SURVEI PADA PERILAKU BERKENCAN DAN BERPASANGAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 27 Maret 2012

SURVEI PADA PERILAKU BERKENCAN DAN BERPASANGAN

Banyak data yang ditemukan oleh psikologi evolusi datang dari koesioner dan wawancara. Dalam penelitian ini, ketika orang (umumnya mahasiswa) diminta untuk membuat peringkat atas kualitas-kualitas yang mereka lihat dari calon pasangannya, muncul perbedaan antar jenis kelamin, seperti apa yang diramalkan oleh teori evolusi (Kenrick dkk., 2001). akan tetapi ketika kami memeriksa datanya lebih lanjut, kami menemukan masalah. Sebagian contoh, di luar perbedaan mereka, pria dan wanita biasanya sama-sama menilai tinggi kebaikan, inteligensi, dan tidak mementingkan kualitas fisik dan status finansial.


Dalam pembahasan sebelumnya bahwa mahasiswa sebagai “sampel yang umum dipakai” terkadang menghasilkan kesimpulan penelitian yang tidak dapat diterapkan pada populasi nonmahasiswa. Inilah yang mungkin terjadi pada banyak penelitian evolusi menganai sikap terhadap seks dan pernikahan. Dalam penelitian nasional yang dilakukan belum lama ini, peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention: CDC) mewawancarai lebih dari 12.000 pria dan wanita yang berusia 15 sampai 44 tahun tentang seks, kohabitasi, pernikahan, perceraian, dan pengasuhan anak (Martinez. Dkk., 2006). Badan ini telah melakukan penelitian serupa di tahun 1973 tetapi hanya menggunakan subjek wanita. Kali ini, para peneliti menanyakan pertanyaan yang cukup jelas: Bagaimana dengan pria? Oleh karena itu mereka dapat mengambil kesimpulan tantang sikap tersebut pada pria dan wanita berdasarkan sampel yang lebih merepresentasikan populasi dibandingkan dengan yang sampel yang digunakan oleh sebagian besar peneliti. Apa yang mereka temukan membersihkan gambaran baru tentang pemahaman evolusi mengenai perbedaan jenis kelamin.

Sebagian contoh, seperti apa yang kita komitmen suatu hubungan daripada pria dan wanita lebih mendedikasikan dirinya terhadap pengasuhan anak. 66 persen pria, dibandingkan dengan hanya 51 persen wanita, lebih setuju atau sangat setuju dengan pernyataan “Lebih baik menikah daripada menjalani hidup sendiri.” Lebih lanjut, sebagian besar wanita dan pria setuju bahwa “Lebih penting bagi pria untuk menghabiskan banyak waktu yang cukup banyak untuk memberi makan dan memandikan anak mereka, membantu tugas sekolah dan mengajak mereka beraktivitas. 94 persen pria dan wanita setuju bahwa ”Penghargaan menjadi orang tua sangat berarti, tak peduli seberapa besar biaya dan usaha yang dibutuhkan.”






Sebagaimana biasa, kita harus menghindari simplifikasi berlebihan. Beberapa hasil memang sejalan dengan stereotip yang ada. Lebih banyak pria daripada wanita (60 persen berbanding 51 persen) yang setuju bahwa orang yang berusia 18 tahun yang belum menikah boleh melakukan hubungan seksual “jika mereka saling memiliki perasaan afeksi yang kuat satu sama lain.” Wanita juga lebih mungkin untuk menikah di usia 30 dibandingkan dengan pria. Penelitian berdekade-dekade menemukan bahwa pria lebih mungkin untuk memiliki lebih banyak pasangan hubungan seksual di luar nikah dibandingkan dengan wanita. Akan tetapi secara keseluruhan , penemuan CDC menyatakan bahwa pria Amerika sama tertariknya untuk membina keluarga yang seirus dibandingkan dengan wanita.


Tapi masih ada masalah lain dalam metode survei menurut teori evolusi. Beberapa pengkritik telah mempertanyakan asumsi yang mendasari survei-survei tersebut, bahwa jawaban responden mengggambarkan dengan baik pemilihan keputusan dan tindakan sebenarnya dari mereka. Ketika anda menanyakan seseorang tentang apa yang lebih membuat mereka melakukan hubungan seksual dengan orang lain atau pasangan mereka melakukan hubungan seksual dengan orang lain atau pasangan mereka jatuh cinta dengan orang lain, wanita biasanya lebih mungkin, daripada pria, untuk berkata bahwa ketidaksetiaan emosional lebih buruk (meskipun sangat bervariasi antar budaya). Akan tetapi ketika seorang peneliti menanyakan kepada orang-orang mengenai pengalaman mereka sebenarnya dengan ketidaksetiaan, pria dan wanita tidak berbeda sama sekalu dalam sisi perhatian mereka terhadap aspek emosional atau seksual dari perilaku pasangan mereka (Harris, 2003). Bahkan, pria yang seharusnya mekhluk yang lebih pecemburu pada aspek seksual, secara signifikan lebih dapat menoleransi ketidaksetiaan pasangannya dalam hal seksual dibandingkan dengan wanita, di mana wanita akan lebih cenderung mengakhiri hubungan apabila hal itu terjadi.


Pada kesimpulan, kita harus lebih berhati-hati dalam mengintresprestasi hasil survei yang tampaknya mendukung pendekatan evolusi. Apa yang dikatakan pada mahasiswa mengenai berpasangan dan berkencan tidak selalu sama pada setiap orang, dan apa yang mereka katakan tentang berpasangan dan berkencan tidak harus seiring dengan apa yang mereka sebenarnya lakukan.



Sumber: Buku Psikologi, edisi kesembilan, jilid 1. Carole Wade. Carol Travris.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer