Breaking News
Loading...
Selasa, 25 September 2012

HUKUMAN (PUNISHMENT) MENURUT SKINNER



Hukuman (punishment) menurut Burrhus Frederic Skinner, terjadi ketika suatu respons menghilangkan sesuatu yang positif dari situasi atau menambahkan sesuatu yang negatif. Dalam bahasa sehari – hari kita dapat mengatakan bahwa hukuman adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuatu yang tidak dinginkannya. Dalam masing – masing kasus, hasil dari responsnya akan menurunkan probabilitas terulangnya respons itu secara remporer. Skinner dan Thorndike memiliki pendapat yang sama soal efektivitas hukuman: hukuman tidak menurunkan peobabilitas respons. Walaupun hukuman; bisa menekan suatu respons selama hukuman itu diterapkan , namun hukuman tidak akan melemahkan kebiasaan Skinner (1971) mengatakan,

Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkkurang kemungkinannya mengulangi perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tak sederhana itu. Imbalan dan hukuman tidak berbeda hanya dalam arah perubahan yang ditambahkannya. Seorang anak yang dihukum berat karena bermain seks tidak selalu akan lebih kurang cenderung untuk berbuat lagi dan lelaki yang dipenjara karena melakukan kekerasan tidak selalu berkurang kemungkinannya melakukan kekerasan lagi. Perilaku yang dijatuhi hukuman tadi kemungkinan akan muncul kembali setelah kontigensi hukuman dicabut  atau selesai.

Percobaan yang menyebabkan Skinner sampai pada kesimpulan ini dilakukan oleh salah satu mahasiswanya, Estes (1944). Dua kelompo delapan tikus dilatih untuk menekan tuas dalam kotak Skinner. Setelah training, kedua kelompok itu diletakkan dalam proses pelenyapan respons. Respons satu kelompok dilenyapkan dengan cara reguler; yakni dengan cara makanannya tidak diberikan setelah tuas ditekan. Tikus di kelompok kedua, selain tak menerima makanan, mereka juga disetrum ketika menekan tuas. Tikus dikelompok ini disetrum rata – rata sembilan kali. Dilakukan tiga kali sesi pelenyapan respons, dan tikus  - tikus itu hanya disetrum pada sesi pertama. Kelompok yang dihukum (dengan setrum) memberi lebih sedikit respons selama sesi pelenyapan pertama ketimbang kelompok yang tidak dihukum. Jumlah respons yang muncul pada sesi kedua adalah sama untuk kedua kelompok yang tidak memberikan sedikit lebih banyak respons. Dari data dua sesi pertama, seseorang dapat menyimpulkan bahwa hukuman adalah efektif karena jumlah respons terhadap pelenyapan lebih rendah untuk kelompok yang menerima hukuman. Tetapi, selama sesi pelenyapan ketiga, kelompok yang dihukum memberikan lebih banyak respons ketimbang kelompok yang tak dihukum. Jadi, dalam jangka panjang jumlah respons kelompok yang dihukum akan sama dengan jumlah respons dari kelompok yang tak dihukum. Kesimpulannya adalah bahwa nonpenguatan (pelenyapan) sama efektifnya dalam melenyapkan kebiasaan dengan nonpenguatan plus hukuman.

Argumen utama Skinner yang menetang penggunaan hukuman adalah bahwa itu dalam jangka panjang tidak akan efektif. Tampak bahwa hukuman hanya menekan perilaku, dan ketika ancaman hukuman dihilangkan, tingkat perilaku akan kembali ke level semula. Jadi, hukuman sering kelihatannya sangat berhasil padahal ia sebenarnya hanya menghasilkan efek temporer. Argumen lain yang menentang hukuman adalah sebagai berikut.

  1. Hukuman menyebabkan efek samping emosional yang buruk. Organisme yang dihukum menjadi takut, dan ketakutan ini digeneralisasikan ke sejumlah stimuli yang terkait dengan stimuli yang ada saat hukuman diterapkan.
  2. 2. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan organisme, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Dibandingkan penguatan, hukuman tidak memberi informasi apapun kepada organisme. Penguatan mengidentifikasikan bahwa apa yang telah dilakukan adalah efektif dalam situasi tertentu, karenanya, tidak perlu ada pelajaran tambahan. Sering kali hukuman hanya memberi informasi bahwa respons yang dihukum itu adalah respons yang tidak akan melahirkan penguatan dalam situasi tertentu, dan karenanya dibutuhkan pelajaran tambahan untuk memberitahukan respons yang bisa melahirkan penguatan.
  3. Hukuman menjustifikasi tindakan menyakiti pihak lain. Hal ini juga berlaku dalam pengasuhan anak. Ketika anak dipukul, satu – satunya hal yang mereka pelajari adalah bahwa dalam situasi tertentu adalah diperbolehkan untuk menyakiti orang lain.
  4. Berada dalam situasi dimana perilaku yang dahulu kini dapat dilakukan tanpa mendapatkan hukuman lagi mungkin akan menyebabkan anak merasa diperbolehkan melakukannya lagi. Jadi, jika tidak ada agen yang menghukum, anak mungkin akan merobek kain, memecahkan kaca cendela, bersikap tidak hormat kepada orang yang lebih tua, memukuli anak yang lebih kecil dan sebagainya. Anak – anak ini telah belajar menekan perilaku ini ketika perilaku itu akan mendapatkan hukuman, tetapi ketika tidak ada agen atau pihak yang memberi hukuman, maka tidak ada lagi alasan untuk tidak melakukan perilaku tersebut.
  5. Hukuman akan menimbulkan agresi terhadap pelaku penghukum dan pihak lain. Hukuman menyebabkan organisme yang dihukum menjadi agresif, dan agresi ini mungkin menimbulkan problem tambahan. Misalnya, institusi penjara kita, yang menggunakan hukuman sebagai alat kontrol utama, dipenuhi oleh individu – individu yang agresif yang akan terus berlaku agresif selama hukuman atau ancaman hukuman dipakai untuk mengontrol perilaku mereka.


Hukuman sering mengganti respons yang tidak diinginkan dengan respons yang tak diinginkan lainnya. Misalnya, anak yang digampar karena nakal mungkin akan menangis. Orang yang dihukum karena mencuri mungkin akan menjadi agresif  dan melakukan kejahatan yang lebih besar jika ada kesempatan.

Dalam studi terhadap 379 ibu yang mengasuh anak – anaknya sejah lahir sampai taman kanak – kanak di suburban New England, Sears , Maccoby dan Levin (1957) menarik kesimpulan tentang efek relatif dari penekanan penguatan, yang berbeda dengan hukuman dalam pengasuhan anak:

Dalam diskusi kita tentang proses training, kami telah mempertentangkan hukuman dengan imbalan. Keduanya adalah teknik yang digunakan untuk mengubah kebiasaan anak. Apakah keduanya sama – sama baik? Jawabannya jelas “tidak”; namun jawaban ini mesti dipahami dalam konteks jenis hukuman yang bisa diukur dengan metode wawancara kami. Karena ini tak sama dengan percobaan dengan tikus putih dan burung dara di laboratorium, kami tidak bisa mengkaji efek hukuma terhadap beberapa perilaku yang terisolasi. Pengukuran hukuman yang kami lakukan mengacu pada Levels od Punitiveness di pihak ibu. Penghukuman yang berbeda dengan pemberian ganjaran atau imbalan, adalah cara yang tidak bagus dalam mendidik anak.

Bukti untuk kesimpulan ini cukup banyak. Efek buruk dari hukuman banyaka kami temukan dalam studi kami. Ibu yang memberi hukuman berat karena si anak salah dalam memakai toilet akan mendapati anak mereka suka ngompol. Ibu yang memberi hukuman pada anak yang manja pada akhirnya mendapati anak mereka lebih manja ketimbang anak dari ibu yang tidak memberi hukuman. Ibu yang memberi hukuman berat atas perilaku agresif pada akhirnya akan memiliki anak yang lebih agresif daripada ibu yang hanya memberi hukuman ringan. Hukuman fisik yang keras berkaitan dengan agresivitas anak yang tinggi dan problem makan. Evaluasi kami terhadap hukuman adalah bahwa dalam jangka panjang tidak efektif untuk menghilangkan jenis perilaku yang menjadi hukuman (Hal. 484)

Lalu, mengapa hukuman dipakai secara luas? Kata Skinner (1953), ini dikarenakan hukuman akan memperkuat si penghukum:

Hukuman yang berat jelas punya efek langsung dalam mengurangi tendensi untuk bertindak dengan cara tertentu. Hasil ini jelas menyebabkan hukuman dipakai secara luas. Kita “secara naluriah” menyerang siapa saja yang perilakunya tidak menyenangkan kita, mungkin bukan serangan fisik saja, tetapi bisa jadi dengan kritik, penolakan, penyalahan, atau ejekan. Efek segera dari praktik hukuman ini sudah cukup meyakinkan untuk menjelaskan kenapa hukuman kerap dipakai. Tetapi dalam jangka panjang, hukuman tidak benar – benar mengeliminasi perilaku, dan hasil temporer dari hukuman itu diperoleh dengan biaya besar yakni mereduksi keseluruhan efisiensi dan kesenangan satu kelompok. (Hal. 190)

Menarik untuk dicatat bahwa Skinner sendiri tidak pernah dihukum secara fisik oleh ayahnya, dan hanya sekali dihukum fisik oleh ibunya, yang mencuci mulutnya dengan sabun karena ia berkata jorok (Skinner, 1967, Hal 390).



Sumber: THEORIES OF LEARNING (Teori Belajar), Edisi Ketujuh. B. R. Hergenhahn. Mattahew H. Olson. (Hal. 198 – 101)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer