PROSES PERCABANGAN MAKHLUK PRIMATA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 20 Juli 2012

PROSES PERCABANGAN MAKHLUK PRIMATA


Manusia merupakan suatu jenis makhluk cabang dari semacam makhluk primate yang telah melalui proses evolusi. Soal asal mula dan proses evolusi makhluk manusia itu secara khusus dipelajari dan teliti oleh suatu subilmu dari antorpologi biologi, yaitu ilmu paleoantropologi Ilmu tersebut meneliti fosil tubuh manusia yang terkandung dalam lapisan – lapisan bumi. Namun karena manusia yang hanya merupakan suatu cabang yang paling muda dari makhluk primate itu, maka soal asal mulanya dan proses evolusi tidak dapat dilepaskan dari seluruh proses dan proses evolusinya tidak dapat dilepaskan dari seluruh proses percabangan dari makhluk – makhluk primate pada umumnya. Walaupun masih terdapat banyak perbedaan pendapat antara para ahli paleoantopologi mengenai berbagai aspek dari proses percabangan itu, tetapi akhir – akhir ini mereka telah sepaham mengenai garis besar proses tersebut. Selain menganalisis data mengenai fosil – fosil kera dan manusia yang tersimpan dalam lapisan bumi, mereka juga mempergunakan data ilmu – ilmu lain seperti paleogeografi, paleoekologi, serta metode analisis potassium argon dari ilmu geologi.

Menurut penelitian paling akhir, makhluk pertama dari suku primata muncul di muka bumi sebagai suatu cabang dari makhluk mamalia (binatang menyusui) sudah kira – kira 70-juta tahun yang lalu, di dalam suatu zaman yang oleh para ahli geologi disebut Kala Puleosen bercabang lebih lanjut ke dalam berbagai subsuku dan infrasuku khusus, dan diantaranya telah terjadi proses percabangan antara keluarga kera – kera pangid (kera – kera besar) dari keluarga hominid yang merupakan anggota makhluk nenek moyang manusia. Rupa – rupanya telah terjadi paling sedikit lima proses percabangan. Percabangan yang tertua, timbul kira – kira 30-juta tahun yang lalu dala Kala Eosen Akhir, merupakan percabangan yang mengevolusikan kera gibbon (bylebatidae).

Cabang yang timbul kemudian, pada permulaan Kala Miosen kira – kira 20 juta tahun yang lalu, adalah kera pengopygmeus atau orang utan. Daerah asal orang tua adalah konon Afrika Timur yang ketika itu masih  menjadi satu dengan daerah Arab, hingga terletak lebih dekat pada Asia Selatan daripada sekarang Vegetasi di Afrika Timur waktu itu belum berupa sabana dengan gerombolan – gerombolan hutan yang jarang seperti halnya sekarang, tetapi masih tertutup hutan rimba, dan begitu juga Asia Selatan. Orangutan memang merupakan makhluk kera yang tinggal dipucuk – pucuk pohon besar dan tinggi, dan hidup dari buah – buahan besar, bebas dari gangguan makhluk pucuk – pucuk pohon – pohohn besar di daerah butan rimba di Asia Barat Daya, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara dalam jangka 1 – 2 juga tahun lamanya. Sementara itu, kira – kira pada bagian akhir Kala Miosen terjadi beberapa perubahan besar pada kulit bumi dan pada lingkungan alamnya. Benua Afrika membelah dari Asia sehingga terjadilah Laut Merah dan belahan bumi berupa lembah yang dalam, bernama Great Rift Valley, secara ekologi merupakan pemisahan alam yang membujur dari Utara ke Selatan Antara Afrika Barat dan Tengah dengan Afrika Timur. Proses perubahan besar lainnya adalah menyempitnya daerah hutan rimba di Afrika yang menyebabkan lingkungan alam Afrika Timur menjadi sabana, terjadinya gurun di daerah Arah, serta berkurangnya daerah hutan rimba di India. Kera Orangtua tadi tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan – perubahan besar dalam lingkungan alamnya sehingga menghilang dari Afrika, Asia Barat Daya, dan Asia Selatan, tetapi dapat bertahan di Asia Tenggara tempat hutan timba lebat masih ada. Sampai sekarang sisa Tenggara tempat hutan Rimba lebat masih ada. Sampai sekarang sisa – sisanya yang terakhir masih hidup di hutan rimba Kalimantan Barat dan Tengah.

Cabang ketiga adalah sejenis makhluk yang menurut perkiraan para ahli menjadi nenek moyang menusia. Penaacabangan ini terjadi kira – kira 10 juta tahun yang lalu pada bagian terakhir dari Kala Miosen. Fosil – fosil makhluk ini menunjukkan sifat yang lain daripada yang lain, yaitu ukuran badan raksasa yang jauh lebih besar daripada kera gorilla yang hidup sekarang. Fosil – fosil itu ditemukan di Bukti Siwalik di kaki Gunung Himalaya, dekat Simla (India Utara), di sebuah kedai jamu Cina di Hongkong,” dan di lembah Bengawan Solo di Jawa. Oleh para ahli memperkirakan bahwa kera – manusia raksasa ini juga hidup dalam kelompok – kelompok seperti halnya jenis – jenis kera besar lainnya, dan dengan demikian dapat tahan hidup, berkembang biak, dan seperti orangtuanya, juga menyebar dari Afrika ke Asia Selatan dan Tenggara. Namun, karena perubahan alam yang terjadi dalam bagian akhir Kala Miosen, maka seperti halnya dengan orangtua, keera manusia raksasa ini juga menghilang dari Afrika dan Asia Selatan dan hanya bertahan di Asia Tenggara, hingga akhirnya kandas juga di sana karena sebab – sebab yang belum dapat diketahui.

Cabang keempat adalah cabang – cabang kera pangid yang lain yaitu gorilla dan simpanse, terjadi kira – kira 12 juta yang lalu pada akhir Kala Miosen. Kedua makhluk kera dari Afrika ini dapat menyesuaikan diri dengan berevolusi mengembangkan organism yang dapat hidup di pohon maupun di darat. Percabangan khusus atau spesifikasi biologi antara gorilla dan simpanse terjadi karena perkembangan dari dua lingkungan ekologi yang khusus di Afrika Tengah tadi berlangsung evolusi organism dari kera gorilla, sedangkan di daerah hutan Afrika Barat berlansung evolusi organism dari simpanse.

Proses percabangan berikut, yang rupa – rupanya terjadi di Afrika Timur, timbul dari evolusi makhluk gigantanthropy sebelumnya kera – kera manusia raksasa itu menghilang dari Benua Afrika. Cabang inilah yang menurut para ahli akan berevolusi menjadi makhluk manusia. Makhluk yang akan menurunkan manusia ini berhasil menyesuaikan diri dengan proses menghilangnya hutan rimba di Afrika Timur dan proses timbulnya sabana – sabana teruka dengna hutan – hutan terbatas dan gelombang – gelombang berlukat tersebut di sana – sini. Makhluk yang seperti apakah nenek moyang manusia tersebut?




Sumber: Pengantar Ilmu Antropologi. Prof. Dr. Koentjaraningrat. (Hlm. 56 – 60)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer