MODEL MEMBACA DEVELOPMENTAL - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Senin, 21 Mei 2012

MODEL MEMBACA DEVELOPMENTAL


Menurut sebuah pandangan, keahlian membaca berkembang melalui lima tahap (Chall, 1979). Batas usia tidak bersifat kaku dan tidak berlaku untuk setiap murid. Misalnya, beberapa murid belajar membaca sebelum masuk ke kelas satu. Meskupun demikian, tahap-tahap Chall ini memberikan pemahaman umum tentang perubahan developmental dalam proses belajar membaca.
  1. Tahap 0. Dari kelahiran sampai grade satu, anak menguasai beberapa prasyarat untuk membaca. Banyak yang bisa menguasai cara dan aturan membaca, cara mengidentifikasi huruf, dan cara menulis namanya sendiri. Beberapa anak belajar membaca kata-kata yang biasanya muncul bersama tanda symbol. Salah satu hasil dari acara TV Sesama Street dan mengikuti kelas prasekolah dan taman kanak-kanak, banyak anak kecil dewasa ini punya kemampuan membaca yang lebih besar sejak usia dini.
  2. Tahap 1. Di grade satu dan dua, banyak anak mulai belajar membaca. Mereka belajar dengan mengucapkan kata-kata (yakni, menyuarakan huruf atau sekelompok huruf dan membentuk ucapan kata). Pada tahap ini, mereka juga mampu menguasai nama dan suara huruf.
  3. Tahap 2. Di grade dua dan tiga, anak makin lancer dalam membaca. Akan tetapi, pada tahap ini, membaca masih belum banyak digunakan untuk belajar. Mereka disibukkan oleh tugas membaca saja sehingga anak tidak punya banyak energy untuk memahami isi bacaannya..
  4. Tahap 3. Di grade empat sampai delapan, anak makin mampu mendapatkan informasi dari bacaannya. Dengan kata lain, mereka belajar membaca. Mereka masih kesulitan memahami informasi yang diberikan dari baragam perspektif dalam teks yang sama. Anak yang pada tahap ini belum mampu menguasai keahlian membaca, mereka akan mengalami kesulitan serius dalam bidang akademik.
  5. Tahap 4. Di sekolah menengah atas, banyak murid yang telah menjadi pembaca yang kompeten. Mereka mampu memahami materi tertulis dari berbagai perspektif. Hal ini membuat mereka terkadang terlibat dalam diskusi yang lebih maju dalam pelajaran sastra, sejarah, ekonomi, dan politik. Bukan kebetulan bahwa novel-novel besar baru diberikan pada masa ini, karena pamahaman terhadap murid novel membutuhkan pemahaman membaca yang canggih.


Sumber: Psikologi Pendidikan , edisi kedua. John W. Santrock, Universty of Texas-Dallas.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer