HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU POLITIK - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 28 Juli 2012

HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU POLITIK


Ilmu perkembangan lain yang erat hubungan dengan psikologi ialah ilmu politik. Kegunaan psikologi, khususnya psikologi sosial dalam analisis politik, jelas dapat kita ketahui apabila kita sadar bahwa analisis sosial, politik secara makri diisi dan diperkuat analisis yang bersifat mikro. Psikologi sosial mengamati kegiatan manusia dari segi ekstern (lingkungan sosial, fisik, peristiwa – peristiwa, gerakan – gerakan massa) maupun dari segi interaksi (kesehatan fisik perorangan senagant, emosi).

Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peran penting dalam bidang politik, terutama yang dinamakan “massa psikologi”.

Justru karena prinsip – prinsip politik lebih luas daripada prinsip – prinsp hukum dan meliputi banyak hal yang berbeda di luar hukum dan masuk dalam yang lazim dinamakan “kebijaksanaan”, bagi para politik, sangat penting apabila mereka dapat menyelamu gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, dan golongan tertentu pada khususnya, bahkan juga dari oknum tertentu.

Kerap terdengar suata dalam masyarakat bahwa tindakan tertentu pemerintah dinyatakan “psikologis” kurang baik. Biasanya, suara seperti ini tidak dijelaskan lebih lanjut, dan orang-orang dianggap dapat menangkap apa yang dimaksudkan.

Selain memberi berbagai pandangan baru dalam penelitian mengenai kepemimpinan, psikologi sosial dapat pula menerangkan sikap dan reaksi kelompok terhadap keadaan yang dianggapnya baru, asing, ataupun berlawanan dengan konsentrasi masyarakat mengenai gejala sosial tertentu.

Psikologi sosial juga bisa menjelaskan bagaimana sikap (attitude) dan harapan (expectation) masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah laku yang berpegangan teguh pada tuntutan sosial (conformity).

Salah satu konsep psikologi sosial yang digunakan untuk menjelaskan perilaku untuk memilih pada pemilihan umum adalah berupa identifikasi partai. Konsep ini merujuk pada persepsi pemilih atau partai – partai yang ada atau keterikatan emosional pemilih terhadap partai tertentu.

Untuk memahami perilaku, bisa digunakan beberapa pendekatan. Namun selama ini, penjelasan teoritis tentang voting behavior didasarkan pada du model atau pendekatan, yaitu pendekatan sosiologi dan pendekatan psikologi (Asfar, 1996).

Dalam hal pendekatan psikologis, seperti namanya, pendekatan ini menggunakan dan mengembangkan konsep psikologi – terutama konsep sikap dan sosialisasi – untuk menjelaskan pilihan karena pengaruh kekuatan psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai produk dari proses sosialisasi. Mereka menjelaskan bahwa sikap seseorang – sebagai dalam mempengaruhi pemilih




Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm 66 -67)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer