PSIKOLOGI JOHN LOCKE (1632 – 1704 M) - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 05 Agustus 2012

PSIKOLOGI JOHN LOCKE (1632 – 1704 M)


Filsuf Inggris ini dilahirkan di Somersetshire, Bristol. Ayahnya adalah seorang sarjana hukum yang cukup disegani pada masanya. Ia belajar di Oxford. Dialah yang membangkitkan perhatiannya mengenai filsafat. Pikirannya banyak dipengaruhi oleh ahli  ilmu kimia, Boyle. Sebagai sekretaris kedutaan, John Locke bergaul dengan kalangan istana di Brandenburg.

Von Schmid (1980), dalam sebuah tulisannya menuturkan, pada 1672, Locke berkunjung ke Pracis. Di sini, ia menulis karangan utamanya mengenai pikiran manusia. Setelah kembali lagi ke Inggris, tahun 1679, ia terkena murka Charles II, sehingga ia melarikan diri ke Belanda. Di negeri yang baru ini, ia terus – menerus berpindah tempat karena takut diserahkan kepada pemerintah negerinya. Revolusi di Inggris pada 1688 memungkinkannya kembali ke sana. Karena persesuaian paham dengan Raja Stadhouder Willem III, hidup menjadi tentram dan terhormat. Karangan – karangannya yang sangat berpengaruh diterbitkan pada masa itu. Ia tinggal di Essex, sampai meninggalkannya tahun 1704.

John Locke banyak disebut – sebut sebagai seorang realis fisik (sebagai lawan dari immaterialisme Berkeley) dan bersama Berkeley dan Hume dipandang sebagai tiga empirisis Inggris terkemuka. Beberapa tema sentral Locke dalam epistemologi yang menjadi  pusat dan poros konsep – konsep, seperti tabula rasa; tidak ada ide bawaan; sensasi dan refleksi; kualitas primer dan sekunder; eksistensi hal – hal, substansi, dan materi yang nyata, serta objektif terlepas dari kesadaran. Diantara sekian banyak karyanya, dapat disebut: Essays Concerning Toleration (1666); Two Treatise on Government (1685); Essay Concerning Human Understanding (1690); Thought on Education (1693); dan The Reasionableness of Christianity as Delivered in the Sciptures (1695).

Dalam buku Essay Concerning Human Understanding,Locke (Dirgagunarsa, 1996: 19) mengemukakan bahwa kalau suatu benda dapat dianalisis sampai sekecil – kecilnya, demikian oleh Jarnes Mill yang terkenal dengan reductio ad absurdum. Jiwa manusia diibaratkan sebagai mental chemistry. Uraiannya yang terkenal dalam hubungan ini ialah mengenai ide – (idea). Dikatakannya bahwa unsur atau elemen terkecil dari jiwa manusia (human mind) ialah simple idea. James Mill berpendapat bahwa simple idea bukan sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu yang diperoleh. Sebab, apabila simple idea yang satu bergabung dengan simple idea yang lain, akan terbentuk apa yang disebutnya complex idea. Kemudian, apabila complex idea yang satu bergabung dengan commplex idea. Tergabungnya simple idea yang satu dengan simple idea yang lain, hanya mungkin terjadi oleh adanya asosiasi.

Siimple idea adalah ide – ide yang tidak dapat dipecah – pecah menjadi bagian – bagian komponennya lebih lanjut. Ide – ide tersebut tidak dapat direduksi, primitif, tak dapat dijelaskan, tidak bercampur (seperti marah, sakit, titik, suara, bau, dll), biasanya diasosiasikan dengan objek – objek yang dekat dengan persepsi kita. Ide – ide sederhana muncul (ada) dalam pikiran sebagai suatu kesatuan; pikiran sendiri tidak dapat membuat, membayangkan, menciptakan, atau membangunnya, tetapi membutuhkannya untuk menyimpannya dalam ingatan, memanggilnya kembali, membandingkan dan mengasosiasikannya dalam kombinasi baru yang tidak ditemukan dalam pengalaman kita tentangnya sebagai ide – ide sederhana (Tule, ed., 1995:149 – 150).

Dalam pandangan Locke, kita sering kali memiliki pandangan pengalaman mengenai ide – ide sederhana sebagai unit – unit yang terpisah, otonom, mandiri. Ide – ide sederhana, seperti yang ditemukan dalm rumpun terpadu dipecah – pecah oleh pikiran menjadi komponen –komponen unik. Sebagai contoh, pengalaman tentang sepotong logam panas menggambarkan ide – ide sederhana, seperti panas, keras, lembut. Beberapa ide sederhana, seperti panas, sentuhan, penglihatan, dan bau, hanya datang dari indra yang bersesuaian. Yang lainnya, seperti bentuk, ruang sosok, dan bilangan berasal dari indra – indra yang saling berbaut.

Complex ide adalah ide – ide yang dibangun menjadi kombinasi dari ide – ide yang sederhana. Ide – ide yang kompleks termasuk ide – ide abstrak, ide – ide umum, universalia, abstraksi – abstraksi, beberapa ide  tentang refleksi dan instropeksi dan lain – lain. Ide – ide kompleks terbagi menjadi (1) Mode – mode (2) relasi – relasi  (3) substansi. Kedua yang terakhir disebut mode – mode campuran; merupakan konstruksi mental tak beraturan dan tidak bersesuaian dengan entitas nyata. Sebuah mode yang sederhana merujuk pada bentuk – bentuk yang dapat diambil oleh sebuah kompleks untuk merujuk pada bentuk – bentuk yang dapat diambil oleh sebuah ide sederhana (seperti kesatuan, spasialitas); sedangkan sebuah pada bentuk – bentuk yang dapat diambil oleh sebuah ide sederhana (seperti kesatuan, spasialitas); sedangkan sebuah mode yang kompleks (seperti ide tentang bilangan atau jumlah). Relasi – relasi terdiri atas perbandingan (pengasosiasian, dll.), ide – ide (seperti kausa/efek, identitas/diversitas, ketunggalan/kemajemukan, tempat/waktu). Substansi merujuk pada pengenalan bahwa objek – objek eksternal senantiasa ada secara independen dari kesadaran yang mencakup (1) gagasan umum tentang substansi (materi, landasan fisik yang melatari(, (2) gagasan partikular tentang substansi – substansi , dan (3) gagasan kolektif tentang substansi – substansi (Tule, ed., 1995 : 149).

Dalam konsepnya tentang tabula rasa. Locke menyatakan, semua pengetahuan, tanggapan, dan perasaan jiwa manusia diperoleh karena pengalaman melalaui alat – alat indranya. Pada waktu manusia dilahirkan, jiwanya kosong bagaikan sehelai kertas putih yang tidak tertulis. Segala  -galanya yang tertulis pada helai kosong tadi akan tertulis oleh pengalaman – pengalaman sedari kecil melalui alat pancaindranya. Semua pergolakan jiwanya akan tersusun oleh pengalamannya(Gerungan, 1987 : 9).

Jadi, tabula rasa digaunakan oleh Locke sebagai metafor dalam menguraikan konsepnya tentang pikiran. Beberapa hal penting tentang konsep Locke ini dapat kita catat, antara lain:
  1. Pikiran sebelumnya lahir (atau pengalaman tertentu) adalah seperti sebuah lembaran (atau batu tulis atau selembaran kertas putih) yang koseong;
  2. Melalui rangsangan dari dunia luar, sensasi – sensasi ( ide – ide sederhana) tercatat pada lembaran itu;
  3. Aktivitas seperti itu merupakan sumber dan dasar seluruh pengetahuan dan pemikiran;
  4. Tidak ada ide – ide atau prinsip – prinsip bawaan sejak lahir;
  5. Pikiran adalah sebuah entitas pasif, sebuah wadah yang dapat menerima rangsangan, sensasi, ide, pengetahuan, tetapi tidak bisa mengkreasikanya sendiri.

Mengenai sensasi (sensation) dan refleksi (reflections), Locke menjelaskan bahwa semua perangsang – perangsang di luar manusia, misalnya: cahaya, suara, bau, manis, dsb; sedangkan refleksi adalah kesadaran atau pengetahuan tentang pengalaman sensasi tadi. Misalnya: melihat cahaya warna putih merupakan sebuah sensasi ; sedangkan bahwa kita sedang melihat cahaya putih merupakan suatu refleksi (Gerungan, 1987:9).

Jelasnya, Locke menyebut sensasi sebagai kualitas (kandungan) persepsi yang terdekat, seperti meja itu hijau, berat, dan besar; dan sesuatu yang diperoleh lewat pengindraan; sedangkan refleksi (ideas of reflection) adalah: (1) ide – ide yang kita miliki ketika mengintropeksi apa yang kita lakukan dalam aktivitas – aktivitas, seperti berpikir, berkehendak, meragukan, mendengar, menyentuh, melihat; dan (2) apa yang dipersepsi pikiran dalam kesadaran atau refleksi atas fungsi – fungsinya.

Akhirnya, Locke mengemukakan konsepnya tentang kualitas – kualitas. Singgih Dirgagunarsa (1996) menyebutkan sebagai “tiga doktrin dari John Locke”. Menurut Locke, segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita mempunyai beberapa kualitas, yakni (Dirgagunarsa, 1996:20 – 21):
  1. Kualitas primer, yaitu sifat khusus dari segala sesuatu yang ada dalam alam kita di luar kita. Dengan mengetahui kualitas primer dari suatu benda, kita dapat memperoleh kesan sifat khusus dari benda itu. John Locke menjelaskan doktrinnya ini dengan mengemukakan contoh sebutir gandum. Bilamana sebutir gandum kita potong, demikian menurut Locke, setiap potongan masih memiliki sifat khusus dari gandum tersebut; misalnya kerasnya putihnya, dan sebagainya. Kalau kita teruskan membelah potongan – potongan itu menjadi potongan – potongan yang lebih kecil, sifat – sifat khusus itu akan terdapat terus pada potongan – potongan yang lebih kecl tadi. Sampai pada potongan yang terkecil pun, sifat – sifat khusus dari gandum ini masih ada. Hasil pengamatan kita terjadap kualitas primer suatu benda akan menimbulkan simple idea tentang benda tersebut; misalnya tentang bentuknya, besarnya, kerasnya, warnanya,dan, sebagainya.
  2. Kualitas sekunder, yaitu tengara atau potensi dari suatu benda yang memungkinkan kita mengindrakan kualitas – kualitas primer benda tersebut. Tenaga atau potensi pada hakikatnya tidak terdapat di dalam bendanya sendiri, melainkan merupakan sesuatu yang berada dalam lingkungan sebagai hasil interkasi antara benda dan kita, sehingga kita dapat membendakan antara satu benda atau objek dan benda atau objeknya lainnya.
  3. Power, ialah kekuatan pada benda – benda atau objek – objek untuk mempengaruhi benda – benda atau objek – objek lain. Matahari, misalnya, mempunyai power untuk menimbulkan panas, sehingga dapat mencairkan logam; matahari bisa mempengaruhi logam dengan power-nya. Demikian juga tinta mempunyai power untuk mengubah kertas putih bersih menjadi bertulisan. Power ini sebenarnya tidak mempunyai sangkut – paut dengan terjadinya suatu ide. Ide mengenai suatu benda dalam jiwa seseorang disebabkan kualitas primer dan sekunder dari benda tersebut; sedangkan power dari suatu ide. Ide mengenai suatu benda dalam jiwa seseorang disebabkan kualitas primer dan sekunder dari benda lain, dalam arti mempengeruhi kualitas primer dan sekunder dari benda lain. Ide tentang benda yang mempunyai power dan sekunder dari benda lain. Ide tentang benda lain yang dipengaruhi power, bisa berubah karena primer dan sekunder pun berubah.





Sumber: Psikologi Umum. Drs. Alex Sobur, M. Si. (Hlm.82 – 85).



0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer