LATAR BELAKANG SEJARAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 03 Oktober 2015

LATAR BELAKANG SEJARAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Kumpulan Materi Di antara usaha – usaha tersebut, yang terkenal adalah:

  1. Chirologi,
  2. Astrologi,
  3. Grafologi,
  4. Phisiognomi,
  5. Phrenologi,
  6. Onychologi,



(1) Chirologi atau ilmu gurat – gurat tangan (Jawa: rajah)

Dasar pemikiran daripada pengetahuan ini ialah kenyataan bahwa gurat – gurat tangan orang itu tidak ada yang sama satu sama lain, macamnya adalah sebanyak orangnya. Ini pulalah yang menjadi dasar pikiran Daktiloskopi (Ilmu sidik jari)

Jika sekiranya orang dapat mengenal perbedaan – perbedaan serta sifat – sifat khusus gurat – gurat tangan tersebut, maka dia akan mengenal perbedaan – perbedaan serta sifat – sifat khas orangnya. Akan tetapi usaha yang biasa dilakukan orang tidaklah sejauh itu; orang hanya memperhatikan beberapa gura (garis) saja.

(2) Astrologi atau ilmu perbintangan

Dasar pikiran daripada pengetahuan ini ialah adanya pengaruh kosmis terhadap manusia. Pada waktu seseorang dilahirkan, dia ada dalam posisi tertentu terhadap benda – benda angkasa; jika sekiranya kita dapat mengenal perbedaan – perbedaan mengenai soal ini dia juga akan dapat mengenal perbedaan – perbedaan serta sifat – sifat khas orangnya; tetapi biasanya usaha yang dilakukan orang tidak sejauh itu, dan orang – orang yang lebih kemudian secara tradisional meniru saja yang dikatakan oleh orang sebelumnya, padahal reliabilitas dan validitas prinsip – prinsip yang telah ada belum diuji.

(3) Grafologi atau Ilmu tentang tulisan tangan

Tentang sejarah pengetahuan ini tidak ada kesatuan pendapat di antara para ahli. Umumnya orang berpendapat bahwa pengetahuan ini adalah hasil abad XIX, namun ada juga bukti – bukti yang menunjukkan, bahwa sebelum itu telah ada juga orang yang memberhatikannya, misalnya Cammilo Baldo (Italia, 1622). Karangan dalam lapangan ini yang besar yang berasal dari abad XIX ialah; Systeme de Graphologie hasil karya Abbe Michon, yang kemudian dilanjutkan dan disempurnakan oleh Crepiaux jamin dalam A B C de la graphologie.

Kini karangan – karangan dalam lapangan ini telah banyak dan di antaranya yang dapat dipandang sebagai karya terbaik adalah karya L. Klages: Handschrift und Character.

Dasar pikiran grafologi itu ialah demikian: segala gerakan yang dilakukan oleh manusia itu merupakan ekspresi daripada kehidupan jiwanya; jadi juga gerakan menulis dan selanjutnya tulisan sebagai hasil gerakan menulis itu merupakan bentuk ekspresi kehidupan jiwa. Kalau sekirarnya orang dapat mengetahui keadaan khusus tulisan seseorang dengan baik, berarti dia juga dapat mengenal keadaan khusus kepribadian si penulisnya.

Dalam menganalisis tulisan tangan itu hal – hal yang diperhatikan antara lain:

· Apakah tulisan tetap lurus ataukah naik atau menuru,

· Condong atau tegaknya tulisan,

· Besar kecilnya huruf,

· Jarak tulisan dari garis yang satu ke garis lainnya.

· Tumpul runcingnya tulisan.

· Tetap dan tidaknya ukuran tulisan,

· Jarak tulisan dari tepi, dan sebagainya.

Hal – hal tersebut dianalisis, dicari sifat – sifatnya yang khas, dan dengan jalan demikian orang mencoba menarik kesimpulan mengenai kepribadian penulisnya.

(4) Physiognomi atau ilmu tentang wajah

Pengetahuan ini berusaha memahami kepribadian atas dasar keadaan wajahnya. Dasar pikiran untuk mengusahakan pengetahuan ini ialah keyakinan bahwa ada hubungan antara keadaan wajah dan kepribadian. Hal – hal yang tampak pada wajah dapat dipergunakan untuk membuat interpretasi mengenai apa yang terkandung dalam jiwa.

Orang yang mengusahakan secara luas pengetahuan ini dan mempergunakannya secara baik adalah: Johann Casper Lavater (1741 – 1801), seorang pendeta di Zurich. Karya Lavater dalam lapangan ini ialah:

Physiognomische Fragmente zur Beforderung der Menchenkenntniss und Menshenliebe. Dalam buku tersebut dia menerangkan antara lain

(a) Keadaan dahi dan kening adalah petunjuk untuk mengerti kecerdasan seseorang;

(b) Hidung dan pipi adalah bagian yang dapat memberikan tanda mengenai halus atau kasarnya perasaan seseorang.

(c) Mulut dan dagu dapat memberikan petunjuk tentang nafsu makan, nafsu minum, dan sebagainya.

(d) Mata adalah bagian yang mencerminkan seluruh kehidupan jiwa, dan sebagainya.

Sewaktu masa hidupnya Lavater sebagai seorang pendeta yang banyak bergaul dengan bermacam – macam orang memang cakap mempergunakan pedoman – pedomannya itu secara baik. Akan tetapi suksesnya tersebut tidak terutama karena baiknya pedoman yang digunakannya, melainkan karena ketajaman intuisinya; jadi kalau pedoman tersebut dipergunakan oleh orang lain, maka akan lain – lain pulalah hasilnya.

(5) Phrenologi atau ilmu tentang tengkorak

Pengetahuan ini bermaksud memahami kepribadian atas dasar keadaan tengkoraknya. Usaha ini telah dipersiapkan oleh Lavater dan mencapai bentuknya pada Frans Joseph Gall (1758 – 1828), seirang dokter bangsa Jerman yang bersama – sama dengan G. Spurzheim (1776 – 1923) mengarang buku mengenai anatomi dan fisiologi otak, yang merupakan karya penting pada zamannya.

Dasar pikiran ajaran mereka itu aialah bahwa tiap – tiap fungsi atau kecakapan itu masing – masing mempunyai pusatnya di otak. Jikalau salah satu ( atau lebih ) dari kecakapan itu keadaannya luar biasa, maka pusatnya di otak itupun luar biasa besarnya. Akibat hal ini ialah bentuk tengkorak lalu terubah oleh pusat yang besar tersebut, sehingga ada tonjolan – tonjolannya. Dengan mengukur secara teliti tonjolan – tonjolannya tersebut, dapat ditarik kesimpulan tentang kecakapan – kecakapan atau sifat – sifat orangnya. Phrenologi ini selanjutnya dkembangkan oleh Brocca (1824 – 1880), yang selanjutnya berhasil merumuskan teori lokalisasi, suatu teori yang walaupun telah banyak mendapat kritik namun masih tetap populer sampai dewasa ini.

(6) Onychologi atau ilmu tentang kuku

Onychologi berusaha memahami kepribadian seseorang atas dasar keadaan kuku – kukunya. Kuku di ujung jari itu mempunyai hubungan yang erat dengan susunan syaraf, dengan cabang – cabangnya yang terhalus berujung di pucuk – pucuk jari. Warna serta bentuk kuku dapat dipakai sebagai landasan untuk mengenal kepribadian orangnya.

Cabang pengetahuan ini baru dikembangkan pada bagian kedua abad ini, oleh sekelompok ahli di Perancis, yang dipelopori oleh Henry Bouquest, Cartan Pierre Giram, dan Henry Mangin.





Sumber : PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D (Hal 6 – 10)

1 komentar:

  1. makasih yah atas informasinya, jangan lupa kunjungi blog aku juga.
    QUEENXXX92

    BalasHapus

Popular Posts

 
Toggle Footer