PERAN INTELIGENSI DAN KREATIVITAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Minggu, 07 Oktober 2012

PERAN INTELIGENSI DAN KREATIVITAS TERHADAP PRESTASI BELAJAR

08.30

Masalah dimensional kreativitas dan inteligensi dalam pendidikan adalah masalah peranan aktivitas dan inteligensi dalam prestasi di sekolah. Makin banyak peneliti yang menyibukkkan diri dengan masalah tersebut dan bagaimana implikasinya terhadap pendidikan.

Torrance (1959), Getzels dan Jackson (1962), Yamamoto (1964)berdasarkan pada studi masing – masing sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa kelompok siswa yang kreativitasnya tinggi tidak berada dalam prestasi sekolah dari kelompok siswa yang inteligensinya relatif lebih tinggi. Torrance mengajukan hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi hipotesis bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas dari subjek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan kekuatan dalam daya ingatan dan faktor – faktor lain yang diukur oleh tes inteligensi tradisional. Penelitian Utama Munandar (1977) terhadap siswa SD dan SMP menunjukkan bahwa kreativitas sama absahnya seperti inteligensi sebagai prediktor prestasi sekolah. Jika efek inteligensi dieliminasi, hubungan antara kreativitas dan prestasi sekolah tetap dieliminasi, hubungan antara kreativitas dan prestasi sekolah tetap subtansial. Adapun kombinasi dari inteligensi dan kreativitas lebih efektif lagi sebagai prediktor prestasi seklah daripada masing - masing ukuran sendiri. Implikasinya terhadap pendidikan adalah bahwa untuk tujuan seleksi dan identifikasi bakat sebaiknya menggunakan kombinasi dari tes inteligensi dan tes kreativitas.

Milgram (1990) menekankan bahwa inteligensi atau IQ semata – mata tidak dapat meramalkan kreativitas dalam kehidupan nyata. Demikian pula tes kreativitas sendiri.

Menurut Cropley (1994) true giftedness (keberbakatan sejati) merupakan gabungan antara kemampuan konvensional (ingatan baik, berpikir logis, pengetahuan faktual, kecermatan, dan sebagainya) dan kemampuan kreatif (menciptakan gagasan, mengenal kemungkinan alternatif, melihat kombinasi yang tidak diduga, memiliki keberanian untuk mecoba sesuatu yang tidak lazim, dan sebagainya).

Lepas dari soal menjelaskan hubungan antara inteligensi dan kreativitas serta kemungkinan penggunaannya  sebagai peramal (prediktor) dari keberhasilan di sekolah, studi – studi semacam ini sekaligus memberikan informasi mengenai kualitas sistem pendidikan. Dengan mengetahui hubungan antara kreativitas, inteligensi dan ingatan dengan prestasi belajar serta bagaimana  sumbangan relatif masing – masing  terhadap keberhasilan di sekolah, kita dapat menarik kesimpulan mengenai corak dan tujuan sistem pendidikan tersebut, inilah yang disebut diagnostik terbaik (inverted diagnostics) oleh Hofstee (1969). Dalam hal ini hubungan antara tes (kreativitas, inteligensi, dan ingatan) dan kriteria (prestasi sekolah) menginformasikan kualitas sistem pendidikan. Jika misalnya pada suatu sekolah prestasi belajar berkorelasi paling tinggi dengan tes ingatan daripada dengan tes inteligensi atau tes kreativitas, ini tidak berarti bahwa tes ingatan merupakan peramal yang paling baik bagi prestasi sekolah, tetapi bahwa agaknya pada sekolah tersebut ingatan mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada inteligensi dan kreativitas. Oleh karena itu, baik dalam assessment siswa maupun penilaian sistem pendidikan sebaiknya digunakan berbagai tes yang mempunyai arti psikologis yang bermakna dan yang cukup beragam, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai sejauh mana sasaran pendidikan tercapai dan mengenai kualitas sistem pendidikan.

Perlu dicatat bahwa akhir – akhir ini di Indonesia tampak peningkatan penggunaan tes kreativitas baik dalam bidang pendidikan untuk seleksi penerimaan siswa, calon mahasiswa dan calon guru maupun dalam perusahaan  - seleksi karyawan, staf, dan manajer.



Sumber: THEORIES OF LEARNING (Teori Belajar), Edisi Ketujuh. B. R. Hergenhahn. Mattahew H. Olson. (Hal. 10 – 11).

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer