BUDAYA DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Sabtu, 12 Juli 2014

BUDAYA DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Kumpulan MateriKepribadian manusia selalu berubah dari sepanjang hidupnya dari arah – arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perubahan – perubahan tersebut sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsi – fungsi bawaan sebagai sadarnya. Stern (dalam Saffer, 1985) menyebutnya sebagai Rubber Band Hypothesis (Hipotesis ban karet). Predisposisi seseorang diumpamakan sebagai ban karet dimana faktor – faktor lingkungan menentukan sampai seberapa panjang ban karet tadi akan diratik atau direntangkan. Dari hipotesis di atas tentunya dapat ditarik hipotesis lanjutan bahwa bahwa adanya member pengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang. Perubahan – perubahan yang terjadi pada seorang Amerika ketika beranjak dewasa tentunya sangat berbeda dengan perubahan – perubahan yang terjadi pada laki – laki yang bukan berasald ari Amerika ketika beranjak dewasa.

Hasil penelitian ternyata menunjukkan temuan yang berbeda. Perdebatan diawali oleh Gutman (1976, dalam Price, 2002) yang menyatakan bahwa sesungguhnya ada sebuah keurutan (sequence) yang universal dalam perkembangan kepribadian manusia. Ia mengidentifikasi tiga tahapan yang dialami lelaki Amerika dalam arah kedewasaannya. Dalam setiap tahap, individu melihat diri mereka dan dunia mereka dengan cara dan dalam pandangan yang berbeda, memiliki dorongan – dorongan (Drives) yang setiap tahapnya juga berbeda, dan begitu pula dengan gaya pertahanan dirinya. Secara tipikal, dari usia 40 tahun hingga 54 tahun, seorang individu akan memusatkan perhatian pada dirinya sebagai pengontrol dunianya. Selama periode ini ia bekerja keras untuk memandirian dan prestasi yang labih tinggi khususnya di tempat kerja dan lingkungan sosialnya. Tahap kedua, dari usia 55 tahun hingga 70 tahun, individu berubah lebih akomodatif terhadap dunia. Ia mencoba menerima dunia sebagai apa adanya. Ia menyadari bahwa mengubah dirinya adalah lebih penting daripada mengubah dunia. Dalam tahap ini motivasi prestasi dari kebutuhannya akan otonomi menurun. Terakhir, setelah usia 70 tahun, individu lebih banyak menggunakan strategi pertahanan regresi semacam denial ataupun proyeksi untuk memelihara dan menjaga harga diri dan perasaan kemanannya.

Untuk membuktikan keyakinannya, Gutman melakukan perbadingan studi pada orang – orang dewasa dari Indian Maya Meksiko. Ia mengambil subyek dari lelaki dewasa dari suku ini, yang usianya berkisar antara 30 hingga 90 tahun. Gutman menfokuskan penelitiannya pada pandangan para responden mengenai masa depan dan bagaimana peran seharusnya dari seorang tua.

Pertanyaan yang diajukan adalah apakah yang membuat mereka bahagia. Ditemukan adanya perbedaaan jawaban ditinjau dari perbedaan rentang usia. Responden yang berusia di atas 50 tahun tampak lebih pasif dibandingkan responden yang berusia di bawah 50 tahun. Para responden yang berusia lebih dari 50 tahun memandang kebahagiaan sebagai sesuatu yang indah, mengunjungi teman dan keluarga, mendengarkan music, tidak sakit, dan tidak memiliki masalah. Sebaliknya, reponden yang lebih muda memberikan jawaban yang selalu terkait dengan kerja dan prestasi. Kesehatan tubuh hingga bisa bekerja, cuaca yang membantu hingga panen bisa berhasil. Ketika diajukan pertanyaaan apa yang mereka khawatirkan di esok hari, responden yang lebih tua lebih mengkhawatirkan kesehatannya, keluarga, dan makanan. Gutman juga menanyatakan, bila mereka tidak bahagia apa yang mereka lakukan untuk membuat bahagia kembali. Terkait dengan jawaban sebelumnya, responden yang lebih muda umumnya memberikan jawaban yang arahnya pada usaha diri untuk melakukan evaluasi kembali kerja mereka dan beruaha lebih keras. Sebaliknya, reposnden yang lebih tua memberikan jawaban yang selalu terkait dengan kerja dan prestasi; kesehatan tubuh hingga bisa bekerja, cuaca yang bisa membantu hingga panen bisa berhasil. Ketika diajukan pertanyaan apa yang mereka khawatirkan diesok hari, responden yang lebih muda mengkhawatirkan kondisi pasar atau kegagalan panen, sedangkan responden yang lebih tua lebih mengkhawarikan kesehatan, keluarga, dan makanan. Gutman juga menanyakan; bila mereka tidak berbahagia apa yang membuat mereka bahagia kembali. Terkait dengan jawaban sebelumnya, responden yang lebih muda memberikan jawaban yang arahnya pada pencarian pertolongan; semacam pergi ke Bunda Maria, Dokter, ataupun mencukupi kembali kebutuhan obat dan makanan. Terakhir, Gutman membolehkan responden untuk mengajukan pertanyaan pada peneliti. Hal ini dilakukan untuk melihat perbedaan tipe yang lebih muda mengajukan pertanyaan yang lebih obyektif, semacam pekerjaan interviewer, gajinya, dan pelatihan untuk bisa menjadi interviewer. Reponden yang lebih tua menanyakan mengapa interviewer menanyakan pertanyaan – pertanyaan semacam itu dan siapa saja yang akan mendengar rekaman wawancara yang telah dilakukan.

Kesimpulan umum ditarik Gutman dari serangkaian penelitiannya adalah adanya perubahan – perubahan kepribadian ditinjau dari semakin bertambahnya usia dimana perubahan – perubahan tersebut ditemukan sama antara responden Amerika dengan responden Indian Maya. Semakin bertambah tua seseorang, tampak semakin pasif, motivasi berprestasi dan kebutuhan otonomi semakin turun, dan locus of control dirinya semakin mengarah ke luar (eksternal) (Price, 2002).







Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 64 – 65)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer