BUDAYA PEMBELAJARAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 20 Juni 2012

BUDAYA PEMBELAJARAN


Ramalan didunia ini tentang globalisasi, organisasi-organisasi yang knowledge based, abad informasi, abad biotech, dan sebagainya menurut Schein (1992) didasari oleh ketidaktahuan bagaimana gambaran dari dunia akan dating, kecuali bahwa dunia akan berubah. Ini berarti bahwa organisasi-organisasi dan pimpinannya harus menjadi pelajar-pelajar abadi. Perusahaan-perusahaan menjadi organisasi pembelajaran, yang memiliki budaya pembelajaran. Schein (1994) mengemukakan tujuh unsur dari budaya pembelajaran:
  1. Perhatian terhadap orang (concern for people). Ini Schein temukan pada organisasi-organisasi yang adaptatif dan inovatif selama satu periode yang panjang. Ada perhatian yang sama untuk semua orang yang untuk semua orang yang berkepentingan (stake holders), pelanggan, karyawan, suplliers dan para pemegang saham.
  2. Keyakinan bahwa orang dapat dan mau belajar dan menilai pembelajaran dan perubahan sebagai penting. Gejala ini juga ditemukan dalam perusahaan-perusahaan yang adaptif dan inovatif. 
  3. Perlu ada keyakinan bahwa dunia sekitar dapat diubah/ditempa. (malleable). Ada kemampuan untuk mengubah lingkungan, dan bahwa pada akhirnya mereka membuat nasib mereka sendiri.
  4. Organisasi perlu ada waktu yang kendor (slack), waktu yang digunakan untuk pembelajaran yang menghasilkan, tapi sama pentingnya harus ada keanekaragaman yang cukup dari orang-orang, kelompok-kelompok dan subbudaya untuk memungkinkan alternatif-alternatif yang kreatif,
  5. Pada tinggat organisasi harus ada keikatan (commitment)bersama terhadap komunikasi terbuka dan luas. Saluran-saluran komunikasi harus tersedia setiap saat diperlukan, disamping itu organisasi perlu menyediakan waktu untuk dapat mengembangkan kosakata bersama sehingga komunikasi dapat berlangsung. Perlu mengatakan semua yang relevan dari tugas-tigas yang sedang jalan, dan perlu saling mengatakan kebenaran (truth). Budaya pembelajaran berasumsi bahwa komunikasi yang lengkap dan terbuka, yang berhubungan bahwa dengan tugas, adalah penting.
  6. Perlu dikembangkan satu keikatan bersama (shared commitment)untuk belajar berfikir secara systemic. Gejala-gejala sistemik misalnya, akibat-akibat jangka pendek dan jangka panjang, jalur-jalur balikan. Berfikir sebab-akibat yang linier akan mencegah diagnosis yang cermat.
  7. Dunia makin menjadi majemuk dan koordinasi dan kooperasi yang saling tergantung makin penting. Pekerjaan tidak dapat lagi dikerjakan sendiri, tapi memerlukan kerjasama dalam bentuk tim. Karena itu, perlu memiliki keyakinan-keyakinan bersama bahwa tim dapat dan akan bekerja baik.
Mengubah satu budaya organisasi menjadi budaya pembelajaran merupakan suatu proses yang sulit dan lama, keyakinan-keyakinan yang dimiki perlu diubah menjadi keyakinan-keyakinan dari suatu budaya pembelajaran.

Proses perubahan terjadi melalui tiga tahap, tahap unfreezing, tahap pembelajaran, tahap refreezing. Dalam tahap unfreezing, diperlukan ditimbulkan kesadaran bahwa keyakinan-keyakinan yang dimiliki merugikan dan perlu diubah.Bila kesadaran ini telah ada maka mulai tahap kedua, diajarkan keyakinan-keyakinanyang baru, untuk kemudian, tahap ketiga, membuat keyakinan-keyakinan baru menjadi tetap, pola-pola perilaku baru menjadi kebiasaan-kebiasaan. 

Untuk mencairkan keyakinan-keyakinan ada dua cara menurut Schein (1994). Ada keengganan untuk merubah keyakinan, karena keyakinan yang baru tidak diketahui apakah hasilnya akan memuaskan. Kalau misalnya ada keyakinan bahwa atasan yang menentukan apa yang baik dan apa yang buruk buat kita dan hasilnya sampai sekarang dirasakan benar, malahan sering kita rasakan sebagai menguntungkan kita, maka untuk mengubah keyakinan diatas menjadi keyakinan bahwa kita sendiri yang menentukan apa yang baik dan apa yang buruk bagi kita, akan kita tolak. Kita tidak pasti apakan hasil dari keyakinan baru ini akan lebih baik. Ini yang dinamakan Schein sebagai ketakutan 1 (anxiety 1), kekuatan untuk merubah.Karena takut terhadap yang tidak diketahui (fear of changing based on a fearof the unknown). 

Cara yang kedua ialah jika diharapkan dengan lingkungan yang bergejolak, yang sulit untuk diprediksi/diramalkan, sehingga masalah-masalah baru akan timbul dan jawaban-jawaban kita menjadi tidak tepat, maka kita sadar bahwa kita tidak berubah dan belajar bagaiman belajar, akibatnya akan buruk untuk kita. Ini yang dinamakan Schein sebagai ketakutan 2 (anxiety 2), kesadaran bahwa untuk dapat mempertahankan hidup dan berkembang kita harus merubah. 

Kedua macam ketakukan ada pada kita semuanya. Kalau ketakutan 1 lebih besar daripada ketakutan 2, maka kita tidak akan mau berubah. Sebaliknya jika ketakutan 1 lebih kecil dari ketakutan menjadi budaya pembelajran harus diusahakan agar ketakutan 2 lebih besar dari ketakutan 1.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer