IDENTITAS SOSIAL: SEBUAH TINJAUAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 11 Maret 2016

IDENTITAS SOSIAL: SEBUAH TINJAUAN

Kumpulan Materi - Awal dari kehidupan, setiap orang mulai memiliki pandangan tentang siapa dirinya, termasuk apakah ia harus melabel dirinya sebagai “perempuan” atau “laki – laki”. Dengan kata lain, setiap orang membangun sebuah identitas sosial (social identity), sebuah definisi diri yang memandu bagaimana kita mengonseptualisasi dan mengevaluasi diri sendiri (Deauz, 993). Identitas sosial mencakup banyak karakteristik unik, seperti nama seseorang dan konsep self, selain banyak karakteristik lainnya yang serupa dengan orang lain (Sherman, 1994). Menyusul aspek yang telh disebutkan di atas, ada pula gender, hubungan interpersonal kita (anak perempuan, anak laki – laki, pasangan, orang tua, dll): atribut khusus (homoseksual), cerdas, keterbelakangan mental, pendek, tampan dll); dan afiliasi etnis atau religious (Katolik, Orang Selatan, Hispani, Yahudi, warga Kulit Htam, Muslim, Atheis, Hick, dll). (Deaux dkk., 1995).

Ketika kita berinteraksi dengan orang asing dan tanpa identitas (seperti di Internet), berbeda dengan ketika kita berinteraksi dengan orang asing yang kita lihat (seperti di video) kita meningkatkan kecenderungan untuk  mengategorisasikan diri kita sendiri dalam grup grup tersebut, merasa positif terhadap grup – grup tersebut dan memiliki stereotip tentang orang lain atas dasar kelompok di mana mereka menjadi anggotanya. (Lea, Spears, & de Groot, 2001).

Menurut Jackson dan Smith (1999), identitas sosial dapat dikonseptualisasikan paling baik dalam empat dimensi: persepi dalam konteks antarkelompok, daya tarik In-group, keyakinan yang saling terkait dan depersonalisasi, seperti yang digambarkan dalam Gambar 5.1. Peran yang dimainkan oleh identitas sosial dalam hubungan antarkelompko tergantung pada dimensi yang mana yang berlaku. Jackson dan Smith (1999) menyatakan bahwa hal yang mendasari keempat dimensi tersebut adalah dua tipe dasar identitas: aman dan tidak aman. Ketika identitas aman memiliki derajat yang tinggi, individu cenderung mengevaluasi out-group lebih baik, lebih sedikit bias bila membandingkan in-group dengan in-group dan kurang yakin pada homogenitas in-group. Sebalikknya identitas tidak aman dengan derajat yang tinggi berhubungan dengan evaluasi yang sangat positif terhadap In-group, bias lebih besar dalam membandingkan in-group dengan out-group, dan persepsi homogenitas in-group yang lebih besar.

Walaupun kenyataan jelas – jelas menyatakan bahwa kita memperoleh banyak aspek identitas kita dari orang lain, siapa diri kita sebagian ditentukan oleh hereditas. Karakteristik fisik seperti jenis kelamin, ras, dan warna rambut adalah contoh – contoh jelas, tetapi ada pengaruh genetik lainnya. Salah satu pendekatan untuk menentukan pengaruh mana yang lebih besasr adalah dengan membandingkan kembar identik dan kembar deda telur. Peran factor genetic muncul ketika kembar identik lebih serupa dalam karakteristik bawaan disbanding kembar beda telur Hur, McGue, dan Lacono (1998) membandingkan beberapa ratus pasangan kembar perempuan baik dari kelompk kembar identik maupun beda telur (usia sebelas dan dua belas tahun), mengenai seberapa sama mereka dalam berbagai aspek identitas sosial. Sekitar sepertiga dari varias konsep self mereka disebabkan oleh peberdaan genetik. Efek genetik terbesar adalah pada persepsi populritas self dan penampilan fisik, tetapi ada aspek yang signifikan walaupun lebih kecil, yang efek pada persepsi terhadap kecemasan, kebahagiaan, dan kemampuan akademik. Sebagian dari siapa diri kita dan bagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri didasarkan pada factor – factor bawaan ini.

Banyaknya kategori yang menyusun identitas sosial terkait dengan dunia interpersonal. Mereka mengidentifikasikan sejauh mana kita serupa dan tidak serupa dengan orang lain di sekitar kita. Ketika konteks sosial seseorang berubah membandung sebuah identitas sosial baru dapat menjadi sumber stress yang besar (Sussman, 2000). Individu mengatasi stress tersebut dengan berbagai cara yang berbeda (lihat Bab 13). Sebagai contoh, ketika mahasiswa Hispanik di Amerika erikat meninggalkan sebuah subbudaya di mana mereka adalah mayoritas dan memasuki subbudaya Anglo – seperti ketika mereka memasuki universitas atau menjadi pegawai dalam sebuah organisasi – stres yang dihasilkan sering kali menimbulkan satu atau dua reaksi yang umum. Salah satunya adalah semakin mengidentifikassi dan terlibat dalam aktivitas Hisspanik, kelompok berbahasa dengan aspek etnis dalam identitas politik sebagai perjuangan akan kekuasaan adalah menjadi kurang mengidentifikasi diri dengan apa pun yang berbau Hispanik, mungkin bahkan mengadopsi nama versi Anglo dalam namanya, belajar untuk berbicara tanpa aksen Hispanik, dan pada umumnya menjadi berasimilasi dan tidak dapat dibedakan dari orang lain dalam budaya mayoritas (Ethier & Deaux, 1994).





Sumber: Psikologi Sosial Edisi Kesepuluh. Robert A. Baron. Donn Byrne (Hal 163 -164)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer