BUDAYA DAN INDIGENOUS PERSONALITY - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Jumat, 11 Juli 2014

BUDAYA DAN INDIGENOUS PERSONALITY

Kumpulan MateriBerbagai persoalan yang muncul dalam kajian kepribadian dalam tinjauan lintas budaya di atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa tepatnya kepribadian itu. Suatu kenyataan yang merangsang perlunya kajian – kajian yang bersifat local yang mampu member penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam. Suatu kajian kepribadian yang bersifat local atau indigenous personality. Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tertentu tersebut.

Sebagai contoh kajian indigenous personality adalah penelitian yang dilakukan Doi (1973) di Jepang. Doi menemukan adanya Amae yang dikatakan sebagai inti konsep dari kepribadian orang – orang Jepang. Amae berakar dari kata “manis”, dan secara perlahan dirujukkan sebagai sifat pasif, ketergantungan antar individu. Dipaparkan pula bahwa amae berakar pada hubungan antara bayi dengan ibunya. Menurut Doi, relationship seluruh orang Jepang dipengaruhi dan berkarakteristik amae, sebagaimana amae ini secara mendasar mempengaruhi budaya dan kepribadian secara bagian tak terpisah dari konsep hubungan social.

Temuan Amae di atas menunjukkan adanya perbedaan konsep kepribadian antara orang Jepang dengan orang Amerika. Para Psikolog Amerika memandang bahwa yang menjadi inti dari kepribadian adalah konsep Ego, Ego disebut eksekutif kepribadian, karena Ego mengontrol pintu – pintu kearah tindakan, memilih segi – segi lingkungan kemana ia dan bagaimana cara (Freud dalam Hall, 1993). Sedangkan Erickson (Dalam Hall, 1993) member tambahan bahwa Ego dalam menjalankan fungsinya memiliki kuasa mengontrol proses – proses kognitif berupa persepsi, memori, dan berpikir. Tujuan terpenting dari Ego adalah mempertahankan kehidupan individu dan memperhatikan bahwa spesies berkembang baik. Konsep yang memandang kepribadian sebagai suatu yang bersifat otonom individual.

Di Indonesia sendiri kajian mengenai indigenous personality telah diawali oleh Darmanto Jatman (1997). Dalam bukunya Psikologi Jawa, Jatman menemukan adanya profil kepribadian manusia Jawa yang memandang jiwanya adalah sebagai rasa. Rasa ini terbagi atas tiga, yaitu: rasa subyek, rasa obyek, dan rasa pertemuan subyek – obyek. Ketiganya dilahirkan oleh rasa yaitu rasa hidup. Selanjutnya dalam proses perjalanannya, manusia Jawa membuat catatan – catatan dari pengalamannya bertemua dengan kenyataan – kenyataan. Catatan – catatan ini hidup, makin banyak, makin beragam, mengelompokkandiri sesuai jenis – jenisnya dan pada akhirnya memunculkan rasa aku. Tampak disini sebagai kepribadian bersifat konstekstual tanpa henti.

Konsep ini tampak mirip dengan konsep India mengenai Jiva (Paranjpe, Berry, 1999) yang terdiri dari lima lapis dimana lapisan terdalam adalah apa yang disebut Atman, suatu asas eternal sebagai representasi Yang Esa. Konsep ii melihat diri sebagai konsep mikro adalah tidak lepas dari konsep makro yaitu Sang Esa. Penguasaan dan pengendalian terhadap pikiran untuk membuat tertuju pada satu obyek, dengan pengalihkan indera dari obyek – obyek kenikmatan (badaniah) dan bertahan dalam penderitaan merupakan satu – satunya jalan mencapai diri terdalam. Sebuah konsep yang bertolak dengan konsep kebutuhan Maslow, bahwa untuk mencapai aktualisasi diri maka pemenuhan terlebih dahulu kebutuhan – kebutuhan di bawahnya terutama kebutuhan dasar (biologis) merupakan suatu syarat mutlak. Konsepsi barat tentang diri dan sifat kepribadian selalu merujuk pada diri yang terpisah, otonom, dan atomis (terbentuk dari seperangkat sifat, kemampuan, nilai dan motif yang dapat saling dipilah) dengan mencari keunikan yang menunjukkan arti keterpisahan dan keraktergantungan dengna orang lain. Sebaliknya dalam budaya ketergantungan (Interdependency) merupakan landasan konsep diri yang tak terpisah dan selalu terkait dengan orang lain dan lingkungan luar. Pribadi dilihat sebagai sebuah “keseluruhan” (holistic) dari individu dengan unit sosialnya.




Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi. (Hal 65 – 66)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer