VALIDITAS DAN RELIABILITAS: TOLAK UKUR PENELITIAN ILMIAH - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 16 Juni 2012

VALIDITAS DAN RELIABILITAS: TOLAK UKUR PENELITIAN ILMIAH

Bagi banyak penelitian yang kurang memahami paradigma penelitian kualitatif cenderung meragukan keabsahan hasil penelitian kualitatif. Salah satu pertanyaan mendasar yang sering dilontarkan adalah: apakah hasil penelitian kualitatif memenuhi standar penelitian ilmiah? Jawaban dari pertanyaan ini dapat dikembalikan pada masalah validitas (kesahihan) dan reliabilitas (keterbatasan) penelitian. Agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, sebelum membahas masalah validitas dan reliabilitas penelitian kualitatif, ada baiknya dikemukakan secara ringkas masalah ini dalam penelitian kualitatif.

Standar validitas dalam penelitian kualitatif mengacu pada isi dan kegunaan alat ukur. Sebagai ilustrasi: Parameter GNP (Gross National Product) dianggap cukup valid untuk mengukur tingkat perekonomian suatu negara, akan tetapi kurang valid kalau digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran dan pemerataan pendapat masyarakat. Jelasnya, alat ukur yang dijadikan standar validitas harus dapat dijadikan tolak ukur bagi obyek yang akan diukur.

Pada umumnya dikenal dua macam standar validitas, yaitu validitas internal internal dan eksternal. Validitas internal mempertanyakan sampai seberapa jauh suatu alat ukur berhasil mencerminkan obyek yang akan diukur pada suatu setting tertentu. Sementara itu, validitas eksternal lebih terkait dengan keberhasilan suatu alat ukur untuk diaplikasikan pada setting yang berbeda, artinya alat ukur yang cukup valid mengukur obyek pada suatu setting tertentu,apakah juga valid untuk mengukur obyek yang sama pada setting yang lain.

Berbeda dengan validitas, standar reliabilitas menunjuk pada keteradalan alat ukur atau instrumen penelitian yang utama adalah koesioner. Item-item yang tersurat dalam kuesioner di harapkan mampu berfungsi sebagai alat untuk menggali data secara tepat.

Secara ringkas, standar reliabilitas mencakup tiga aspek:

  1. Kemampuan atau ke “ajegan” an. Suatu ala ukur memiliki tingkat kemantapan yang tinggi bilamana digunakan berulang kali (dilakukan replikasi pengukuran), akan memberikan hasil yang sama, dengan syarat kondisi pada saat pengukuran relatif tidak berbeda.
  2. Ketepatan atau akurasi. Suatu alat ukur memiliki tingkat ketepatan yang tinggi bilamana menunjukkan ukuran yang benar terhadap sesuatu (obyek) yang diukur.
  3. Homogenitas. Suatu alat ukur memiliki tingkar homogenitas yang tinggi bilamana unsur-unsur pokoknya mempunyai kaitan erat satu sama lain dan memberikan konstribusi pemahaman yang utuh terhadap pokok persoalan yang diteliti (obyek yang diukur).
  4. Untuk membuktikan derajad validitas maupun reliabilitas dalam penelitian kuantitatif, umumnya disajikan dalam bentuk perhitungan statistika. Hal ini memang mudah dilakukan mengingat data yang terkumpul cenderung didominasi oleh data kualitatif.
  5. Sebagaimana dengan penelitian kualitatif, sebagai suatu discriplined inquiry, penelitian kualitatif harus memiliki kriteria atau standar validitas dan reliatbilitas. Namun demikian, mengingat adanya perbedaan paradigma yang mendapat antar keduanya, standar validitas, dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif memiliki spesifikasi tersendiri. Menurut Lincoln dan Guba, paling sedikit ada empat standar atau kriteria utama guna menjamin keabsahan hasil penelitian kualitatif, yaitu:
  6. Standar Kredibilitas. Standar ini identik dengan validitas internal dalam penelitian kualitatif. Agar hasil penelitian kualitatif memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi sesuai dengan fakta di lapangan (informasi yang digali dari subyek atau partisipan yang diteliti), perlu dilakukan upaya-upaya berikut:
    • Memperpanjang keikutsertaan penelitian dalam proses pengumpulan data dilapangan. Hal ini mengingat karena dalam penelitian kualitatif, penelitian merupakan instrumen utama penelitian. Dengan semakin lamanya penelitian terlibat dalam pengumpulan data, akan semakin memungkinkan meningkatnya derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Persyaratan ini memberikan petunjuk bahwa dalam pengumpulan. Persyaratan ini memberikan petunjuk bahwa dalam pengumpulan data tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada enumerator, sebagaimana yang lazim dijumpai pada kebanyakan penelitian kualitatif. Yang tahu persis permasalahan yang diteliti adalah peneliti itu sendiri, bukan orang lain, termasuk enumerator.
    • Melakukan observasi secara terus-menerus dan sungguh-sungguh, sehingga penelitian semakin mendalami fenomena sosial yang diteliti seperti ada adanya. Teknik observasi boleh dikatakan merupakan keharusan dalam pelaksaan penelitian kualitatif. Hal ini disebabkan karena banyaknya fenomena sosial yang tersamar atau “kasat mata”, yang sulit terungkap bila mana hanya digali melalui wawancara.
    • Melakukan trigulasi, baik trigulasi metode (menggunakan lintas metode pengumpulan data), trigulasi sumber data (memiliki berbagai sumber data yang sesuai), dan trigulasi pengumpulan data (beberapa penelitian yang mengumpulkan data secara terpisah). Dengan teknik trigulasi ini memungkinkan diperoleh variasi informasi seluas-luasnya selengkap-lengkapnya.
    • Melibatkan teman sejawat (yang tidak ikut melakukan penelitian) untuk mendiskusikan, memberikan masukan, bahkan kritik mulai awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian (peer debriefing). Hal ini memang perlu dilakukan, mengingat keterbatasan kemampuan penelitian, yang diharapkan pada kompleksitas fenomena sosial yang diteliti.
    • Melakukan analisa atau kejadian kasus negatif, yang dapat dimanfaatkan sebagai kasus pembandingan atau bahkan sanggahan terhadap hasil penelitian. Dalam beberapa hal, kajian kasus negatif ini akan lebih mempertajam temuan penelitian.
    • Melacak kesesuaian dan kelangkapan hasil analisis data.
    • Mengecek bersama-sama dengan anggota penelitian yang terlibat dalam proses pengumpulan data, baik tentang data yang telah dikumpulkan, kategorisasi analisis, penafsiran dan kesimpulan hasil penelitian.
  7. Standar Transferabilitas. Standar ini merupakan modifikasi validitas eksternal dalam penelitian kualitatif. Pada prinsipnya, standar transferbilitas ini merupakan pertanyaan empirik yang tidak dapat dijawab oleh peneliti kualitatif itu sendiri, tetapi dijawab dan dinilai oleh para pembaca laporan penelitian. Hasil penelitian kualitatif memiliki standar transferbilitas yang tingggi bilamana para pembaca laporan laporan penelitan ini memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang konteks dan fokus penelitian.
  8. Standar Dependabilitas. Standar ini boleh dikatakan mirip dengan standar reliabilitas. Adanya pengecekan atau penilaian akan ketepatan peneliti dalam mengkonseptualisasikan apa yang diteliti merupakan cermin dari kematapan dan ketepatan menurut standar penelitian. Makin konsisten peneliti dalam keseluruhan proses penelitian baik dalam kegiatan pengumpulan data, interprestasi temuan maupun dalam melaporkan hasil penelitian, akan semakin memenuhi standar dependabilitas. Salah satu upaya untuk menilai dependabilitas adalah dengan melakukan audit (pemeriksaan) dependabilitas itu sendiri. Ini dapat dilakukan oleh auditor yang independen, dengna melakukan review terhadap seluruh hasil penelitian.
  9. Standar konfirmabilitas. Standar ini lebih terfokus pada audit (pemeriksaan) kualitas dan kepastian hasil penelitian, apa benar berasal dari pengumpulan data dilapangan. Audit konfirmabilitas ini biasanya dilakukan bersamaan dengan audit dependabilitas.

Selain keempat standar pokok di muka, ada sejumlah standar pelengkap yang patut diperhatikan dalam penelitian kualitatif, antara lain:
  1. Dilaksanakan dalam kondisi sewajar atau se alamiah mungkin.
  2. Memperlakukan orang-orang yang diteliti semanusiawi mungkin.
  3. Menjunjung tinggi perspektif emik partisipan.
  4. Pembahasan hasil penelitian selain bersifat deskriptif juga sintetis.
  5. Kelemahan dan keterbatasan penelitian tidak perlu disembunyikan, bahkan harus dikemukakan secara transparan.


Standar-standar validitas dan reliabilitas, khususnya yang spesifik untuk penelitian kualitatif sebagaimana disajikan di muka, dapat digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian kualitatif. Dengan memperhatikan standar-standar tersebut, maka kiranya tidak diragukan lagi eksistensi penelitian kualitatif sebagai salah satu jenis penelitian yang berpredikat penelitian ilmiah atau descriplined inquiry.






Sumber: Analisis Data Penelitian Kualitatif. Burhan Bungin.

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer