam hal seksualnya dengan seorang pria, penyebabnya pengalaman pada masa perkembangan anak – anak. Pada masa anak dia menunjukkan alat kelaminnya dan korban merasa excited (terkejut, takut, malu dan jijik) maka si penderita merasa itu adalah sebuah pujian dan kejantanan baginya. menurut teori psikoanalisa, gangguan ini merupakan cara untuk menolak ketakutan kastrasi yang berasal dari tahap odipal, di mana pada tahap ini penderita mengalami fiksasi.

Voyeurisme

Berasal dari bahasa Prancis yaitu kata “Voir” artinya melihat, yaitu untuk mendapatkan kepuasan dengan cara melihar organ seks orang lain atau orang yang sedang melakukan aktivitas seksual, yang tidak menyadari seseorang sedang diintip (bahasa harian peeping tom). Pada gangguan ini penderita memiliki keinginan yang sunggih – sungguh dan berulang untuk melihar orang yang tidak menyadari keberadaannya (mengintip). Gangguan ini memiliki dua ciri yaitu mengintip merupakan kegiatan utama yang disukai dan korban tidak mengetahui.

Menurut psikodinamika modern gangguan ini didorong oleh ketakutan terhadap kemampuan dalam berhubungan dengan wanita dan merupakan usaha untuk mengkonpensasi rasa malu. Adler menginterpretasikan gangguan ini sebagai fungsi rasa malu individu dalam menyelesaikan masalah seksualitasnya. Teori belajar sosial mengatakan bahwa gangguan iniberkembang akibat kurangnya seks individu.

Bagi orang dewasa normal hubungan seks mencakup segala aktivitas yang dapat menyebabkan gairah seks (misalnya melihat organ seks pasangan) sampai aktivitas senggama itu sendiri, sedangkan pada penderita ini hanya memusatkan pada “’melihat” sebagai satu – satunya cara untuk memperoleh kepuasan seksual. Umumnya penderita berasala dari keluarga yang puritan (tabu) terhadap seks.

Sadomasokis

Istilah sadism berasal dari Marquis de Sade seorang penulis pada abad ke – 18, ia menggambarkan seorang tokoh yang memperoleh kepuasan seks dengan menyiksa pasangannya secara kejam, sadism seksual adalah kepuasan seksual diperoleh dari aktivitas atau dorongan menyakiti pasangan baik secara fisik (menendang, memperkosa, dan memukul) maupun psikis (menghina, memaki – maki), penderitaan korban inilah yang bisa membuatnya merasa bergairah dan puas.

Orang ini menjadi gembira melihat atau berimajinasi tentang kesakitan orang lain, penyebabnya pada kehidupan, mula – mula hukuman dan disiplin banyak berperan. Psikoanalisa memandang gangguan ini sebagai cara untuk menurunkan kecemasan dalam mencari kepuasan seksual pada masa anak – anak.

Masokhisme

Istilah masokhisme diambil dari nama novelis Leopold Von Sacher masoch, yang seorang novelnya yang mencapai kepuasan seksual bila diperlakukan secara sadis, gangguan ini memiliki ciri mendapatkan kegairahan dan kepuasan seksual yang didapat dari perangsangan dengan cara diperlakukan secara kejam baik secara fisik maupn psikis. Perlakuan kejam bisa dilakukan sendiri atau dilakukan oleh pasangan. Penyembuhan ini dengan cara terapi individual dan kelompok berdasarkan prinsip behavior conditioning.

Fetisisme

Ciri utama gangguan ini adalah penderita menggunakan benda sebagai cara untuk menimbulkan gairah atau kepuasan seksual, benda yang umum digunakan adalah benda aksesoris milik wanita misalnya pakaian dalam wanita, sepatu, kaus kaki dan lain – lain. Fetis mengandung tingkah laku seperti kompulsif. Pengalaman pada kehidupan mula - mula menghasilkan hubungan antara gelora seksual dan objek fetis.

Transvestisme

Gangguan ini hanya terjadi pada laki – laki yang perilakunya seperti wanita, gambaran utamanya adalah penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual bila ia berpakaian seperti lawan jenisnya, ketika sedang berpakaian seperti wanita, penderita melakukan masturbasi lalu sambil membayangkan seorang laki – laki tertarik pada dirinya sebagai seorang wanita. Gangguanini memiliki sifat kompulsif, menggunakan banyak emosional.

Permulaan gangguan ini pada masa anak atau adolesensi pada umumnya tidak mencari bantuan, lain seperti depresi perlakuannya adalah metode behavior seperti conditioning aversif, sensitisasi tertutup. Karena close dressing selalu mempunyai tujuan mengurangi kecemasan,masa terapis mendorong klien menjadi insight ke dalam stres – stres yang menjadi penyebab tingkah laku tersebut melalui sikap terapi tradisional.

Zofilia

Gangguani ini juga disebut dengan bestiality, ciri utamanya adalah pederita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual dengan cara melakukan kegiatan seksual dengan binatang (lewat anus atau vagina binatang, atau “menyuruh” binatang memanipulasi alat genitalnya).

Eroterisme

Ciri utama gangguan ini adalah dorongan untuk menyentuh, meremas – remas dan menggesek – gesekkan organ seks kepada orag tak dikenal, penderita umumnya senang berada di tempat yang penuh sesak di mana ia bisa melarikan diri dengan mudah, biasanya yang menjadi korban adalah wanita yang sangat menarik dengan pakaian yangsangat ketat. Ketika sedang melakukan aksinya penderita berfantasi sedang melakukan hubungan yang menyenangkan dengan si korban. Korban biasanya tidak protes karena ia tidak mengira akan terjadi tindakan seksual seperti itu ditempat umum. Hal ini didapat dari pengalaman lampau yang selalu mendapat penguat. Perlakuannya adalah conditioning tertutup.

Homoseksual

Dalam DSM – III R, homoseksual yaitu penderita memilih pasangan seksual yang sama jenis dengan dirinya yaitu pria dengan pria dan wanita dengan wanita (Lesbian)









Sumber: PSIKIATRI ISLAM. Tristiadi Ardi Ardani. (Hal 234 – 238)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer