Breaking News
Loading...
Selasa, 01 Mei 2012

TEORI PEMBANGUNAN ALTERNATIF: ETHNODEVELOPMENT ATAU MULTIKULTURALISME?


Proses pembangunan yang dilaksanakan guna mendapat-kan bentuk perubahan sosial yang tepat adalah suatu upaya yang menenrukan konsep penentuan nasib suatu bangsa. Masyarakat dengan pembangunan butuh penentuan nasib sendiri, kebutuhan dasar manusia, kelangsungan hidup (sustainability) dan pembangunan berdasarkan pertimbangan lain yang bersifat local. Menurut teoretisi mashab alteratif pembangunan nasional haruslah merupakan proses yang endogen, yang didalamnya mencakup suatu proses yang me-miliki kesamaan tertentu dengan teori modernisasi klasik. Masyarakat dalam teori pembangunan alteratif harus meng-ikuti jalannya pembangunan mereka sendiri yang terdapat dalam kekuatan sejarah masyarakat local, ekologi dan kebu-dayaan mereka sendiri. Suatu pandangan yang sedikit ba­nyak menyimpang dari teori pembangunan formal pada ting-kat abstraksi yang tinggi. Menurut Bjorn Hettne (1990), aliran pemikiran ini agak terkucilkan dan menurutnya sesuai de­ngan semangat penentangan 'bawah-tanah' (underground counterpoint) dalam tradisi pemikiran barat tentang pemba­ngunan. Pemikiran itu muncul sebagai gerakan protes secara berkala menentang teori modernisasi sebagai arus utama (mains-trearn).

Untuk membangun model pembangunan alteratif atau pembangunan lain (an&tlier development) dalam tradisi ber-pikir ilmu ilmu sosial, membutuhkan suatu ketegangan pe-nyusunan konseptual yang secara rutin harus selalu dikritisi sebagai wacana yang terbuka. Dimensi berpikir itu harus dapat dipahami secara lebih baik, lebih bisa diterangkan secara utuh. Dengan demikian teori pembangunan merupa­kan suatu kesatuan tertentu atau kesepahaman bersama yang akhirnya dapat dicapai kesepakatan. Pembangunan tetap me­rupakan bidang kajian ilmu sosial yang menarik dan tak bisa » dipisah-pisahkan (indivisible) meskipun juga tidak bisa diper-satukan. Teori pembangunan andaikata mengalami pengka-jian, bukanlah merupakan suatu langkah yang surut, tetapi menjadi sebuah wacana yang harus diperbaiki, disempurna-kan karena merupakan proses belajar yang terus-menerus dan teratur.

Beberapa indikator empiris yang dapat dirunut untuk me-nyatakan bahwa banyak teori pembangunan yang harus di-kembangkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Suatu strategi yang perlu dilakukan secara tepat untuk me-ngelola masyarakat disuatu komunitas wilayah, dengan ke­butuhan mereka sendiri, tanpa harus mengubah mereka - menjadi masyarakat lain.

Menurut Huntington (1997), di lingkungan peradaban dunia akan terjadi benturan antar peradaban karena tiga hal pokok : (1) Adanya hegemoni atau arogansi kebudayaan Barat (2) Intoleransi Islam yang membuat peradaban tersendiri yang cukup keras menolak hegemoni kebudayaan barat (3) Adanya fanatisme Konfusionisme yang mulai menggejala didalam lapangan usaha ekonomi dalam kerangka pasar bebas. Le­bih lanjut, Huntington menyebutnya ada enam alasan mengapa terjadi perang antar peradaban dimasa depan, yaitu terjadinya paling tidak ada enam alasan yang men­jadi gejala yang tidak dapat terelakkan.
  1. Perbedaan antar peradaban tidak hanya riil, tetapi men­jadi sangat mendasar, peradaban telah menjadi terdefe-rensiasi oleh perjalanan sejarah umat manusia, perbe­daan bahasa, budaya, tradisi dan yang lebih penting lagi adanya perbedaan agama yang mendasari pan-dangan filosofi hidup berbagai komunitas masyarakat.
  2. Karena kemajuan peradaban manusia lewat peman-faatan teknologi, kondisi lingkungan hidup manusia se­makin menyempit, sehingga interaksi antara orang yang berbeda peradaban dan budayanya semakin me-ningkat tajam.
  3. Proses modernisasi ekonomi yang dijalankan dengan proses pembangunan membuat dunia menjadi menggelobal menyebabkan orang atau masyarakat tercerabut dari identitas local yang sudah berakar sangat dalam, di samping itu ada gejala memperlemah kesatuan negara-bangsa sebagai identitas mereka.
  4. Tumbuhnya kesadaran peradaban local dan asal yang dimungkinkan karena peran ganda dari budaya barat. Disatu sisi peradaban barat telah mencapai titik pun-caknya, tetapi disisi yang lain peradaban local juga mu-lai menguat menampilkan identitas diri yang memban-tu penampilan mereka sebagai sistem fenomena per­adaban yang mandiri.
  5. Karakteristik budaya dan peradaban kurang bisa me-nyatu dibandingkan dengan karakteristik perbedaan politik dan ekonomi yang biasa dapat melakukan kom-promi secara terbuka dan fungsional.
  6. Regionalisme ekonomi semakin meningkat dalam ke-hidupan masyarakat secara menggelobal.
Pertikaian antar etnis (recurrent patterns) akan kerap tim-bul sebagai fenomena yang sering terjadi, dan model perubahan social yang terjadi dari aspek ini hampir tidak pernah disadari dalam gambaran lengkap dan sejarah perubahan sosial ekonomi disuatu masyarakat. Fenomena ini banyak memakan korban, seperti yang pernah terjadi dimasyarakat Rwanda, Bosnia atau Somalia (Afrika), tatapi fenomena itu menjadi lebih getir lagi ketika timbul pembasmian etnis, seperti yang terjadi di Aceh, Ambon, Papua, Sambas di kota Sanggau Ledo (Kalimantan Barat), dan peristiwa Sampit ibu kota Kabupaten Waringin Timur dan Palangka Ray a (Kalimantan Timur). Sampai sejauh ini tidak ada upaya yang sistematis untuk mence-gahnya (conflict prevention). Perjuangan etnis akhirnya di-lakukan melalui cara-cara 'kekerasan lingkungan' (envi­ronmental violence), yakni sebagai proses perubahan ling­kungan dan marjinalisasi sumber daya alam secara massif oleh kekuasaan pemerintah pusat, yang mewarisi ketidakadilan dan mengikis habis martabat kebudayaan etnik '"yang merupakan basis kebudayaan local.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer