DEFINISI DISLEKSIA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 03 April 2018

DEFINISI DISLEKSIA

Kumpulan MateriDefinisi disleksia yang sering dipakai para ahli bahasa adalah definisi DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorders) menurut Asosiasi Psikiatri Amerika Serika (American Psychiatric Association). Menurut definisi ini, seorang anak patut dicurigai menderita disleksia jika prestasi membacanya, sebagaimana dibuktikan pada suatu tes membaca yang sudah terstandardisasi yang mengukut keakuratan membaca dan pemahaman atas bahan bacaan, secara substansial jauh di bawah yang semestinya dilihat dari membaca yang sudah terstandardisasi, masing untuk usia 6 sampai 9 tahun atau kelas 1 sampai 3 Sekolah Dasar (tes Bat-Elem) dan untuk usia 10 tahun atau kelas 4 Sekolah Dasar (Tes ANALEC). Pembedaan ini dilakukan karena paling tidak ada perkembangan yang secara mendasar membedakan usia 6 sampai 9 tahun dan usia 10 tahun sehingga untuk betul-betul menilai prestasi membaca seorang anak harus dipakai tes yang sesuai. 

Lebih jauh mengenai hasil tes membaca, nilai-nilai yang menjadi norma sangat penting fungsinya untuk menentukan di group mana kita bisa menggolongkan prestasi membaca seorang anak dan menentukan apakah dia menderita disleksia atau tidak. Kembali kepada penelitian Sprenger-Chorelles dkk. (2000), untuk mengatakan seorang anak menderita disleksia atau tidak, mereka menggunakan batas nilai satu Deviasi Standard dibawah nilai akurasi rata-rata perserta kontrol yang suda disamakan dalam umur kronologis dengan anak yang berkesulitan membaca. Batas ini cukup sering dipakai dalam penelitian. Devisi Standard adalah nilai yang menunjukkan seberapa besar jarak antara satu set nilai dengan nilai rata-rata set itu. Misalnya Devisi Standard nilai membaca sekelompok anaka pada sebuah penelitian adalah 2. Dibandingkan dengan Deviasi Standard sekelompok anak yang lain yang bernilai 10, nilai-nilai anak-anak pada kelompok pertama lebih mengelompok di sekitar nilai rata-rata dibandingkan nilai-nilai di kelompok kedua. Devisi Standard dihitung dengan rumus di bawah ini: 


Di sisi lain, peneliti kadang-kadang memutuskan untuk menggunakan batas nilai yang lebih ketat dari satu Deviasi Standard di bawah nilai rata-rata. Sebagai contoh dalam penelitian Bree (2007), kemampuan membaca orang tua dijadikan landasan untuk menentukan apakah seorang anak mempunyai resiko terkena disleksia (at-risk for dyslexia). Nilai orang tua harus berada di bawah percentile kesepuluh pada tes Een-Minut-Test atau tes De Klepel atau berada di bawah percentile keduapuluh lima pada kedua tes tersebut. Kemudian, satu tes lain yaitu kompetensi verbal juga dipakai. Een-Minuut-Test adalah tes dengan waktu satu menit di mana sebanyak mungkin harus dibaca dengan baik, sedangkan pada tes De Klepel sebayak mungkin kata-kata rekaan (non-words) harus dibaca dalam waktu dua menit. Berhubungan dengan kompetensi, Bree (2007) mensyaratkan adanya perbedaan 60% antara kompetensi verbal dan performa pada tes Een-Minuut-Test dan De Klepel. Jika dibandignkan dengan batas menggunakan satu Deviasi Standar di bawah angkat rata-rata, penggunaan percentile kesepuluh menghasilkan angka yang lebih kecil atau performa membaca yang lebih jelek. Percentile kesepuluh mempunyai arti suatu angka yang dibawahnya terletak 105 angka atau nilai yang lebih rendah. Sebagai bandingan, percentile kelimat puluh adalah angka tengah atau median yang dibawahnya terletak 50% angka atau nilai yang lebih rendah. Untuk lebih jelasnya, satu Deviasi Standard sejajar dengan percentile keenam belas, atau 16% angka yang lebih rendah. Disisi lain, orang tua juga dapat digolongkan sebagai penderita disleksia jika mempunyai nilai dibawah percentile keduapuluh lima pada kedua tes membaca tersebut. Walaupun angkanya menjadi lebih besar, penggunaan dua tes untuk mendukung diagnosis tetap merupakan sesuatu yang cukup ketat. 

Terlepas dari nilai batas yang akhirnya digunakan, penggunaan satu Devisi Standard di bawah nilai rata-rata merupakan hal pertama yang dapat kita pilih. Selama tidak ada alasan untuk membuat nilai batas yang lebih ketat biasanya tidak masalah. Namun demikian, semua nilai batas yang diambil haruslah datang dari tes yang sudah distandardisasi dan terbukti valid dan handal 

Bagian selanjutnya dari definisi disleksia dari DSM-IV adalah bahwa kesulitan memaca ini terjadi walaupun anak memiliki usia yang cukup untuk belajar, kecedasan yang normal, dan kesempatan untuk bersekolah dengan baik. Di sini kita harus membedakan disleksia dengan masalah belajar. Penggunaan bahasa atau membaca dicoba diminimalkan supaya nilai yang didapatkan anak tidak terpengaruh oleh kesulitan membacanya dan supaya nilai terseb betul-betul mencerminkan kecerdasannya. 





Sumber: Anjarningsih Harwintha Y. (2011). Jangan kucilkan aku karena aku tidak mahir membaca: pentingnya identifikasi dini disleksia untuk masa depan anak. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press. (Hal 8-14) 

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer