PERSAMAAN DAN PERBEDAAN BUDAYA DALAM PERKEMBANGAN MOTORIK - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 23 Juli 2014

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN BUDAYA DALAM PERKEMBANGAN MOTORIK

Kumpulan Materi Kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan motorik anak terutama yang berkaitan dengan keaktifan gerak anak. Di sebuah rumah sakit di New Mexico, Kluckhorn mengadakan penelitian pada kedua bayi, yakni bayi – bayi Amerika dan bayi – bayi Suku Indian Zuni. Kedua bayi itu dipilih diantara bayi – bayi yang lahir di rumah sakit tersebut yang dinilai sama keaktifan geraknya, yakni semuanya “sangat aktif”. Dan tahun kemudian dua kelompok bayi yang sangat aktif ini dibandingkan, dan ternyata kelompok bayi suku Indian Zuni itu kalah aktifnya dengan kelompok bayi Amerika. Khuckhorn menyimpulkan bahwa keaktifan gerak selanjutnya dari bayi – bayi suku Indian Zuni itu dipengaruhi oleh kebudayaan Zuni yang menekankan kekaleman dan pembatasan diri, dan sedikit banyak cara hidup demikian ini telah disampaikan oleh orang tua semakin mengasuhnya.

Harus kita bedakan disini antara keaktifan gerak dan perkembangan gerak. Keaktifan gerak hanyalah semata – mata banyak sedikitnya gerak, sedangkan perkembangan gerak ialah perkembangan pengendalian dan koordinasi otot – otot yang diperlakukan untuk mendapatkan kecakapan gerak.

Kalau keaktifan gerak dipengaruhi oleh kebudayaan, sebaliknya perkembangan gerak hamper tidak terpengaruh oleh kebudayaan. Hal ini ditunjukkan oleh Dennis (dikutip dari Yapsir Gandi Wirawan, 1994) pada penelitiannya yang terkenal pada dua kelompok anak suku Indian Hopi. Kelompok yang satu terdiri dari bayi – bayi Hopi yang diasuh oleh orang tua mereka seperti cara orang – orang Amerika mengasuhnya, yakni diberi kebebasan bergerak sepenuhnya. Kelompok yang lain terdiri dari bayi – bayi Hopi yang beberapa saat setelah lahir dibalut kain erat – erat, mirip gedungan bayi – bayi di Jawa, hingga baik lengan maupunya kakinya sedikit sekali dapat bergerak, dan diikat pada papan kayi kecil hingga mudah dibawa kian kemari di belakang punggung ibu mereka. Pada tiga bulan pertama gedungan ini dlakukan terus – menerus, kecuali untuk waktu kira – kira sejam sehari, yakni pada waktu baui itu dimandikan, gedungan itu dilepas. Pada bulan – bulan berikutnya sampai si bayi berumur enam bulan hingga satu tahun, penggendungan ini masih juga dilakukan.

Beberapa studi lain juga menemukan bahwa rendahnya tingkat rangsangan dan terbatasnya hubungan dengan ibu (penjagaan bayi dengan tenang) secara perlahan berkaitan dengan perkembangan  motorik yang relative lebih lambat di Mexico Selatan, Guatemala dan Jepang (Braselton, Robey & Coller, 1958, Kagen dan Kelin, 1973).



Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 77 – 78)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer