PENDEKATAN KOGNITIF DALAM MENULIS - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 23 Mei 2012

PENDEKATAN KOGNITIF DALAM MENULIS


Pendekatan kognitif untuk menulis menekankan banyak tema yang sama dengan yang kita diskusikan dalam aktivitas membaca, seperti pengkonstruksian makna dan mengembangkan strategi (Kellogg, 200). Perencanaan pemecahan masalah, revisi, dan strategi metakognitif dianggap amat penting dalam meningkatkan kemampuan menulis dari siswa.

Perencanaan, Perencanaan yang mencakup penyusunan garis besar dan penataan informasi isi, adalah aspek penting dari menulis (Levy & Randsell, 1996). Murid perlu diberi tahu cara membuat garis besar dan menata suatu makalah, dan mereka perlu diberi umpan balik tentang kompetensi dari usaha mereka. Salah satu studi mengkaji bagaimana aktivitas pra-menulis dapat memengaruhi kualitas tulisan (Kellogg, 1994).

Pemecahan Masalah, Kebanyakan instruksi menulis di sekolah melibatkan upaya mengajari murid cara menulis kalimat dan paragraph dengan benar. Akan tetapi, menulis bukan sekedar menghindari kalimat yang “bertele-tele” atau memastikan bahwa suatu paragraph mendukung “kalimat topic” (Menulis, 1999). Menulis juga sejenis pemecahan masalah. Seorang psikolog menamakan proses pemecahan masalah dalam menulis sebagai “pembuatan makna” (Kellogg, 1994).

Sebagai pemecahan masalah penulis perlu menyusun tujuan dan berusaha mencapaina. Penulis juga bisa dianggap dibatasi oleh kebutuhannya untuk mengintegrasikan tentang cara kerja system bahasa dan problem penulisan itu sendiri. Problem penulisan antara lain tujuan  dari makalah, audien, dan peran penulis dalam paper yang akan dibuat (Flower & Hayes, 1981).

Revisi. Revisi adalah kompenen utama dalam penelitian yang sukses (Mayer, 1999). Revisi melibatkan penulisan bebrapa draf, mencari umpan balik dari individu yang punya bnyak pengetahuan tentang menulis, dan belajar cara menggunakan umpan balik untuk memperbaiki tulisan. Revisi juga melibatkan pendeteksian dan pengoreksian kesalahan. Para periset telah menemukan bahwa semakin dewasa dan semakin ahli di penulis, semakin mungkin ia merevisi tulisan mereka ketimbang penulis muda yang belum berpengalaman (Bartlett , 1982; Hayes & Flower, 1986).

Matakognisi. Ketika kita menenkankan pengetahuan penulisan , kita bergerak ke area metakognisi. Dalam sebuah studi murid dari usia sepuluh sampai empat belas tahun diminta menulis paper yang akan menarik perhatian murid-murid  seusia mereka (Scardmalia, 1981). Dalam melaksanakan tugas ini murid mengalami kendalam karena kurang perencanaan, tidak mencatat ide-ide, dan tidak memonitor menujukkan fakta bahwa banyak murid sekolah menengah tidak punya pengetahuan yang baik tentang perencanaan dan strategi organisasional yang dibutuhkan untuk menulis yang baik dan karenanya mereka perlu diajarkan keahlian ini.

Memantau kemajuan tulisan seorang adalah penting untuk menjadi penulis yang baik (Graham & Harris, 2001). Aktivitas ini membutuhkan umpan balik dan mengaplikasikan apa yang dipelajari dalam menulis esai untuk membuat esai selanjutnya menjadi lebih baik.

Pendekatan Konstruktivis Sosial. Pendekatan konstruktivis social  menekankan bahwa menulis peling baik dipahami sebagai sesuatu yang dikonstruksi secara social dan berasa dalam konteks cultural ketimbang sebagai sesuatu yang muncul begitu saja dari dalam diri sendiri. Dalam pendekatan konstruktivis social untuk membaca, peran guru bergeser dari menyampaikan pengetahuan ke membantu murid untuk merestrukturkan pengetahuan mereka sendiri. Dalam hal ini, baik itu guru maupun teman sebaya dapat berfungsi sebagai pembaca yang lebih ahli. Strategi  konstruktivis social ini juga dapat diaplikasikan untuk pelajaran menulis (Dauite, 2001); Schults & Frecho, 2001).

Konteks Sosial dari Penulisan. Perspektif konstruktivis social focus pada konteks social di mana tulisan dihasilkan. Murid perlu berpartisipasi dalam komunitas penulisan untuk memahami hubungan penulis/pembaca dan agar mereka belajar mengenali bagaimana perspektif mereka bisa berbeda dari perspektif orang lain (Hiebert & Rephael, 1996).

Untuk melihat arti penting dari konteks social dalam penulisan, ambil contoh dua murid berikut ini. Anthony, adalah murid Latina usia 9 tahun yang tinggal di Manhattan, New Anthony, adalah murid Latino usia 9 tahun yang tinggal di ekstensif, menyimpulkan jurnal-jurnal ilmiah, dan berpartisipasi dalam kelas yang sering member pelajaran menulis sejak awal tahun ajaran. Dia sedang senang menulis suatu topic, yakni penghormatan kepada neneknya yang baru saja meninggal dunia. Gurunya mendorong Anthony untuk menuliskan tentang kematian neneknya, mendiskusikan berbagai variasi penulisan untuk topic ini selama pertemuan menulis antara guru dan murid. Guru dan Anthony berdiskusi tentang car aterbaik untuk menyusu dan menata mekalahnya. Produk tulisan akhirnya adalah penjelasan yang menyentuk tentang kehidupan dan kematian neneknya. Guru di Anthony in percaya menulis memainkan peran penting dalam pendidikan, dan dia menyampaikan hal ini kepada semua murid-muridnya. Carlos, murid Latino yang beru saja tinggal di area Bronx, New York City mempunyai pengalaman yang berbeda dengan Anthony. Meskipun bahasa inggrisnya bagus, Carlos belajar di kelas yang tidak banyak member kesempatan untuk menulis tentang pengalaman pribadinya, dan dia tak pernah menulis apa pu di luar kelas. Dia merasa sangat tidak nyaman ketika guru murid, Carlos enggan mendiskusikan perasaannya. Guru Carlos telah diberi mendat oleh kepada sekolah untuk memasukkkan perasannya. Guru Carlos telah diberi mandate oleh kepala sekolah untuk memastikan pelajaran menulis dalam kurikulumnya. Guru ini tidak bersemangat dalam pelajaran menulis dan tidak banyak menghabiskan waktu dengan Carlos untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.

Seperti ditunjukkan oleh situasi Anthony dan Crlos, konteks social memainkan peran penting dalam penulisan. Beberapa murid punya latar belakang penulisan yang kaya dan bersemangat menulis di kelas, sedangkan yang lainnya tidak banyak mendapat pengalaman menulis dan tidak sengan dengan pelajaran mereka. Di beberapa kelas, guru sangat menghargai pelajaran menulis, tetapi di tempat lain banyak guru yang menganggap menulis sebagai kurang penting.

Penulisan Bermakna dan Konferensi Guru Murid. Menurut pendekatan kontrutivis social, tugas menulis murid seharusnya member kesempatan untuk menciptakan teks yang “riil” dalam pengertian menulis tentang situasi yang bermakna secara personal. Misalnnya,Anthony, yang gurunya sering menyuruh murid-muridnya untuk menulis pengalaman pribadi, menulis tentang kehidupan dan kematian neneknya, dan guru member banyak dukungan untuk menuliskan pengalaman emosionalnya. Konferensi atau pertemuan guru-murid untuk membahasa penulisan akan memainkan peran penting dalam membantu murid untuk penulis yang baik.

Kolaborasi Teman Sebaya. Saat bekerja dalam kelompok, penulis menjalani proses penelitian, klarifikasi, dan elaborasi yang merupakan aspek-aspek penting dalam penulisan yang baik (Webb & Palinesar, 1996). Murid sering kali membawa pengalaman bersama. Kolaborasi yang kaya dan penuh warna ini akan menghasilkan pendangan guru tentang apa yang harus ditulis dan bagaimana menuliskannya. Sebaliknya, menulis yang hanya sekadar memenuhi tugas guru sering kali akan menghasilkan tulisan yang terbatas, Imitatif, dan tidak kreatif. Dalam kelompok menulis bersama, ekspektasi guru sering kali kurang kelihatan (Kearney, 1991).

Koneksi Sekolah/Keluarga/Teman. Dalam sebuah upaya, guru didorong untuk mengenali eksistensi dan kekayaan dikomunitas Latina di sekitar sekolah dan kemudian mengintegrasikan ke dalam konteks sekolah (Molll, Tapis, & Whitmore, 1993). Upaya ini mencakup: (1) analisa tentang bagaimana pengetahuan ditransmisikan di dalam rumah tangga di komunitas Latino (2) laboratorium selepas sekolah di mana guru dan murid menggunakan metode membaca dan menulis yang sama dengan yang dipakai dalam lingkungan murid, bukan yang dipakai di sekolah; dan (3) koneksi kelas yang mengintegrasikan tiga komponen ini. Misalnya, murid mencatat penggunaan dan car amenulis di dalam komunitas seperti surat kepada saudara di Negara lain dan entri di buku catatan. Kemudian, surat kepada saudara di negar alain dan entri-entri di buku catatan. Kemudian, bersama dengan teman-teman mereka, para murid menciptakan proyek untuk topic yang merefleksikan keahlian anggota dari komunitas mereka, seperti pengetahuan tentang mekanik dan bengkel reparasi. Untuk mendapatkan informasi untuk proyek mereka murid mewawancarai beberapa anggota komunitas. Murid-murid ini juga berkomunikasi melalui e-mail dengan murid di komunitas Latino di bagian lalu di AS.

Libatkan komunitas menulis di kelas anda. Tengoklah komunitas anda dan pikirkan tentang siapa pakar menulis yang bisa anda undang untuk bicara di kelas anda guna mendiskusikan karya mereka. Kebanyakan komunitas punya pakar, seperti wartawan, penulis, dan editor. Salah satu dari empat sekolah menengah tersukses di AS yang disebut oleh Joan Lipsite (1984) telah memasukkan program Auhtor’s Week (Minggu temu Pengarang) ke dalam kurikulumnya. Berdasarkan minta, ketersediaan dan diversitas murid, pengarang akan diundang untuk mendiskusikan karya mereka dengan murid-murid itu. Murid harus mendaftar untuk bertemu dengna penulis secara perorangan. Sebelum mereka bertemu penulis itu, mereka diharuskan membaca setidaknya satu sari buku karya di pengarang. Murid menyiapkan pertanyaan untuk sesi pertemuan itu. Dalam beberapa kasusu pengarang dating ke kelas-kelas selama beberapa hari untuk membantu murid mengerjakan tugas menulis mereka.

Dalam diskusi membaca dan menulis ini, kami telah mendeskripsikan sejumlah ide yang dapat dipakai di kelas. Untuk mengevaluasi pengalaman menulis dan membaca, kerjakan Self-Assessment 11.1.


Sumber: Psikologi Pendidikan , edisi kedua. John W. Santrock, Universty of Texas-Dallas.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer