HUBUNGAN ANTARA LATAR BELAKANG KELUARGA DAN KINERJA ANAK - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 22 September 2012

HUBUNGAN ANTARA LATAR BELAKANG KELUARGA DAN KINERJA ANAK


Tahun 1977 penulis melakukan studi di Jakarta terhadap 128 siswa kelas enam SD dan 138 siswa SMP dan orangtua mereak untuk melihat hubungan antara beberapa perubahan lingkungankeluarga dan kinerja anak, termasuk inteligensi, kreativitas, dan prestasi belajar (Utami Munandar, 1977).

Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik dari studi ini adalah:
  1. Pada umumnya makin tinggi tingkat pendidikan orangtua, makin baik prestasi anak. Jika membandingkan prestasi anak yang ayahnya berpendidikan SLTA atau lebih tinggi dengan prestasi anak yang pendidikan ayahnya lebih rendah SLTA, maka pada tingkat SD tampak perbedaan yang nyata dalam skor kreativitas, inteligensi, daya ingatan, dan prestasi sekolah, tetapi pada tingkat SMP perbedaannya hanya bermakna dalam prestasi sekolah. Yang menarik adalah bahwa pendidikan ibu lebih jelas dan positif hubungannya dengan prestasi anak, daripada pendidikan ayahnya. Di SD maupun SMP kelompok anak yang pendidikan ibunya SLTA ke atas skornya nyata lebih tinggi pada kreativitas, inteligensi, dan prestasi sekolah, daripada kelompok anak yang pendidikan ibunya lebih rendah dari SLTA. 
  2. Bahasa apa yang dipakai di rumah, apakah Bahasa Indonesia, bahasa daerah, atau campuran, tidak tampak ada hubungan dengan kinerja anak. 
  3. Siswa sebagaiaman nyata dan kuesioner tergolong cukup rajin, 66% bekerja lebih dari satu jam sehari untuk membuat pekerjaan rumah. Pada umumnya tidak ada hubungan yang nyata antara jumlah waktu untuk membuat pekerjaan rumah dan kinerja anak. 
  4. Pada tingkat SD kecenderungannya adalah bahwa perhatian dan pengawasan orangtua terhadap pekerjaan rumah anak menunjukkan hubungan yang positif dengan kinerja anak, akan tetapi pada tingkat SMP, anak tidak memerlukan pengawasan orang tua untuk berprestasi baik. Bahkan tampak kecenderungan bahwa antara pengawasan yang ketat dan kinerja anak ada hubungan terbalik. 
  5. Sejauh mana keluarga mampu menyediakan fasilitas tertentu untuk naak (seperti berlangganan surat kabar, televisi, dan buku bacaan) menunjukkan hubungan yang positf dengan tingkat kinerja anak. 
  6. Mengenai kegiatan waktu senggang, ternyata bahwa membaca, bercakap – cakap dan bermain, mempunyai dampak yang lebih positif terhadap skor kreativitas daripada mendengarkan radio, melihat televisi, dan membantu orangtua dengan pekerjaan rumah tangga. 
  7. Sehubungan dengan sikap orangtua dan pendidikan, data menunjukkan bahwa perhatian merupakan faktor penentu yang positif dari kinerja kreatif seorang anak, akan tetapi bahwa pendekatan yang otoriter mempunyai dampak, sebaliknya terhadap kinerja anak. 
  8. Terlalu banyak ikut campur dari pihak orangtua, misalnya terhadap cara berbicara anak, minat anak terhadap membaca, dalam menentukan peraturan di rumah, tidak menghasilkan tingkat kinerja yang lebih tinggi pada kreativitas.

Hasil – hasil ini pada umumnya memperkuat teori – teori di mana kreativitas dikonsepsikan sebagai bertentangan dengna sifat otoriter (Gowan, 1967), bahwa kreativitas merupakan manifestasi dan aktualisasi diri individu yang berfungsi sepenuhnya (Maslow, 1962), dan bahwa kreativitas dapat berkembang dalam suasana nonotoriter yang memungkinkan individu untuk berpikir dan menyatakan dari scara bebas, dan di mana sumber dari pertimbangan evaluasi adalah internal (Rogers, dalam Vernon, 1982).

Sumber: Kreativitas & Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potendi Kreatif & Bakat. Prof Dr.S.C Utami Munandar. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. (Hal. 119 – 121)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer