KEBUTUHAN OKSIGEN DI TEMPAT TINGGI DAN DI TEMPAT YANG RENDAH - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 02 September 2012

KEBUTUHAN OKSIGEN DI TEMPAT TINGGI DAN DI TEMPAT YANG RENDAH


Kita pasti pernah mendaki gunung atau berwisata ke daerah pegunungan? Di pegunungan udaranya sangat menyegarkan, tetapi semakin tinggi mendaki kita mulai merasa pusing. Detak jantung makin cepat dan kita hanya mampu berjalan lambat. Semua gejala  - gejala yang kamu rasakan itu disebabkan ketinggian gunung di atas permukaan laut.

Sindrom ketinggian atau hipoksia sering menyerang para pendaki gunung, atlet ski, penumpang balon terbang, dan turis – turis pengunjung tempat wisata, seperti Pegunungan Jaya Wijaya, Pegunungan Himalaya, dan Pegunungan Andes. Hipoksis di akibatkan berkurangnya jumlah oksigen yang masuk ke dalam tubuh seseorang. Meskipun atmosfer bumi memiliki persentase oksigen yang sama pada setiap tingkatan ketinggiannya, tetapi udara menjadi renggang dan tekanan udara menjadi rendah di tempat – tempat yang relatif tinggi. Akibatnya hanya sedikit oksigen yang masuk ke dalam paru – paru, darah, dan sel – sel tubuh. Untuk mengatasi kekurangan  oksigen itu biasanya orang bernapas lebih cepat dan lebih dalam dari biasanya.

Orang – orang yang tinggi di tempat – tempat yang tinggi telah beradaptasi dnegna tekanan udara yang rendah. Misalnya, penduduk asli Indian Aymara dan Quechua yang tinggal di Pegunungan Andes mempunyai dada yang lebar, sekat rongga badan yang kuat, dan sepasang paru – paru yang besar yang memiliki kapasitas lebih besar di bandingkan paru – paru orang yang hidup di tempat yang lebih rendah. Indian Aymara dan Quechan juga mempunyai lebih banyak pembuluh pakiler, di sekitar gelombang parau – paru mereka, jantung yang lebih besar dan sel = sel merah yang lebih banyak. Seluruh proses adaptasi tersebut membantu penyaluran oksigen ke sel dan jaringan – jaringan tubuh mereka.

Sebaliknya manusia pun tidak dapat hidup normal di daerah yang sangat rendah, misalnya di bawah permukaan laut.

Ada beberapa faktor yang merintangi kemampuan manusia dalam melakukan pekerjaannya di bawah air. Pertama, paru – paru manusia hanya dapat berfungsi di daratan. Faktor kedua berkaitan dengna jumlah tekanan udara yang digunakan dalam tubuh manusia. Tubuh manusia hanya dapat berfungsi di ketinggiannya setara dengan tinggi permukaan laut. Pada ketinggian tersebut, masaa udara di atmosfer menakan tubuh manusia sebesar 1 atmosfer. Dalam kondisi tersebut manusia dapat bernapas dengan kecepatan normal dan tanpa perlu usaha keras. Ketika manusia menyelam ke dalam laut, massa air menaikkan tekanan pada tubuh mereka. Tekanan tersebut meningkat sebesar 2 atmosfer pada kedalaman 10 meter dan 3 armosfer pada kedalaman 20 meter. Peningkatan tekanan udara seperti itu akan menyulitkan manusia bernapas dan memompa oksigen ke dalam paru  -parunya.

Perlatan scuba memungkinkan manusia dapat bernapas di bawah tekanan udara yang meningkat. Peralatan scuba terdiri dari sebuah tabung berisi udara yang telah dipadatkan dan sebuah regulatornya pengaturan kebutuhan udar. Dengan menggunakan alat ini, udara dikirim dari tabung ke paru – paru pada tekanan yang sama dengan tekanan udara di sekitarnya saat kita menarik napas. Sebalinya, saat kita menghembuskan uapan, udara dilepaskan melalui regulator. Dengan scuba manusia dapat bernapas dengan mudah sambil menjelajahi daerah yang mengagumkan di bawah laut.




Sumber: Biologi. Sumarwan. Sumartini, Kusmayadi. (Hlm. 12 – 14)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer