PENENTANGAN TERHADAP VOLUNTARISME, STRUKTURALISME, DAN BEHAVIORISME - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 06 Juli 2012

PENENTANGAN TERHADAP VOLUNTARISME, STRUKTURALISME, DAN BEHAVIORISME


Struktur menggunakan metode introspektif untuk menemukan elemen-elemen pemikiran. Di bawah pengaruh kesuksesan ilmu kimia dan fisika, mereka berusaha mengisolasi elemen-elemen pemikiran yang menghasilkan pengalaman mental yang kompleks. Strukturalis, misalnya, tertarik meneliti kesamaan mental dengan sensasi; jadi, mereka menyuruh subjek percobaannya untuk tidak menyebutkan nama sesuatu dan menyebutkan sesuatu dalam pengalaman mereka. Sebaliknya, mereka menyuruh  mendeskripsikan pengalaman mentah mereka. Strukturalis adalah asosiasinis karena mereka percaya bahwa ide-ide yang kompleks terdiri dari ide-ide sederhana yang dikombinasikan sesuai dengan hukum asosiasi. Perhatian utama mereka adalah untuk menemukan ide sederhana yang dianggap sebagai blok pembangunan pemikiran yang lebih kompleks.

Gerakan fungsionalis, dibawah pengaruh pemikiran Darwinian, mendapat momentum di Amerika dan mulai menentang Strukturalisme. Fungsionalis terutama memerhatikan bagaimana proses perilaku atau pemikiran manusia berhubungan dengan usaha bertahan hidup (Survival), dan mereka menyerang strukturalis yang mengabaikan pendekatan ini. Jadi, strukturalis dikritik bahkan sebelum behavioris muncul.

Behavioris berusaha untuk menjalankan psikologi benar-benar ilmiah, dan keilmiahan selalu membutuhkan ukuran. Mereka menyimpulkan bahwa benar-benar ilmiah, dan keilmiahan selalu membutuhkan ukuran. Mereka menyimpulkan bahwa satu-satunya pokok persoalan psikologi yang dapat diukur secara reliable dan jelas adalah perilaku yang tampak. Deskripsi elemen kesadaran, seperti yang dilakukan dalam voluntarisme adan strukturalisme, dianggap tidak reliabel karena ia dipengaruhi oleh, antara lain, kemampuan verbal si pelapor. Karena elemen itu hanya bisa diteliti secara tak langsung, maka behavioris menganggap kesadaran adalah materi yang meragukan bagi sains.

Psikologi Gestalt berpendapat bahwa voluntaris, strukturalis, dan behavioris semuana membuat kesalahan mendasar dalam menggunakan pendekatan elementistik ini. Mereka berusaha membagi pokok persoalan mereka menjadi elemen-elemen dalam rangka mendapatkan pemahaman, voluntaris dan strukturalis berusaha mencari ide-ide elemental yang berkombinasi untuk membentuk pemikiran yang kompleks, dab behavioris berusaha memahami perilaku yang kompleks dari segi kebiasaan, respons yang dikondisikan atau kombinasi stimulus respons.

Kaum Getaltis tidak melihat kesalahan dalam metode instropektif pada umumnya tetapi mereka menganggap voluntaris dan sturukturalis menyalahgunakannya. Alih-alih menggunakan metode instropektif untuk membagi pengalaman, seharusnya metode itu dipakai untuk meneliti keseluruhan pengalaman yang makna. Metode itu seharusnya dipakai untuk itu, maka ditemukan bahwa medan persepsi seseorang terdiri dari kejadian-kejadian yang diorganisasikan dan mengandung makna. Kejadian yang terorganisasi dan bermakan inilah diorganisasikan dan mengadung makna. Kejadian yang terorganisasi dan bermakna inilah yang oleh Gestaltis dianggap sebagai subjek yang seharusnya menjadi penelitian psikologi. Ketika Gestalten ini dibagi-bagi, mereka akan kehilangan maknanya. Maka dari itu, fenomena perceptual harus dipelajari secara langsung (istilah phenomenon berarti “sesuatu yang terberi”), maka psikologi Gestalt terkadang disebut phenomenology (fenomenologi). Seorang fenomenologis mempelajari kejadian mental yang utuh dan bermakna tanpa membagi-baginya menjadi unsure-unsur untuk dianalisis lebih lanjut. Dibawah ini adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan Gestalt dan behavioristik:

Gestalt
Behavioristik
Holistik
Atomistik, elemental
Molar
Molekular
Subjektif
Objektif
Nativistik
Empiristik
Kognitif, fenomenologis
Behavioral


Satuan-satuannya di daftar itu yang maknanya belum jelas adalah Molar dan Molekular. Secara umum, molar berarti besar dan molekular berarti kecil, tetapi, ketika mendesripsikan perilaku, moral behavior (perilaku molar) berarti satu segmen besar dari perilaku yang bertujuan, sedangkan molecular behavior (perilaku molekular) adalah segmen kecil dari perilaku, seperti reflex yang dikondisikan, yang diisolasi untuk dianalisis. Jelas yang disebut pertama lebih menarik bagi psikologis Gestalt ketimbang yang kedua.



Sumber: THEORIES OF LEARNING (Teori Belajar). Edisi Ketujuh. B. Rhergenhahn Matthew H. Olson. (Hal. 282 – 283)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer