PERILAKU KOOPERATIF, KOMPETITIF DAN NEGOSIASI SECARA LINTAS BUDAYA - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Selasa, 05 Agustus 2014

PERILAKU KOOPERATIF, KOMPETITIF DAN NEGOSIASI SECARA LINTAS BUDAYA

Kumpulan MateriStudi – studi lintas budaya ada umumnya menunjukkan bahwa anak – anak Amerika lebih tidak kooperatif dibandingkan dengan anak – anak Asia . bahkan Betlehem (1975) menemukan bahwa pembaratan (westernisasi) akan meningkatkan kompetisi hasil penelitian Cox , Lobel dan McLeod (1991) juga menemukan bahwa pelajaran Inggris lebih kompetitif daripada orang Amerika keturunan Spanyol, Kulit hitam dan Asia.

Usaha untuk memahami negosiasi secara lebih sistematis dalam budaya – budaya yang berbeda menuntut kita untuk lebih mengacu pada konsep individualisme dan kolektivitsme. Ssuatu yang diharapkan dalam budaya individualism, negosiastor semestinya melihat cara negosiator sebagai prioritas utama mencapai kesepakatan atau persetujuan yang mendasar paa tuntutan – tuntutan yang logis dari tugas yang diselesaikan pada waktu itu. Sebaliknya dalam budaya koletif negosiasi dititikberatkan pada kelanjutan harmoni seterusnya dalam hubungan mereka dengan kelompok lain. Hal ini bukan berarti orang – orang ari budaya kolektif akan lebih baik hati degan pihak lain yang diajak bernegosiasi. Kita telah melihat sebelumnya bahwa ada kemungkinan mereka yang memiliki nilai interdependensi akan sama – saa kompetitif sebagaimana mereka yang memiliki nilai independen ketika berhadapan dengan anggota – anggota out – group. Studi yang dilakukan oleh Leung dan Bond(1984) menemukan bahwa meskipun orang – orang Cina cenderung mengobankan perolehanpribadi mereka untuk membantu anggota – anggota dalam kelompok mereka dan sedikit lebih menunjukkan perilaku berselisih/bertengkar dengan anggota – anggota in – group, namun mereka lebih menunjukkan perilaku berselisih/bertengkar dengan anggota – anggota out – group, dibandingkan orang – orang Amerika. Sementara orang – orang Amerika menunjukkan perilaku tak berbeda dalam in – group maupun out – group. Studi berikutnya yang dilakukan Chan , Triandis, Carnavela, Tam, dan Bond (1997) juga mnunjukkan bahwa masyarakat yang orientasinya kolektif lebih sensitive terhadap bentuk hubungan atau dengan orang siapa mereka bernegosiasi, dimana subjek Hongkong menunjukkan kerjasama yang lebih besar dengan teman sendiri dan kurang kerjasama dengan orang asing dibandingkan subjek Amerika.

Penelitian akhir – akhir ini oleh Probst dan Triandis (2000) dengan menggunakan permainan dilemma social (suatu situasi dimana orang – orang saling bergantung dan menghadapi suatu pilihan diantara minat kerjasama dan minat tak kerjasama/kompetitif), menemukan bahwa masyarakat yang memiliki orientasi nilai vertical collective menunjukkan perilaku paling kooperatif dalam situasi dilema antar kelompok- dimana kerugian kelompok lain mengakibatkan hasil kelompoknya sendiri maksimal. Sementara masyarakat yang orientasi nilainya vertical individualistic menunjukkan perilaku paling tidak kooperatif dalam situasi dilema kelompok tunggal, tetapi lebih kooperatif dalam situasi dilema antar kelompok – dimana kerjasama dengan kelompok memaksimalkan hasil pribadi.

Demikian pula dalam budaya kolektif, orang akan lebih menyukai metode negosiasi yang dapat memelihara keselarasan hubungan itu. Sehingga, misalnya mereka mungkin menyukai komunikasi tidak langsung atau menggunakan penengah (mediasi) daripada menggunakan argumentasi terbuka atau prosedur melawan.

Poret (1970) membandingkan model bargaining pada orang Inggris, Swedia, Demark, Switzerland dan Spanyol dan menemukan bahwa metode adversarial lebih digunakan oleh orang inggris dan Swedia. Sementara orang Spanyol jarang menggunakan metode ini, Cummings (1980) menemukan bahwa pembeli dari orang – orang yang memiliki budaya kolektif seperti Thailand dan Jepang lebih cenderung membagi keuntungan setara diantara pembeli dan penjual, karena mereka mengharapkan yang lebih lama dengan penjualnya.




Sumber: PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA. EdisiRevisi. TriaDayakisni. SalisYuniardi (Hal 126)

0 komentar:

Poskan Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer