Breaking News
Loading...
Kamis, 26 Juli 2012

MACAM – MACAM BERFIKIR


Secara besar, ada dua macam berpikir: berpikir autistik atau berpikir realistik (Rahmat, 1994: 69). Yang pertama mungkin lebih tepat disebut melamun. Contoh berpikir autistik antara lain mengkhayal, fantasi, atau wishful thingking. Dengan berpikir autistik, seseorang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar – gambar fantastik. Adapun berpikir realistik atau sering pula disebut reasoning (nalar), adalah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch (1967), seperti dikutip Rakhmat (1994 : 69), menyebut tiga macam berpikir realistik: dedukatif, induktif, evaluatif.

Apa yang dimaksud berpikir deduktif, berpikir induktif, dan berpikir evaluatif? Uraian berikut bisa memberi sedikit penjelasan.

Berpikir Deduktif
Deduktif merupakan sifat deduksi. Kata dedukdi berasal dari kata Latin deducere (de berarti “dari”, dan kata ducere berarti “mengantar”, memimpin”). Dengan demikian, kata deduksi yang diturunkan dari kata itu berarti “mengantar dari suatu hal ke hal lain”. Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduksi merupakan proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari proposisi yang sudah ada, menuju proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan (Keraf, 1994:57).

Reasoning yang deduktif berasal atau bersumber dari pandangan umum (general conclusion) waktu itu, bahwa matahari adalah suatu “heavenly body” yang tidak mungkin ada cirinya.

Meskipun cara ini kurang sempurna, tetap bermanfaat kalau deduksi ini didasarkan pada suatu perumusan yang betul. Dasar dari pelajaran ilmu pasti dan alam adalah demikian pula halnya. Dari suatu rumus umum, dapat ditarik berbagai kesimpulan. Mereka berpikir ini dapat juga disebut berpikir analisis (analisis thingking).

Dilihat dari prosesnya, berpikir deduktif berlangsung dari yang umum menuju yang khusus. Dalam cara berpikir ini, orang bertolak dari suatu teori, prinsip, atau kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ, ia menerapkannya pada fenomena – fenomena yang khusus, dan mengambil kesimpulan khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut. Jadi, untuk lebih jelasnya, berpikir deduktif adalah mengambil kesimpulan dari dua pertanyaan: yang pertama merupakan pertanyaaan umum. Dalam logika, ini disebut silogisme.

Contoh klasik yang biasa digunakan sebagai pejelasan adalah seperti contoh berikut:
Semua manusia akan mati (Kesimpulan umum)
Socrates adalah manusia (Kesimpulan khusus)
Jadi, Socrates akan mati (Kesimpulan deduksi)

Selain contoh di atas, ada pula semacam kesimpulan deduksi yang tidak bisa kita terima kebenarannya, yang disebut silogisme semu. Contohnya:
Semua manusia bernafas dengan paru – paru (Premis Mayor)
Kerbau bernafas dengan paru – paru (Premis Minor)
Jadi, kerbau adalah manusia (Kesimpulan yang Salah)

Contoh lain:
Semua anggota PKI bukan warga negara yang baik (premis Mayor)
Si Waru bukan seorang warga negara yang baik (Premis Minor)
Sebab itu, Si Waru seorang anggota PKI.

Berpikir Induktif
Induktif artinya bersifat induksi. Induksi adalah proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena – fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke proses penalaran induktif, proses penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir ilmiah. Namun, induksi tidak akan banyak manfaatnya jika tidak diikuti oleh proses berpikir yang pertama, yaitu deduksi, seperti telah kita bicarakan sebelumnya.

Berpikir induktif (induktive thingking) ialaha menarik suatu kesimpulanumum dari berbagai kejadian (data) yang ada di sekitarnya. Dasarnya adalah observasi. Proses berpikirnya adalah sintesis. Tingkatan berpikirnya adalah induktif. Jadi, jelas pemikiran semacam ini mendekatkan manusia pada ilmu pengetahuan.

Pada hakikatnya, semua pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari proses pengamatan (Observasi) terdapat data. Rangkuman pengamatan data tersebut kemudian memberikan pengertian terhadap kejadian berdasarkan reasoning yang bersifat sintetis (synthesis).

Dalam ilmu pasti dan alam, metode sintesis merupakan kelanjutan dari metode analisis. Sumber dari tingkatan berpikir ini berpikir ini berasal dari the philosophy of thingking”para ilmuwan pada waktu itu, seperti Galileo, Newton, dan Descartes.

Dalam ilmu statistik, dikenal istilah inductive statistics. Menaruk satu general conclusion dari data yang didapatkan dari suatu sampel, yang berlaku untuk seluruh populasi tempat sampel itu berasal, adalah contoh berpikir induktif. Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral (Effendy, 1981). Istilah lain yang sama maknanya ialah generalizing atau integral (Effendy, 1981).

Berikut ini adalah contoh berpikir induktif:
Seorang guru mengadakan eksperimen – eksperimen menanam biji – bijian bersama murid – muridnya, jagung ditanam, tumbuh ke atas; kacang tanah ditanam, di sebelah bawah, tumbuhnya ke atas pula; biji – biji yang lain demikian pula. Kesimpulannya: semua batang tanaman, tumbuhannya ke atas mencari sinar matahari.

Tepat atau  tidaknya kesimpulan (cara berpikir) yang diambil secara induktif ini terutama bergantung pada representatif atau tidaknya sampel yang diambil, yang mewakili fenomena keseluruhan. Makin besar jumlah sampel yang diambil makin representatif dan makin besar pula taraf validitasnya dari kesimpulan itu masih ditentukan pula oleh objektivitas dari si pengamat dan homogenitas dari fenomena – fenomena yang diselidiki (Purwanto, 1998:47 – 48).

Berpikir Evaluatif
Berpikir evaluatif ialah kritis, menilai baik  - buruknya, tepatnya atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatis, kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya menurut kriteria tertentu (Rakhmat.1994).

Perlu diingat bahwa jalannya berpikir pada dasarnya ditentukan oleh berbagai macam fokus. Suatu masalah yang sama, mungkin menimbulkan pemecahan yang berbeda – beda pula. Adapun faktor –faktor yang memengaruhi jalannya berpikir itu, antara lain, yaitu bagaimana seseorang melihat atau memahami masalah tersebut, situasi yang tengah dialami seseorang dan situasi luar yang dihadapi, pengalaman – pengalaman orang tersebut, serta bagaimana inteligensi orang itu.



Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm. 214 - 216)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Toggle Footer