NEUROPSIKOLOGI - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 29 Juli 2015

NEUROPSIKOLOGI

Definisi

Kumpulan MateriNeuropsikologi mempelajari hubungan antara otak dan perilaku, disfungsi otak dan defisit perilaku, dan melakukan asesmen dan treatment untuk perilaku yang berkaitan dengan fungsi otak yang terganggu. Dalam lima tahun terakhir, neuropsikologi berkembang pesat. Ini terlihat dari jumlah anggota asosiasi. Neuropsikologi, program pelatihan, makalah – makalah yang dipublikasikan, dan posisi – posisi tugas berkaitan dengan Neuropsikologi di Amerika Serikat yang meningkat (Phares, 1992). Sebagai ilmu, neuropsikologi dianggap sebagai salah satu bagian dari Biopsikologi. Bidang lainnya yang juga termasuk biopsikologi, dan psikologi perbandingan. Neuropsikologi adalah interface neurologi dan neurosains, yang dipacu oleh kemajuan yag sangat pesat dalam penelitian biokimia, ilmu faal, histologi susunan saraf pusat.

Neuropsikolog berasumsi bahwa perilaku manusia, kepribadiannya, proses psikopatologi dan strategi kognitif diantara (mediated) oleh otak (Carlson, 1992). Neuropsikologi klinis adalah cabang psikologi klinis yang bertujuan mendeteksi dan mendiagnosis proses neuropatologi, dan menjembatani gap antara neurologi dengan ilmu – ilmu perilaku. Neuropsikologi klinis melakukan evaluasi kekuatan dan kelemahan aspek kofnitif, aspek perilaku dan aspek psikologis, serta menentukan hubungan dengan fungsi otak (Newmark, 1985).

Anteseden/Penyebab Gangguan Otak Organik

Penerapan neuropsikologi dengan demikian jelas menggunakan pedekatan medik, dan perlu mengetahui apa saja penyebab atau anteseden dari organic brain damage. Ada 6 variable yang dapat merupakan anteseden dari gangguan fungsi otak, yaitu:

  1. Trauma, yang dimaksud dengan trauma sangat luar, mulai paling parah (tabrakan mobil) hingga yang paling ringan (jatuh dari tempat tidur). Ada 3 istilah untuk trauma pada otak, yaitu gegar otak (concussion), pendarahan otak (contusion), dan robek otak (laceration).
  2. Vascular accidents, yaitu terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak.
  3. Tumor, tumor di otak, gejala yang ditampil kadang – kadang terkesan ringan (sakit kepala, gangguan penglihatan), tapi kalau memang ada, akibatnya dapat fatal.
  4. Penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang menyebabkan terjadinya kemunduran, misalnya dementia jenis Alzheimer, dan lain – lain.
  5. Defisiensi nutrisi (kurang gizi).
  6. Keracunan, yang dapat menyebabkan seseorang mengigau (delirium).

Pendekatan dan Interpretasi Hubungan Otak dan Perilaku

Ada dua pendekatan untuk menginterpretasi hubungan gejala gangguan perilaku dengan kerusakan otak, yaitu: lokalisasi dan leteralisasi. Pendekatan lokalisasi menyatakan bahwa kerusakan pada bagian otak tertentu menimbulkan gangguan pada fungsi tertentu pula.

Pendekatan lokalisasi ini tidak sejalan dengan prinsip equipotential – bahwa semua bagian otak ikut terlibat dalam suatu kerusakan, bukan hanya sebagian. Pendekatan laterisasi menyatakan bahwa ada perbedaan yang mendasar antara fungsi otak kiri dan fungsi otak kanan. Pandangan ini menimbulkan pertanyaan tentang orang – orang left-handed dan right-handed.

Metode Asesmen Neuropsikologi

Ada pendapat yang berbeda mengenai pelaksanaan tes neuropsikologi, yaitu dalam metode (dengan baterai standar atau baterai khusus sesuai klien), administrasi (satu alat tes atau lebih ) dan interpretasi (kualitatif atau kuantitatif. Sehubungan dengna hal administrasi, contoh tes tunggal untuk asesmen neuropsikologi adalah Wechsler Memory Scale (WMS) untuk mengukur ingatan, Wechsler Bellevue Subtes Hold dan Don’t Hold untuk mengukur ada tidaknya kemunduran inteligensi, Bender-Gestalt untuk dugaan kerusakan otak. Baterai neuropsikologi yang sering dipakai adalah Luria-Nebraska dan Halstead-Reitan. Yang terakhir mengukur tingkatan defisit fungsi otak yang dinyatakan dalam angka NDS atau Neuropsychological Deficit Scale (Wolfson, 1993). Dalam hal interpretasi dokter cenderung melakukan interpretasi kualitatif, sementara psikologi kuantitatif.

Geografi, Fungsi dan Problema Gangguan Otak

Daerah – daerah tertentu otak memiliki fungsi – fungsi tertentu. Daerah frontal diduga berfungsi sebagai komparator dan mampu mengatasi inertia (inertia overcoming). Kerusakan pada bagian ini menimbulkan frontal lobe syndrome yang ditandai dengan menurunnya beberapa fungsi seperti: pengendalian impuls, penilaian sosial, kemampuan membuat rencana, kepedulian akan akibat perilaku, apatis, curiga, temper tantrum. Seringkali tidak jelas adanya kemunduran fungsi kognitif, namun perubahan kepribadian yang terjadi sangat jelas, dan sulit diterangkan penyebabnya (Phares, 1992).

Ada juga gangguan temporal lobe personality yang diduga berkaitan dengan fungsi linguistik. Simtomnya antara lain: selalu memberi makna personal dan emosional atas peristiwa biasa sehingga menimbulkan kesan paranoid, kecenderungan terpaku pada suatu hal (sticky), dan menunjukkan perilaku hypergraphic (Bernstein & Nietzel, 1985).

Gangguan pada daerah parietal diduga berakibat pada persepsi taktil – kinestetik. Gangguan pada daerah oksipital diduga berpengaruh pada fungsi visual. Kerusakan otak dapat dideteksi melalui teknik pemeriksaan kedokteran neurologi, antara lain MRI (magnetic resonance imaging), EEG (electro encephalography), serta PET (pository emmision tomography).





Sumber: Pengantar Psikologi Klinis. Suprapti Slamet I.S. – Sumarmo Markam (Hal 177 -181)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer